Fokus Tekan Pernikahan Dini di Tapal Kuda dan Malang Raya
Pemprov, Bhirawa
Sejumlah indikator kependudukan Jawa Timur menunjukkan tren positif. Data menunjukkan Total Fertility Rate (TFR) Jawa Timur tercatat 1,96, sementara prevalensi stunting turun menjadi 14,7 persen dari sebelumnya di atas 17 persen pada 2023.
Memperkuat sinergitas antar lembaga pemerintah telah digelar pelaksanaan Program Bangga Kencana di Jawa Timur melalui Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) 2026 di Surabaya, Kamis (9/4).
Rapat ini melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) bidang keluarga berencana, Bappeda kabupaten/kota, hingga mitra kerja, dengan fokus pada evaluasi program serta penyelarasan strategi tahun berjalan.
Plt Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, Sukamto, mengatakan Rakorda menjadi forum untuk memastikan program kependudukan dan pembangunan keluarga berjalan lebih efektif.
“Rakorda ini untuk mengevaluasi pelaksanaan program tahun sebelumnya sekaligus menyatukan langkah agar program 2026 berjalan optimal,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah indikator menunjukkan capaian positif. Total Fertility Rate (TFR) Jawa Timur tercatat 1,96, sementara prevalensi stunting turun menjadi 14,7 persen dari sebelumnya di atas 17 persen pada 2023.
Meski demikian, Sukamto menegaskan penurunan stunting masih menghadapi tantangan, salah satunya pernikahan usia dini yang dinilai berkontribusi terhadap tingginya kasus di sejumlah wilayah, seperti Tapal Kuda dan sebagian Malang Raya.
Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mulai berjalan dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Penyaluran program disebut telah mencapai sekitar 64 persen dengan dukungan Tim Pendamping Keluarga yang tersebar di berbagai daerah.
Sementara itu, Asisten I Sekdaprov Jatim Imam Hidayat menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kebijakan nasional, khususnya peningkatan kualitas keluarga dan percepatan penurunan stunting.
“Koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar program berjalan selaras, terutama di daerah yang masih membutuhkan pendampingan lebih intensif,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala DP3AK Jatim, Sufi Agustini. Ia menilai penurunan stunting tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak melalui sosialisasi, edukasi, serta pendampingan keluarga, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
“Tahun ini angka stunting sudah turun sekitar 14 persen. Kami optimistis bisa terus ditekan melalui penguatan edukasi dan pendampingan,” ujarnya.
Melalui Rakorda ini, pemerintah berharap koordinasi antara pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota semakin solid dalam mendorong pembangunan keluarga berkualitas sebagai bagian dari upaya jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. [fir.gat]


