30 C
Sidoarjo
Tuesday, September 1, 2026
spot_img

Sound Horeg sebagai Ekspresi Budaya dari Perayaan Tradisional Menuju Gaya Kekinian

Kab Malang, Bhirawa – Tradisi Parade Sound Horeg kini menjadi salah satu pilihan utama warga Kabupaten Malang untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Meski fenomena hiburan yang menghasilkan dentuman bass yang cukup keras, hal ini memicu pro dan kontra di tengah masyarakat terkait dampak sosial, ekonomi, dan kenyamanan lingkungan. Sebab, penggunaan sound horeg yang mengeluarkan suara berdaya tinggi dalam kegiatan karnaval warga, dinilai mencerminkan pergeseran ekspresi budaya dari perayaan tradisional menuju gaya kekinian.

Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Wahyudi Winarjo, Selasa (1/9/2026), kepada wartawan mengatakan, sound horeg dinilai sebuah fenomena yakni sebagai bentuk budaya populer yang wajar di era postmodern, atau gerakan dan cara berpikir yang muncul sebagai kritik serta reaksi terhadap era modern. Dan sound horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari. Sementara, secara sosiologis, hal ini menjadi sarana masyarakat merasakan kebersamaan.

Selain menjadi panggung perjumpaan massa, masih dia katakana, fenomena ini turut menggerakkan roda ekonomi lokal. Dengan kehadiran parade tersebut membuka peluang pendapatan bagi penyedia jasa sewa kendaraan dan audio, pengelola parkir, hingga pelaku UMKM dan pedagang kaki lima di sepanjang rute acara.

Namun dirinya tidak menolak, adanya dampak negatif terhadap kenyamanan publik. Karena dentuman suara berintensitas tinggi kerap dinilai mengganggu batas pendengaran normal masyarakat serta estetika seni budaya. “Kebebasan berekspresi dalam perayaan ini tetap harus memperhatikan hak kenyamanan warga sekitar,” paparnya.

Berita Terkait :  Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026, Sebanyak 200 Lanjut Usia Sidoarjo Dapat Edukasi

Menurut Wahyudi, sound horeg bersifat dinamis dan sementara, seiring masyarakat terus mencari identitas kolektifnya. Fenomena sound horeg menunjukkan bahwa bentuk perayaan kemerdekaan terus bertransformasi. Oleh karena itu, pengelolaan yang bijak dari semua pihak diperlukan agar manfaat sosial dan ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan kenyamanan umum. Perubahan dari perayaan tradisional menuju gaya kekinian dipandang sebagai dinamika budaya yang berkembang.

“Pergeseran ini memperlihatkan bagaimana seni dan tradisi lokal berakulturasi dengan tren populer. Sound horeg pada akhirnya menjadi panggung perjumpaan massa untuk berkumpul, menikmati hiburan, hingga menunjukkan eksistensi kelompoknya,” ujarnya. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!