Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi momentum yang dinantikan, bukan hanya oleh warga Nahdliyin, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia, arah gerak NU secara langsung memengaruhi lanskap sosial, keagamaan, dan kebangsaan di tanah air. Usai gelaran Muktamar, kini saatnya seluruh elemen organisasi kembali bersatu dan merealisasikan berbagai resolusi penting yang telah disepakati demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Harapan besar pertama yang bertumpu pada kepengurusan baru adalah penguatan khitah NU sebagai benteng moderasi beragama (tawasuth). Di tengah dinamisnya arus informasi dan potensi polarisasi ideologi, NU diharapkan tetap konsisten menjadi jangkar perdamaian yang merangkul semua golongan. Konsep Islam Nusantara yang ramah, toleran, dan selaras dengan budaya lokal harus terus dibumikan, tidak hanya dalam tataran wacana elite, tetapi hingga ke akar rumput di pelosok desa. Kepemimpinan baru perlu memastikan bahwa masjid-masjid dan pesantren NU aktif membentengi generasi muda dari paparan ekstremisme.
Kedua, ada ekspektasi tinggi terkait kemandirian ekonomi warga. Transformasi digital dan tantangan ekonomi global menuntut NU untuk tidak hanya fokus pada bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi umat.
Pembentukan korporasi berbasis warga, optimalisasi tata kelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS), serta pendampingan UMKM bagi Nahdliyin harus menjadi program prioritas. Jika kemandirian ekonomi ini terwujud, NU akan memiliki daya tawar dan kemandirian yang lebih kuat dalam mengawal agenda-agenda keummatan. Ketiga, peningkatan mutu pendidikan di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dan pondok pesantren. Kita berharap ada standardisasi kualitas kurikulum yang mampu memadukan kedalaman ilmu agama tradisi pesantren dengan penguasaan sains, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI). Generasi muda NU harus siap bersaing di kancah global tanpa kehilangan identitas moral dan spiritualnya.
Terakhir, masyarakat sangat berharap NU secara organisasi dapat menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik (khitah 1926). Menjaga netralitas dan tidak terlibat dalam politik praktis akan membuat NU tetap dihormati sebagai institusi moral bangsa. Energi besar NU seyogianya dicurahkan sepenuhnya untuk memimpin gerakan sosial, mengatasi kemiskinan, dan menjaga keutuhan NKRI. Selamat bekerja kepada pengurus yang terpilih, semoga amanah ini membawa keberkahan bagi kita semua.
Mohammad Rasyid
Warga Keputih Surabaya

