28.4 C
Sidoarjo
Tuesday, June 9, 2026
spot_img

Gubes UNAIR Ingatkan Pentingnya Inggris Tanpa Lupakan Bahasa Ibu


Surabaya, Bhirawa
Guru Besar Ilmu Etnolinguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menagapi kebijakan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendorong guru membiasakan penggunaan bahasa Inggris di kelas memantik.

Kebijakan dari Wamendikdasmen dimana mendorong pembiasaan percakapan bahasa Inggris pada sekolah sebagai persiapan sebelum bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa SD tahun ajaran 2027/2028. Selasa, (9/6/2026)

Guru Besar Ilmu Etnolinguistik UNAIR, Prof Dr Dra Ni Wayan Sartini, MHum, mengatakan penguatan bahasa asing harus dilakukan secara seimbang jangan sampai meminggirkan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah yang terlebih dahulu eksis.

“Bahasa Inggris jadi modal penting di dunia kerja, pendidikan tinggi, dan ruang digital global, Namun, kebijakan menyentuh persoalan yang lebih dalam terutama Indonesia adalah negara multibahasa,” katanya.

Lanjut Prof Wayan mengukapkan bahwa bahasa Indonesia berfungsi sebagai pemersatu nasional, dan bahasa daerah sebagai penanda identitas budaya, bahasa asing sebagai jembatan kompetensi global, permasalahan muncul saat antarbahasa tidak terkelola secara seimbang.

“Bahasa Inggris mulai dipersepsikan sebagai simbol kemajuan yang dapat menggantikan bahasa lain, permasalahan serupa turut relevan bagi bahasa daerah mengalami penurunan yang cukup signifikan, transmisi penggunaan bahasa daerah antar generasi turut menambah permasalahan ini,” ungkapnya.

Prof Wayan mengingatkan pembiasaan bahasa Inggris pada kelas tidak harus berlangsung secara penuh dalam setiap situasi pembelajaran.

Berita Terkait :  iConASET Unusa 2025, Forum Akademik Internasional untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

“Pengajar bisa memulai percakapan sederhana, instruksi kelas atau integrasi kosakata tertentu sesuai kesiapan masing-masing sekolah, ketimpangan kondisi sekolah di kota besar dan di daerah,” tuturnya

Ia menambhakanpemerintah perlu menyiapkan dukungan konkret berupa pelatihan guru, materi ajar yang adaptif, serta model yang implementasi dan fleksibel.

“Tujuan akhir dari pembelajaran bahasa tidak memilih salah satu bahasa dan meninggalkan yang lain, tapi pembelajaran bahasa adalah membentuk generasi kuat berbahasa Indonesia, berakar pada budaya daerah, serta kompeten di panggung global, Di situlah pendidikan bahasa menemukan maknanya, tidak sekadar mengajarkan cara berbicara, juga membantu generasi muda memahami siapa ia sebenarnya dan bagaimana ia berhubungan dengan dunia,” tutup imbuh Prof Wayan. [ren.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!