29 C
Sidoarjo
Monday, February 16, 2026
spot_img

Ramai Modus Child Grooming, Dosen Psikologi Ubaya Beri Tips Pencegahan untuk Orang Tua


Surabaya, Bhirawa
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) menagapi tentang ramai di media sosial membahas kasus child grooming dan manipulasi yang diceritakan oleh salah satu artis di Indonesia.

Child grooming merupakan sebuah pendekatan manipulatif dilakukan individu bertujuan melakukan kejahatan seksual pada anak atau remaja dibawah umur untuk kepuasan pribadi, Hal tersebut dipandang tidak pantas secara moral sebab terdapat ketidaksetaraan relasi antara orang dewasa yang matang dan independen dengan anak atau remaja, Rabu (14/1).

Dosen Fakultas Psikologi Ubaya, Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog mengatakan manipulasi pelaku menggunakan Sexual Grooming Mode (SGM) dicetuskan oleh peneliti bernama Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic. dimana pelaku memulai aksinya dengan memilih korban yang memiliki karakteristik tertentu.

“Pelaku akan memilih individu yang rentan dan lemah secara psikologis, seperti penurut, kurang pengawasan dan perhatian orang tua, membutuhkan kasih sayang, mengalami masalah perilaku, dan kesepian,” jelasnya.

Lanjut Yuan menjelaskan bahwa pelaku akan memperoleh akses dan mengisolasi korban melalui interaksi intens yang menarik korban dari lingkungannya. “Pelaku selanjutnya membangun kepercayaan korban terhadap dirinya untuk mendapat akses yang lebih leluasa melalui sikap dan tindakan yang sangat baik, terus pelaku merasa memegang kendali atas korban, dilakukan pembiasaan terhadap konten seksual dan kontak fisik terhadap korban, pada tahap ini, pelaku membuat korban berpikir seolah paparan, kekerasan seksual merupakan hal normal, Terakhir pelaku melakukan pemeliharaan hubungan setelah terjadinya kekerasan seksual melalui pembungkaman, baik dengan pemberian kompensasi, maupun ancaman,” tuturnya.

Berita Terkait :  Pengamatan Unair Nilai Perombakan Kabinet karena 3 Faktor

Yuan mengukapkan dmpaknya korban mengalami kebingungan dan merasa tidak berhak untuk mempertanyakan atau mengkritisi pengalaman buruk yang dia terima, korban mengalami keraguan, lebih jauh merasa tidak benar, namun tidak mampu melakukan apa-apa. “Secara biologis dan psikologis, anak dan remaja masih rentan serta memiliki keterbatasan wawasan dalam kontrol dan otonominya,” pungkasnya.

Yuan menambahkan bahwa terdapat beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dengan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan. “Seperti, orang tua mengajarkan batasan bagian tubuh yang tidak dapat disentuh oleh orang lain serta membangun komunikasi yang terbuka dan empatik dengan anak, hal tersebut perlu ditekankan kita peduli dengan anak atau remaja yang ada disekitar, serta harus lebih bersedia untuk menelisik lebih dalam, jika dirasa ada tindakan yang mencurigakan dari interaksi antara anak atau remaja dengan orang dewasa,” imbuh Yuan. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru