Gresik, Bhirawa – Desa Sidorejo yang berada di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, tengah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Meskipun memiliki luas wilayah yang relatif kecil, desa ini secara bertahap berkembang menjadi kawasan industri. Perkembangan tersebut menyebabkan berkurangnya luas lahan persawahan, sehingga kini hanya tersisa Kelompok Tani yang tetap berkomitmen mempertahankan keberlangsungan sektor pertanian di Desa Sidorejo.
Meski jumlah petaninya tak lagi masif, sisa produksi panen berupa sekam padi tetap dihasilkan. Sayangnya, akibat minimnya informasi, sekam-sekam ini ujung-ujungnya hanya dibakar begitu saja oleh warga. Padahal, jika dikelola dengan sedikit kreativitas, limbah yang selama ini hanya menjadi abu tersebut memiliki potensi nilai jual yang cukup menjanjikan.
Melihat peluang ini, tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya hadir menawarkan solusi melalui kegiatan “Pelatihan Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Briket”. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan kekeluargaan pada Senin, 13 Juli 2026, bertempat di kediaman Bapak Aruf, selaku Ketua Kelompok Tani Desa Sidorejo.
Tim pelaksana lapangan ini beranggotakan empat mahasiswa lintas fakultas, yaitu Rafi Putra Firmansyah (1152300154 – Ilmu Komunikasi, FISIP), Ikhwan Fajar Hamdani (1512300312 – Psikologi, Fakultas Psikologi), Nadiva Nurfaizah (1152300200 – Ilmu Komunikasi, FISIP), dan Nafifah Vionorra D.A (1122300102 – Administrasi Bisnis, FISIP). Seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Zulkfikri Charis Darmawan, S.E., M.SEI.
Karena sasarannya cukup spesifik dan difokuskan pada pengurus inti, kegiatan ini dikonsep berupa pelatihan langsung berskala kecil. Tim mahasiswa mempraktikkan cara sederhana mengubah sekam padi menjadi arang, mencampurnya dengan perekat berbahan kanji, hingga mencetaknya menjadi briket atau bahan bakar padat yang siap pakai.
DPL Zulkfikri Charis Darmawan, S.E., M.SEI, menyoroti pentingnya kejelian melihat peluang di tengah perubahan lanskap desa. “Walaupun Sidorejo perlahan beralih ke industri dan lahan taninya menyempit, sisa limbah pertaniannya tetap ada dan harus dimaksimalkan. Briket sekam padi ini punya nilai ekonomi. Daripada sekam dibakar dan hanya menimbulkan polusi, lebih baik diolah menjadi energi alternatif yang bisa menekan pengeluaran dapur, atau bahkan berpotensi untuk diperjualbelikan,” ungkapnya.
Sebagai perwakilan tim, Nadiva Nurfaizah dari prodi Ilmu Komunikasi memberikan sudut pandangnya. Ia merasa pendekatan persuasif dalam pelatihan berskala kecil ini jauh lebih efektif dibandingkan acara seremonial besar.
“Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, saya melihat pelatihan yang dilakukan secara langsung dan berdialog santai di teras rumah Pak Aruf ini justru pesannya lebih mengena. Proses komunikasinya berjalan dua arah, tanya jawabnya lebih leluasa, dan beliau bisa langsung praktik meracik adonan briket tanpa merasa canggung. Terkadang, untuk mengubah kebiasaan masyarakat, kita tidak selalu membutuhkan acara yang formal, melainkan solusi nyata yang masuk akal dan mudah mereka terapkan sehari-hari,” jelas Nadiva.
Respons positif pun langsung disampaikan oleh Bapak Aruf. Inovasi briket biomassa ini diakuinya sebagai hal yang benar-benar baru di lingkungannya.
“Saya sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa. Terus terang, ini inovasi yang sangat baru bagi kami di sini. Dulu, pikiran kita sebatas kalau panen selesai, sekamnya dikumpulkan lalu dibakar biar halamannya cepat bersih. Tidak terpikir sama sekali kalau sampah ini bisa dipadatkan jadi pengganti kayu bakar atau gas. Caranya juga ternyata mudah dan bahannya murah. Ke depannya, ilmu ini pasti akan saya bagikan juga ke anggota tani yang lain,” tutur Pak Aruf dengan antusias sembari menunjukkan hasil cetakan briketnya.
Melalui langkah awal di kediaman Pak Aruf ini, tim Pengabdian Masyarakat Untag Surabaya berharap inovasi briket sekam padi bisa secara bertahap diadaptasi oleh warga lainnya. Harapannya sederhana, meminimalisasi polusi udara akibat pembakaran sekam, sekaligus membuktikan bahwa di desa yang mulai dikepung industri pun, limbah pertanian masih bisa disulap menjadi sesuatu yang bernilai guna dan ekonomis. [why]


