Pemprov Jatim, Bhirawa – Evan Setiawan, pemilik Healthy Catering, membuka mata puluhan peserta pelatihan Dharma Wanita Persatuan Provinsi Jawa Timur (DWP Jatim) terhadap satu peluang praktis yang selama ini sering dianggap sulit, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) gratis untuk menjalankan dan mengembangkan bisnis makanan rumahan.
Dalam acara Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Melalui Healthy Meal Prep yang berlangsung di Ruang Hayam Wuruk, Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan 110, Surabaya, Selasa (18/8/2026), Evan menunjukkan langkah-langkah konkret dari penghitungan bahan hingga pembuatan konten pemasaran yang bisa langsung dipraktekkan oleh ibu-ibu rumah tangga.
Evan membuka sesi dengan masalah operasional yang familiar bagi pelaku usaha makanan: penyusutan berat bahan saat dimasak dan ketidakpastian perhitungan porsi. “Jangan dilihat mentahnya aja. Jangan dilihat matengnya aja. Dilihat kuah-kuahnya,” ujar Evan, menekankan pentingnya mencatat data hasil masak untuk menghitung kebutuhan bahan saat permintaan meningkat.
Dia memberi contoh praktis. Contohnya, ketika koki masak 1 kilogram ayam mentah, 1 kilo matengnya cuma 800 gram. Kalau 1 customer pakai 100, berarti ada 80. Sisanya kita tambahin berapa kilo,” cetusnya.
Pendekatan berbasis data inilah yang menurut Evan menjadi fondasi efisiensi. Dengan mencatat perbandingan berat mentah-matang dan hasil akhir bumbu atau kuah per resep, pengusaha rumahan dapat menghitung kebutuhan bahan lebih akurat ketika pesanan meledak. “Data ini kamu simpen di HP,” katanya, agar informasi itu bisa diakses cepat saat harus mengkalkulasi untuk 50 atau 100 customer.
Selain penghitungan bahan, Evan memperkenalkan AI sebagai asisten serba-bisa yang dapat diakses tanpa biaya. Menurutnya, penggunaan AI tidak serumit yang dibayangkan, mulai dari menghitung HPP (harga pokok produksi), menyusun SOP, merancang strategi pemasaran digital, hingga membuat materi promosi visual.
“Sekarang ini punya asisten pintar gratis. Jadi bisa coba dulu. Dari makanannya gratis, gak perlu yang berbayar dulu,” tutur Evan.
Dalam kesempatan itu, Evan mendorong peserta mencoba layanan cloud atau model lokal (CCPK) yang tersedia secara gratis sebelum mempertimbangkan versi berbayar yang lebih kuat.
Ia menjabarkan dua fungsi AI yang saling melengkapi. Untuk perencanaan bisnis, HPP dan strategi yang memerlukan analisis dan ide, Evan merekomendasikan AI berbasis cloud. Sedangkan untuk kebutuhan desain visual, seperti foto menu dan poster promo, ia menyarankan model generatif gambar pada AI.
“Kalau ibu-ibu butuh buat visualisasi gambar, generatenya ya pakai ChartGBT lebih bagus, gak usah berbayar, cukup yang gratis udah bagus. Yang penting coba dulu,” jelasnya.
Evan juga memberi contoh konkret lepas landasnya produktivitas saat AI digunakan untuk operasi harian. Ia mencontohkan instruksi sederhana yang bisa diberikan ke AI, minta menu sehat seminggu sesuai anggaran belanja, minta HPP dan harga jual resep, buat caption penjualan untuk WhatsApp dan Instagram selama tujuh hari, serta susun template balasan pelanggan di WhatsApp.
“Tinggal ketik di AI. Lalu, buatkan saya status WA dan Instagram selama 7 hari ke depan sekaligus,” ujarnya.
Dengan cara ini, kewajiban konten harian bisa diotomasi sehingga pemilik usaha tak lagi kebingungan soal apa yang harus diposting. Praktik efisiensi lain yang ia soroti adalah standardisasi resep dan pembuatan stok bumbu siap pakai. Evan menganalogikan proses itu seperti membuat menu makanan 1 liter lodeh, bumbu dasar yang bisa diaplikasikan ke berbagai menu.
“Misal 50 gram bawang putih, 50 gram bawang merah. Totalnya ini semua jadi 1 liter,” katanya.
Evan menekankan bahwa kalau data mentah-matang sudah tercatat, penghitungan stok dan kebutuhan jadi praktis. Evan tak menutup kemungkinan penggunaan AI berbayar untuk skala yang lebih besar, tetapi menegaskan bahwa proses awal bisa dimulai tanpa biaya signifikan. Ia juga memaparkan manfaat tak terduga, ide-ide konten yang dihasilkan AI bisa viral dan mendatangkan pelanggan.
Sebagai bukti bahwa pemikiran kreatif yang dipadukan AI mampu mencetak jangkauan luas dan konversi nyata, ia mencontohkan. “Saya berhasil mendapatkan 6 juta views, idenya digitized dari cloud gratis,” ungkapnya.
Di akhir sesi, Evan memberi panduan praktis untuk peserta: praktikkan esok pagi dengan menyuruh AI membuat menu sehat sesuai anggaran rumah tangga, lalu uji di dapur rumah. “Cukup tanya di AI untuk mobil bisnis dari rumah. Tinggal ketik,” katanya.
Pembicaraan Evan pada acara DWP Jatim menunjukkan transformasi kecil yang berdampak besar, dari pencatatan sederhana berat bahan dan hasil masak, hingga memanfaatkan AI gratis untuk menyusun HPP, konten pemasaran, desain label, dan rencana promosi.
Bagi banyak ibu yang ingin memulai atau mengembangkan usaha makanan rumahan, kombinasi data operasional yang rapi dan penggunaan AI praktis bisa menjadi jalan cepat menuju usaha yang lebih efisien dan menguntungkan. [aya.kt]


