Kabupaten Pasuruan, Bhirawa. – Kabut tebal yang biasanya memeluk lembut kawasan Gunung Bromo pada Minggu (9/8) dini hari berubah menjadi tirai asap pekat yang menyengat.
Angin pegunungan yang berembus kencang membawa kabar buruk. Yaitu, si jago merah yang sebelumnya membakar kawasan Lumajang telah menyeberangi benteng alam dan merembet ke wilayah Kabupaten Pasuruan (Brang Kulon).
Keheningan lereng Bromo mendadak pecah. Suara sirine, gemuruh mesin tangki air, dan derap langkah kaki para relawan berbaur dengan deru angin malam. Bromo sang primadona pariwisata nasional yang biasanya riuh oleh deru mesin jip dan gelak tawa wisatawan seketika mengheningkan cipta.
Pintu-pintu masuk dari empat penjuru arah, yaitu Pasuruan, Probolinggo, Malang hingga Lumajang resmi dikunci rapat. Kini, Bromo ditutup total. Bumi Tengger sedang memanggil putra-putrinya untuk bertaruh nyawa.
Di kawasan Penanjakan dan Cemoro Lawang, raungan mesin mobil tangki air BPBD Kabupaten Pasuruan tak berhenti berderu. Satu unit armada armada pasokan air ini disiagakan sebagai ‘jantung’ pertahanan darat.
Di medan berbukit dengan jurang-jurang terjal, air adalah kemewahan sekaligus senjata paling ampuh. Di garis depan, enam personel BPBD Pasuruan memimpin pergerakan. Namun, mereka tidak sendirian.
Di samping mereka, berdiri puluhan warga lokal yang tergabung dalam Desa Tangguh Bencana (Destana) Wonokitri. Tak ketinggalan, barisan pecalang dengan sarung kotak-kotak khasnya turut memegang gembor dan memikul peralatan pemadam rakitan.
”Total ada ratusan personel yang bersiaga dan bergerak dari wilayah Kabupaten Pasuruan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariadi, saat dikonfirmasi Minggu (9/8) sore.
Medan berbukit dengan vegetasi alang-alang kering yang mudah terbakar menjadi musuh utama. Ditambah lagi, dinamika angin pegunungan kerap membuat lidah api berganti arah secara tiba-tiba.
Sambil memegang selang dan memikul jet shooter, para relawan melangkah pasti di atas tanah yang menghangat. Wajah-wajah mereka cemong oleh jelutuh, matanya pedih disapa asap. Namun, garis pemukiman warga di lereng Bromo harus diselamatkan.
”Penempatan armada di titik strategis seperti Penanjakan dan Cemoro Lawang sangat krusial. Ini menyokong tim darat yang berjibaku di bukit-bukit. Petugas dan warga terus bergotong royong agar api tidak semakin membesar dan tak sampai mendekati kawasan pemukiman,” tutur Sugeng.
Eskalasi kebakaran yang meluas cepat memaksa otoritas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersama pemerintah daerah mengambil keputusan pahit namun mutlak, dengan cara menghentikan seluruh aktivitas wisata.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Selain demi keselamatan wisatawan dari ancaman asap pekat dan jebakan api yang sulit diprediksi, sterilnya kawasan Bromo memberi ruang gerak yang leluasa bagi tim gabungan.
Tanpa lalu lalang armada jip dan lalu lintas pengunjung, mobil pemadam serta personel penanggulangan dapat berakselerasi lebih cepat menembus titik-titik krusial.
”Kami mengimbau seluruh masyarakat dan relawan untuk tetap mengutamakan keselamatan saat melakukan pembasahan di lokasi,” kata Sugeng mengingatkan bahaya laten di tengah bukit yang membara.
Hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat Kabupaten Pasuruan, kepulan asap tipis masih membubung di beberapa sudut vegetasi. Tim gabungan tak bergeming. Kaki-kaki yang lelah tetap setia menapak di tanah Tengger, menyisir bara yang tersisa agar tidak kembali memercikkan api saat diterpa angin malam.
Kawasan Bromo mungkin tengah beristirahat sejenak dari ingar-bingar wisatawan. Namun di balik kesunyiannya, ada kehangatan solidaritas warga dan petugas yang pantang pulang sebelum Bromo benar-benar aman kembali.
”Kami bersama jajaran relawan dan warga setempat terus melakukan pemantauan intensif. Kami bersiap menyisir kembali jika ditemukan potensi kobaran baru,” kata Sugeng. [hil.fen]


