Kabupaten Malang, Bhirawa
Konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada harga minyak dunia, tetapi juga memicu kenaikan harga bahan baku plastik secara signifikan. Lonjakan harga ini kini menjadi beban berat bagi para pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Malang, yang terpaksa menekan biaya operasional demi mempertahankan harga jual produk.
Berdasarkan pantauan, harga berbagai jenis kemasan plastik di pasaran melonjak drastis antara 50 hingga 80 persen per April 2026. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku petrokimia akibat situasi di Timur Tengah. Dampaknya sudah sangat terasa sejak pertengahan Ramadan hingga sekarang, menyasar berbagai sektor mulai dari warung makan, toko kelontong, hingga industri rumahan.
Salah satu pedagang di Pasar Kepanjen, Eka Sulistyawati, mengaku hampir semua jenis plastik yang ia butuhkan mengalami kenaikan harga. Kondisi ini memaksanya untuk lebih hemat dan mengurangi volume pembelian.
“Kenaikannya sangat terasa, contohnya kantong plastik ukuran besar merk Sumo yang semula Rp 57 ribu, sekarang melambung hingga Rp 70.500. Biasanya saya habiskan setengah kilogram sehari, sekarang harus dikurangi,” terang Eka, Kamis (9/4).
Dampak serupa juga dirasakan oleh para pengrajin tahu dan tempe. Selain harga plastik yang naik, mereka juga harus menghadapi lonjakan harga kedelai impor yang juga terdampak konflik global.
Rifai, salah satu perajin tempe di Kecamatan Kepanjen, menjelaskan harga kedelai impor kini mencapai Rp10.100 hingga Rp11.000 per kilogram. Beban ganda ini membuatnya terpaksa mengambil langkah ekstrem.
“Tidak hanya plastik, kedelai juga ikut naik drastis sejak awal April. Akibatnya, kami terpaksa mengurangi produksi hingga 30 persen agar bisa tetap menutupi biaya operasional tanpa menaikkan harga jual,” pungkasnya. [cyn.kt]


