Oleh:
Dr. IG. NG. Indra S. Ranuh
Penulis adalah analis kebijakan publik
Di era linimasa, setiap orang merasa punya kebenaran. Jempol bergerak lebih cepat daripada nalar, dan emosi sering mendahului klarifikasi. Kita hidup dalam zaman ketika potongan video lebih dipercaya daripada proses hukum, ketika judul lebih menentukan opini daripada isi, dan ketika prasangka beredar lebih cepat daripada fakta. Ramadhan datang di tengah kebisingan itu. Ia seharusnya menjadi jeda. Tetapi di ruang digital, jeda justru terasa semakin langka.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan menahan diritermasuk menahan dorongan untuk ikut menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar. Namun di linimasa, yang sering terjadi justru sebaliknya: klarifikasi kalah cepat, tabayun dianggap lambat, dan kehati-hatian dipersepsikan sebagai kelemahan.
Media sosial menjanjikan demokrasi informasi. Siapa pun boleh berbicara. Siapa pun boleh menyebarkan. Siapa pun boleh menilai. Secara teori, ini adalah kemajuan peradaban. Keterbukaan adalah fondasi masyarakat modern. Transparansi adalah syarat akuntabilitas.
Namun dalam praktiknya, keterbukaan tanpa kedewasaan sering berubah menjadi kebisingan kolektif.
Fitnah menyamar sebagai opini. Potongan video diperlakukan sebagai kebenaran utuh. Judul bombastis menggantikan isi yang seharusnya dibaca tuntas. Yang viral bukan yang paling benar, tetapi yang paling memancing emosi. Ironisnya, semua itu terjadi justru ketika kita memasuki bulan Ramadhanbulan yang mengajarkan pengendalian diri.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan disiplin batin. Puasa adalah pendidikan karakter. Ia mendidik kita untuk menahan dorongan instingtif: marah, tergesa-gesa, berprasangka, dan merasa paling benar. Tetapi di linimasa, kita justru sering gagal di ujian yang paling sederhana: menahan komentar.
Dalam teori komunikasi modern, informasi digital bekerja melalui mekanisme emosional. Algoritma tidak menyukai ketenangan. Ia menyukai kemarahan, konflik, dan polarisasi. Konten yang memicu emosi cenderung lebih dibagikan. Dan semakin sering dibagikan, semakin dianggap benar.
Di sinilah letak bahayanya.
Kita tidak lagi sekadar menjadi konsumen informasi. Kita menjadi bagian dari mesin penyebarannya. Tanpa sadar, kita bisa menjadi simpul dalam jaringan fitnah. Satu klik “share” dapat memperluas kebohongan kepada ribuan orang. Satu komentar sinis dapat memicu perpecahan yang lebih besar.
Padahal, dalam ajaran agama, menjaga lisan adalah inti ketaqwaan.
Lisan bukan hanya suara. Dalam era digital, lisan menjelma menjadi teks, caption, unggahan, dan komentar. Kata-kata yang kita tulis di layar memiliki dampak yang sama bahkan lebih luas dibandingkan kata-kata yang diucapkan langsung. Ramadhan seharusnya menjadi momen jeda. Jeda dari kebiasaan bereaksi cepat. Jeda dari budaya menghakimi. Jeda dari kecenderungan merasa paling tahu. Tetapi kenyataannya, bulan suci pun tak luput dari panasnya perdebatan daring. Isu agama dipolitisasi. Perbedaan pendapat diperkeras. Kesalahan kecil diperbesar. Dan prasangka tumbuh subur.
Kita seolah lupa bahwa inti puasa adalah membersihkan diri, bukan memperkeruh ruang publik.
Keterbukaan informasi memang penting. Negara demokratis tidak boleh menutup akses publik terhadap informasi. Transparansi adalah prasyarat kepercayaan. Namun keterbukaan publik bukan berarti kebebasan tanpa tanggung jawab. Ada perbedaan antara transparansi dan sensasionalisme. Ada jarak antara kritik dan fitnah. Ada batas antara kebebasan berekspresi dan penyebaran kebencian.
Masalahnya bukan pada teknologinya. Masalahnya pada cara kita menggunakannya. Media sosial hanyalah alat. Ia netral. Yang tidak netral adalah niat dan sikap penggunanya.
Ramadhan seharusnya menjadi ruang refleksi untuk menata ulang relasi kita dengan teknologi. Apakah kita menggunakan media sosial untuk menyebar manfaat, atau sekadar melampiaskan emosi? Apakah kita mencari kebenaran, atau mencari pembenaran?
Sering kali, yang kita bagikan bukan karena itu penting, tetapi karena itu sesuai dengan prasangka kita.
Di sinilah konsep tabayun menjadi relevan. Klarifikasi sebelum percaya. Verifikasi sebelum menyebarkan. Menahan diri sebelum menilai. Tabayun bukan sekadar etika agama. Ia adalah prinsip literasi digital modern. Dalam konteks kebijakan publik, tabayun identik dengan verifikasi data. Dalam konteks jurnalistik, ia adalah proses cek dan ricek. Dalam konteks pribadi, ia adalah pengendalian diri.
Namun yang lebih sulit dari memverifikasi informasi adalah memverifikasi diri sendiri.
Apakah kita marah karena memang ada ketidakadilan, atau karena ego kita terusik? Apakah kita membela kebenaran, atau membela kelompok? Apakah kita ingin memperbaiki keadaan, atau sekadar memenangkan perdebatan?
Ramadhan mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi berat: menahan diri.
Menahan lapar relatif mudah. Menahan komentar jauh lebih sulit.Dalam ruang digital, reputasi bisa runtuh dalam hitungan menit. Hubungan persahabatan bisa retak karena satu unggahan. Silaturahmi yang terbangun bertahun-tahun bisa terganggu oleh satu kalimat sarkastik.
Padahal Ramadhan adalah bulan mempererat silaturahmi.
Kita rajin menghadiri buka puasa bersama, tetapi di waktu yang sama mungkin sedang mempertajam perdebatan di kolom komentar. Kita mengirim ucapan maaf lahir batin, tetapi masih menyimpan prasangka dalam linimasa.Puasa seharusnya bukan hanya ritual personal, melainkan transformasi sosial.Bayangkan jika setiap pengguna media sosial mempraktikkan satu prinsip sederhana selama Ramadhan: jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Jangan berkomentar jika tidak membawa manfaat. Jangan mengunggah jika hanya memperkeruh suasana.
Mungkin linimasa akan terasa lebih tenang. Mungkin ruang publik menjadi lebih sehat.Tetapi tentu itu menuntut disiplin. Dan disiplin selalu terasa tidak nyaman.Ketaqwaan bukan diukur dari seberapa sering kita mengutip ayat atau membagikan ceramah. Ia diukur dari seberapa konsisten kita menjaga sikap termasuk di ruang digital.
Dalam dunia yang serba cepat, kemampuan paling langka adalah kemampuan untuk berhenti. Berhenti sebelum bereaksi. Berhenti sebelum membagikan. Berhenti sebelum menghakimi.Ramadhan memberi kita latihan selama tiga puluh hari. Pertanyaannya sederhana: apakah kita hanya berpuasa dari makanan, atau juga berpuasa dari kebisingan?
Jika setelah Ramadhan linimasa kita tetap dipenuhi prasangka, fitnah, dan kemarahan, mungkin yang perlu kita evaluasi bukan teknologinya, melainkan kualitas puasa kita.
Karena boleh jadi kita berhasil menahan lapar sejak fajar hingga magrib, tetapi gagal menahan jempol dari subuh hingga sahur dan di era digital ini, mungkin ukuran ketaqwaan bukan lagi seberapa lama kita menahan haus, melainkan seberapa jarang kita ikut menyebarkan kabar yang belum tentu benar.Sebab di hadapan algoritma, semua konten dianggap setara. Tetapi di hadapan Tuhan, setiap kata tetap akan diminta pertanggungjawaban.Termasuk yang kita tulis dengan sangat cepat tanpa sempat berpikir panjang.
Ramadhan seharusnya mengajarkan kita bahwa kekuatan bukan pada seberapa keras kita berbicara, tetapi pada seberapa mampu kita menahan diri. Dalam dunia yang serba cepat, kemampuan berhenti sebelum membagikan mungkin lebih bernilai daripada kemampuan berdebat panjang.
————– *** —————


