27.8 C
Sidoarjo
Wednesday, July 29, 2026
spot_img

Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan Bangsa

Oleh :
Inung Sektiyawan
Penulis adalah Kepala SMA Negeri 1 Malo Bojonegoro.

Setiap kali Hari Anak Nasional diperingati, kita disuguhi pemandangan yang hampir sama. Anak-anak mengikuti lomba, pentas seni, dan berbagai kegiatan seremonial yang penuh keceriaan. Namun, ketika panggung perayaan usai, masih tersisa pertanyaan besar: benarkah Indonesia telah menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi?

Pertanyaan itu layak diajukan karena wajah anak Indonesia hari ini masih dibayangi berbagai persoalan yang semakin kompleks. Mereka tidak hanya menghadapi ancaman kemiskinan dan kekurangan gizi, tetapi juga perundungan di sekolah, kekerasan seksual, eksploitasi, kecanduan gawai, kejahatan digital, hingga krisis kesehatan mental. Anak-anak hidup di tengah kemajuan teknologi, tetapi pada saat yang sama mereka juga berhadapan dengan ancaman yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026 mengusung semangat “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Tema tersebut sesungguhnya mengingatkan bahwa anak bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang hak-haknya harus dipenuhi oleh keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, media, dan negara secara bersama-sama. Perlindungan anak tidak boleh berhenti menjadi slogan tahunan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Salah satu ancaman yang semakin mengkhawatirkan adalah perundungan. Ironisnya, banyak orang dewasa masih menganggap bullying sebagai bagian dari proses pendewasaan atau sekadar candaan antarteman. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, penurunan prestasi belajar, bahkan kecenderungan menyakiti diri sendiri. Lebih memprihatinkan lagi, bentuk perundungan kini bergeser ke ruang digital. Media sosial memungkinkan ejekan, penghinaan, hingga penyebaran fitnah berlangsung selama dua puluh empat jam tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Luka fisik mungkin dapat sembuh, tetapi luka psikologis akibat cyberbullying sering kali bertahan jauh lebih lama.

Berita Terkait :  Wisata Kuliner dan Budaya 'Joglo Apung' Desa Mojotengah Menganti Diresmikan

Persoalan berikutnya adalah kesehatan anak. Walaupun prevalensi stunting terus menurun, pekerjaan rumah Indonesia belum selesai. Stunting bukan hanya soal tubuh yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Lebih dari itu, stunting berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, bahkan daya saing bangsa pada masa depan. WHO menegaskan bahwa kekurangan gizi kronis pada seribu hari pertama kehidupan dapat menimbulkan dampak permanen terhadap perkembangan kognitif anak. Karena itu, pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu, layanan kesehatan yang berkualitas, sanitasi yang baik, serta pengasuhan yang benar.

Di sisi lain, revolusi digital melahirkan ancaman yang tidak kalah serius. Anak-anak kini akrab dengan internet bahkan sebelum mereka mampu membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Mereka rentan menjadi korban penipuan daring, eksploitasi seksual berbasis internet, perjudian daring, pencurian data pribadi, hingga paparan konten pornografi dan kekerasan. Tidak sedikit anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, sementara interaksi dengan keluarga semakin berkurang. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah memperkuat kebijakan perlindungan anak di ruang digital sekaligus mendorong lahirnya sekolah yang lebih cakap digital dan platform yang lebih ramah anak.

Persoalan lain yang kerap luput dari perhatian adalah kesehatan mental anak. Tekanan akademik, konflik keluarga, budaya membandingkan diri di media sosial, hingga minimnya ruang bermain menyebabkan semakin banyak anak mengalami kecemasan dan stres. Sayangnya, masyarakat masih sering menganggap gangguan psikologis sebagai bentuk kelemahan pribadi. Akibatnya, banyak anak memilih memendam masalahnya daripada mencari pertolongan. Padahal, anak yang sehat bukan hanya sehat fisiknya, tetapi juga sehat emosional dan sosial.

Berita Terkait :  Forum Wartawan Kementerian Pekerjaan Umum Desak Staf Tenaga Ahli Menteri Bidang Media Mundur

Seluruh persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar perlindungan anak bukan terletak pada kurangnya regulasi, melainkan pada lemahnya ekosistem pengasuhan. Kita terlalu sering menyerahkan pendidikan karakter kepada sekolah, sementara sekolah berharap keluarga yang mengerjakannya. Padahal, penelitian Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh keterhubungan berbagai lingkungan, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, media, dan kebijakan pemerintah. Ketika salah satu lingkungan gagal menjalankan fungsinya, anaklah yang pertama kali merasakan dampaknya.

Karena itu, solusi perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh. Keluarga perlu kembali menjadi sekolah pertama yang mengajarkan kasih sayang, disiplin, empati, dan literasi digital. Orang tua tidak cukup hanya menyediakan gawai, tetapi juga harus hadir mendampingi penggunaannya. Sekolah perlu membangun budaya anti-perundungan, memperkuat layanan bimbingan konseling, serta mengintegrasikan pendidikan karakter dan kecakapan digital dalam pembelajaran. Pemerintah harus memastikan layanan kesehatan, pemenuhan gizi, perlindungan hukum, dan ruang publik yang aman benar-benar menjangkau seluruh anak tanpa diskriminasi. Masyarakat pun harus berhenti menganggap kekerasan sebagai bagian dari cara mendidik.

Pada akhirnya, kualitas bangsa pada tahun 2045 tidak ditentukan oleh gedung-gedung tinggi atau kemajuan teknologi semata, melainkan oleh kualitas anak-anak yang hari ini sedang tumbuh di rumah, di sekolah, dan di lingkungan kita. Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum untuk menggeser perhatian dari sekadar perayaan menuju aksi nyata. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang pandai merayakan anak-anaknya, tetapi bangsa yang sungguh-sungguh melindungi mereka. Ketika setiap anak merasa aman, sehat, dicintai, dan diberi kesempatan berkembang secara optimal, saat itulah kita sesungguhnya sedang membangun masa depan Indonesia.

Berita Terkait :  Libur Murid, Guru Bertumbuh

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!