Kota Malang, Bhirawa – Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung agenda strategis nasional. Sebanyak 25 dosen lintas disiplin dari kampus rumpun biru tersebut resmi terpilih menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Program besutan Kementerian Transmigrasi RI ini dirancang untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan guna mempercepat pembangunan serta pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi RI, Bondan Djati Utami, S.Si., M.M., menjelaskan bahwa pada tahun 2026 ini, pemerintah memperluas kemitraan dengan menggandeng sepuluh perguruan tinggi terbaik di Indonesia, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya melibatkan tujuh kampus. UB menjadi salah satu perguruan tinggi yang dipercaya masuk dalam program strategis tersebut.
“Tahun ini kemitraan kami perluas menjadi sepuluh perguruan tinggi, salah satunya Universitas Brawijaya. Kami berharap keberadaan akademisi UB dapat membantu mengatasi berbagai persoalan di kawasan transmigrasi, baik dari sisi penguatan masyarakat maupun pengembangan wilayahnya agar tumbuh menjadi kawasan ekonomi baru,” ujar Bondan Djati Utami.
Sementara itu, Ketua Tim UB untuk Tim Ekspedisi Patriot 2026, Taufiq Ismail, S.S., S.E., M.M., Ph.D., mengungkapkan bahwa 25 dosen yang terpilih telah melewati proses seleksi nasional yang sangat ketat. Seleksi tersebut melibatkan tim penilai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lainnya.
Sebaran Tugas di Indonesia Timur
Dari total 25 dosen UB yang lolos seleksi, 20 Dosen ditempatkan di kawasan transmigrasi Papua Barat Daya. 5 Dosen ditempatkan di berbagai titik di Sulawesi Barat.
Para akademisi ini berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Fakultas Peternakan, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), hingga Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Taufiq Ismail menekankan bahwa fokus kontribusi UB dalam ekspedisi ini adalah memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat secara holistik. Pendekatan yang diambil tidak hanya terpaku pada peningkatan produksi, melainkan menyentuh aspek hilirisasi (pengolahan hasil), literasi, edukasi, hingga sektor kesehatan.
“Pemberdayaan ekonomi tidak dapat berdiri sendiri. Harus didukung oleh produksi dan pengolahan yang baik, serta peningkatan kapasitas masyarakatnya. Kami akan memastikan apa yang diprogramkan di lapangan benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat setempat,” tegas Taufiq.
Sebelum diterjunkan ke lokasi, seluruh delegasi dosen akan mengikuti pembekalan nasional dari Kementerian Transmigrasi, disusul pembekalan internal oleh UB yang mencakup mitigasi risiko, komunikasi masyarakat, serta strategi implementasi program di lapangan.
Keterlibatan aktif UB dalam TEP 2026 ini menjadi wujud nyata pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian masyarakat. Melalui hilirisasi riset dan inovasi langsung di lapangan, UB berkomitmen mewujudkan kawasan transmigrasi yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan. [mut.wwn]


