Surabaya, Bhirawa – SMAN 15 Surabaya dinobatkan sebagai Peringkat I Program Sekolah Moderasi Beragama jenjang SMA Kota Surabaya. Penghargaan tersebut diberikan dalam program moderasi beragama yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya.
Kepala SMAN 15 Surabaya Abdul Razzaq Tahir mengatakan, capaian tersebut menjadi momentum bagi sekolah untuk semakin memperkuat budaya toleransi dan keberagaman di lingkungan pendidikan. Lebih lagi, sekolah mengusung tagline “Religius dalam Keyakinan, Santun dalam Perbedaan, Bersatu dalam Kebangsaan dalam kehidupan disekolah.
“Sekolah moderasi beragama bukan sekolah yang mengajarkan semua agama menjadi sama. Prinsipnya adalah berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap bersaudara dalam kemanusiaan dan sebangsa dalam kebangsaan,” ujar pria yang akrab disapa Reza ini, Selasa (22/9).
Untuk memperkuat implementasi program tersebut, SMAN 15 Surabaya tidak hanya mengandalkan kegiatan seremonial. Berbagai perangkat dan bukti implementasi disiapkan untuk menunjukkan bahwa moderasi beragama telah menjadi bagian dari budaya sekolah.
Di antaranya melalui pembelajaran, budaya sekolah yang ramah, aman dan nyaman, kegiatan keagamaan, pengembangan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler berbasis moderasi beragama, hingga kegiatan kerja sama dan relasi sosial.
Salah satu yang cukup mencolok adalah pemasangan sembilan kata kunci moderasi beragama di anak tangga sekolah. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi warga sekolah bahwa nilai moderasi harus hadir dalam aktivitas sehari-hari. “Pirantinya cukup banyak yang harus kita siapkan untuk menuju ajang berikutnya sesuai dengan petunjuk dari Kemenag Kota Surabaya,” jelasnya.
Pada kegiatan kokurikuler, sekolah mengembangkan dialog lintas agama, proyek kolaborasi moderasi, bakti sosial lintas komunitas hingga simulasi penyelesaian konflik. Seluruh kegiatan tersebut juga disiapkan dalam bentuk dokumentasi foto, video dan administrasi sebagai bukti implementasi program.
Sementara bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI), internalisasi nilai moderasi dilakukan melalui strategi keteladanan, pembiasaan, mengambil pelajaran, nasihat dan kedisiplinan. Sekolah juga melengkapi komponen program melalui profil sekolah, program moderasi beragama, fasilitas, kolaborasi dan kemitraan, prestasi, penghargaan dan pelatihan, serta pemanfaatan teknologi digital. Salah satu pekerjaan yang masih dikebut adalah pemenuhan fasilitas ibadah.
Menurut Reza, program tersebut berangkat dari kondisi SMAN 15 Surabaya sebagai ruang pendidikan yang mempertemukan siswa dan guru dari berbagai latar belakang agama, budaya, suku, karakter dan lingkungan keluarga.
Keberagaman tersebut, kata dia, harus dikelola sebagai kekuatan agar tidak berkembang menjadi prasangka, eksklusivisme, intoleransi maupun konflik. “Untuk lingkungan SMA, tujuan akhirnya adalah membentuk generasi yang kuat agamanya, luas wawasannya, lembut sikapnya, kritis pikirannya, dan mampu hidup damai dalam masyarakat Indonesia yang majemuk,” katanya.
Penguatan moderasi juga dinilai penting di tengah derasnya arus informasi di media sosial. Siswa berhadapan dengan berbagai informasi keagamaan yang tidak selalu utuh dan berpotensi memunculkan provokasi maupun kebencian.
Karena itu, sekolah mendorong literasi digital keagamaan agar siswa mampu menyaring informasi, berdialog secara santun, tidak mudah memberikan label kepada kelompok lain, serta tetap teguh menjalankan keyakinannya tanpa merendahkan keyakinan orang lain.
Implementasinya kemudian diperluas dalam kehidupan sekolah, mulai dari interaksi siswa, kegiatan OSIS, ekstrakurikuler, pembelajaran, peringatan hari besar keagamaan, kegiatan sosial hingga penyelesaian konflik antarsiswa.
Reza juga menegaskan, predikat sebagai Sekolah Moderasi Beragama bukan menjadi garis akhir. Justru penghargaan tersebut menjadi amanah untuk memastikan nilai moderasi benar-benar tumbuh sebagai budaya sekolah. “Berbeda keyakinan, tetap bersaudara. Berbeda budaya, tetap bersama. Berbeda pilihan, tetap dalam persatuan,” pungkasnya.
Melalui program tersebut, SMAN 15 Surabaya menargetkan lahirnya siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga toleran, santun, terbuka terhadap perbedaan, mampu berdialog, cinta damai, menolak kekerasan, serta memiliki semangat persatuan dan kebangsaan. [ina.wwn]

