33.1 C
Sidoarjo
Wednesday, May 6, 2026
spot_img

Soal Muktamar NU 2026, Gus Hans : Cari Pemimpin yang Menyejukkan

Jombang, Bhirawa

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Queen Al Azhar Darul Ulum, Jombang, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans memberikan pandangan terkait kriteria pemimpin ideal sebagai nahkoda NU.

Menurut Gus Hans, suksesi kepemimpinan NU kali ini bakal menjadi fondasi utama dalam menapaki abad kedua.

Gus Hans menandaskan, NU saat ini membutuhkan penyegaran figur yang tidak hanya mumpuni secara intelektual, namun juga memiliki karakter yang teduh.

Menurutnya, dengan karakter kepemimpinan yang teduh, dinilai krusial untuk menjaga harmoni di tengah dinamika umat yang semakin kompleks.

“Muktamar ini adalah penentu di abad kedua Nahdlatul Ulama mau diarahkan ke mana,” tutur Gus Hans, Rabu (6/05).

Gus Hans menjabarkan, sosok Rais ‘Aam sebagai pemegang otoritas tertinggi di NU haruslah seorang ulama yang memiliki sifat ‘wira’i’. Sifat ini mencerminkan kehati-hatian tingkat tinggi dalam menjaga integritas dan moralitas demi kemaslahatan umat.

Dikatakannya, kedalaman ilmu seorang pemimpin harus berbanding lurus dengan sikap santun yang ditunjukkan ke publik.

Gus Hans memandang, hal tersebut penting agar setiap fatwa dan arahan yang dikeluarkan dapat diterima dengan hati terbuka oleh seluruh Nahdliyin.

“Mudah-mudahan para pemilik suara di NU menggunakan hati nurani untuk memilih tokoh-tokoh yang minimal bagi Rais ‘Aam adalah orang yang memiliki ‘wira’i’ dan keilmuan tinggi,” kata Gus Hans.

Berita Terkait :  Soroti Defisit APBD Rp700 Miliar

Selain harapan pada sisi spiritualitas, Gus Hans juga berharap pada sisi keteladanannya.

Tentang hal tersebut, Gus Hans mendambakan pemimpin yang setiap tutur kata dan pidatonya mampu menjadi rujukan moral serta penyejuk bagi masyarakat luas.

Lebih lanjut Gus Hans juga memberikan catatan untuk sosok Ketua Umum Tanfidziyah yang ideal hasil muktamar.

Gus Hans memandang, posisi ini memerlukan figur organisatoris yang memiliki visi pengabdian yang murni.

Ketua Umum PBNU masa depan juga diharapkan adalah sosok yang sudah selesai dengan urusan pribadinya, agar energi organisasi tidak tersedot untuk kepentingan-kepentingan di luar kepentingan jam’iyah dan jamaah.

“Harapan saya untuk ketua umum adalah sosok yang benar-benar bisa fokus pada pembinaan masyarakat dan tidak lagi memikirkan kepentingan pribadi,” tandasnya.

Dia menilai, tantangan NU ke depan menuntut tata kelola organisasi yang lebih profesional dan transparan. Untuk itu, faktor integritas pemimpin menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi dalam Muktamar mendatang.

Terkait dinamika internal, Gus Hams memberikan masukan agar Muktamar NU nanti menjadi ajang rekonsiliasi yang bersih.

Gus Hans menyarankan agar individu-individu yang memiliki rekam jejak konflik di masa lalu tidak lagi mendominasi panggung kepengurusan.

“Paling bagus adalah ketika di Muktamar ini sudah tidak lagi dimunculkan orang-orang yang pernah berkonflik di belakang hari,” pungkas Gus Hans. [rif.kt]

Berita Terkait :  Komitmen Mendukung IGA

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!