28.3 C
Sidoarjo
Tuesday, June 16, 2026
spot_img

Cara PKBM Budi Utama Mengubah Sungai Surabaya Menjadi Ruang Kelas Masa Depan

Menghidupkan Kembali Peradaban dari Atas Perahu

Oleh:
Rachmat CBS, Kota Surabaya

Jarum jam tepat menunjukkan pukul 10.00 WIB ketika permukaan air sungai Surabaya mulai terbelah oleh kayuhan perahu. Di atasnya, puluhan anak-anak didampingi orang tua dan mahasiswa Unesa mengenakan jaket pelampung jingga dengan senyum merekah. Riuh tawa mereka menyatu dengan gemercik air, mengubah suasana sungai yang biasanya sunyi menjadi ruang kelas alam yang penuh energi.

Hari itu, Senin (15/6/2026), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Budi Utama menolak cara belajar konvensional. Mereka tidak duduk di balik meja menyalin papan tulis. Sebaliknya, lembaga pendidikan non-formal ini memboyong para peserta didiknya turun langsung ke air melalui Program Sekolah Aliran Sungai.

Mengambil rute dari dermaga baru PKBM Budi Utama hingga di Terminal Joyoboyo dan kembali lagi ke dermaga PKBM Budi Utama, perjalanan ini menjadi sebuah petualangan edukasi yang mengubah cara pandang mereka terhadap lingkungan.

Tidak hanya anak-anak dari jenjang Kejar Paket A, B, dan C yang ikut serta. Di antara deretan pelampung, tampak pula para orang tua murid serta mahasiswa semester 6 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang membaur menjadi satu.

Ketua PKBM Budi Utama, Imam Rochani, memandang susur sungai ini sebagai langkah nyata membumikan teori-teori tebal yang ada di buku sekolah. Menurutnya, sungai bukan sekadar saluran air pelengkap kota, melainkan laboratorium raksasa yang menyediakan ilmu tanpa batas.

Berita Terkait :  BPBD Jatim Petakan Potensi Kapasitas Anggota Klaster Logistik

“Banyak pembelajaran dan wawasan yang bisa didapat dengan susur sungai agar mengetahui sejauh mana pentingnya sungai untuk kehidupan manusia. Di sinilah ada bagian dari mata pelajaran IPA maupun IPS yang hidup di dalamnya,” jelas Imam di sela-sela kegiatan.

Metode belajar ini dirancang terus berkembang dan merambah ke berbagai disiplin ilmu. Dalam waktu dekat, PKBM Budi Utama akan menerapkan metode hitung sampah langsung untuk pelajaran Matematika, mengurai ekosistem air untuk pelajaran Biologi, hingga mengemasnya menjadi penilaian muatan lokal sekolah.

Langkah inovatif ini bahkan tidak berhenti di internal lembaga. PKBM Budi Utama tengah menyiapkan infrastruktur berupa perahu dan dermaga khusus untuk memperluas jaringan sosialisasi ke sekolah-sekolah lain di sepanjang bantaran sungai. Para guru kelas dan pembimbing akan dilatih terlebih dahulu agar program edukasi ini bisa direplikasi secara massal. Program ini pun diselaraskan dengan agenda Kali Bersih (Prokasih) yang terus digalakkan oleh pemerintah.

Ada misi besar jangka panjang yang sedang dititipkan Imam Rochani di pundak anak-anak didiknya. Ia sadar, kesadaran lingkungan tidak bisa tumbuh secara instan saat seseorang sudah dewasa. Pengalaman empiris menyusuri sungai inilah yang akan menjadi jangkar moral mereka di masa depan.

“Harapan kami, susur sungai ini bisa menjadikan siswa ke depan tetap ingat. Kelak jika mereka dewasa dan menjadi salah satu bagian dari pemutus kebijakan, mereka bisa mengingat bagaimana kondisi sungai saat mereka susur sungai dulu. Sungai adalah pusat peradaban kehidupan manusia,” urai Imam dengan penuh penekanan.

Berita Terkait :  Pemkab Bojonegoro dan Polres Tabur 10 Ribu Benih Ikan

Urgensi menjaga kebersihan sungai ini bahkan memiliki landasan moral yang kuat, mengingat Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan tindakan membuang sampah secara sembarangan termasuk di sungai tentunya.Melalui program ini, PKBM Budi Utama ingin para siswanya pulang ke rumah masing-masing membawa bekal mentalitas baru untuk menyadarkan lingkungan sekitar mereka.

Dampak magis dari Sekolah Aliran Sungai ini dirasakan langsung oleh Marsha, mahasiswi semester 6 dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Unesa yang ikut turun ke lapangan. Baginya, melihat langsung kondisi sungai Surabaya adalah sebuah momen pembuka mata yang tidak ia dapatkan di dalam ruang kuliah formal.

“Sungai itu sangat bermanfaat untuk menopang kehidupan, seperti untuk menyuplai air PDAM hingga kebutuhan operasional pabrik. Lewat Sekolah Aliran Sungai ini, ilmu yang diberikan kepada anak-anak akan jauh lebih melekat. Ketika mereka tahu fungsinya sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sadar untuk menjaga sungai agar tetap bermanfaat,” cerita Marsha.

Pengalaman mendampingi PKBM Budi Utama ini bahkan memicu mimpi baru di dalam benak Marsha. “Jujur, saya juga baru tahu kondisi riil sungai ketika ikut program PKBM ini. Nantinya, selepas lulus dari Unesa, mungkin teman teman ada ingin membentuk lembaga Pendidikan Luar Sekolah (PLS) sendiri. Dari sini kami semua jadi tahu bagaimana cara mengembangkan konsep pendidikan berbasis lingkungan dan mengaplikasikannya nanti,” tambahnya optimis.

Berita Terkait :  SMAN 1 Asembagus Wadahi Potensi Kompetisi Bidang Akademik dan Non Akademik Siswa

Suara dukungan juga menggema dari barisan orang tua. Ambar, warga Karah, Surabaya, yang ikut mendampingi anaknya, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap konsistensi PKBM Budi Utama. Ia menaruh harapan besar agar Program Sekolah Aliran Sungai ini tidak menjadi agenda musiman, melainkan terus dijalankan demi kebaikan karakter anak-anak serta kelestarian ekosistem kota Surabaya ke depan. [rac.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!