31.7 C
Sidoarjo
Tuesday, June 23, 2026
spot_img

SIG Sejahterakan Masyarakat Aceh, Olah Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak Bernilai Ekonomi

Gresik, Bhirawa – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) melalui anak usahanya, PT Solusi Bangun Andalas, mengubah persoalan sampah kelapa di kawasan wisata Pantai Lampuuk, Aceh, menjadi sumber penghidupan baru bagi warga. Melalui program bernama Sakeladera (Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera), limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Sebanyak sekitar 60 ton sampah kelapa yang terkumpul setiap bulan diubah menjadi cocopeat — serbuk halus dari sabut kelapa — yang kemudian dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak. Inovasi ini berhasil memangkas biaya pakan bagi peternak unggas hingga 60 persen, sekaligus menekan emisi karbon yang sebelumnya dihasilkan dari pembakaran limbah tersebut.

Awalnya, sampah kelapa yang berasal dari aktivitas pariwisata di Pantai Lampuuk mencapai 60 ton per bulan. Limbah ini hanya dibiarkan membusuk atau dibakar, yang melepaskan emisi karbon sebesar 34,8 ton CO₂ setiap bulannya. Di sisi lain, para peternak unggas di wilayah itu kesulitan mendapatkan pasokan pakan yang terjangkau dan harus mengandalkan suplai dari luar daerah, sehingga biaya pengeluaran bisa mencapai Rp48 juta per bulan.

Sejak tahun 2024, PT Solusi Bangun Andalas meluncurkan program Sakeladera dengan menggandeng komunitas Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil). Kerja sama ini melanjutkan kolaborasi yang sudah terjalin sejak 2022 melalui program Sobat Si Abes. Selain menyediakan peralatan pengolahan, perusahaan juga memberikan pendampingan teknis dan edukasi kepada masyarakat agar program ini dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

Berita Terkait :  Antisipasi Lonjakan Liburan, Polres Probolinggo Jaga Ketat Jalur Bromo

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyatakan bahwa program ini merupakan wujud nyata komitmen keberlanjutan SIG, sejalan dengan pilar “Perlindungan Lingkungan” dan “Menciptakan Nilai untuk Komunitas” dalam Sustainability Roadmap SIG 2030.

“Panduan ini menjadi acuan strategis bagi seluruh unit usaha SIG. Program Sakeladera membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan,” ujar Vita.

Hasilnya, program ini memberikan dampak ganda yang positif. Jumlah sampah kelapa yang terbuang berhasil ditekan menjadi hanya 20–24 ton per bulan. Biaya pakan ternak pun turun hingga sekitar Rp28,2 juta per bulan, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

Secara ekonomi, program ini juga menyerap tenaga kerja sebanyak 28 orang, mulai dari pengumpulan, pengolahan, hingga pendistribusian produk. Cocopeat yang dihasilkan pun telah lulus uji laboratorium dan dinilai layak digunakan sebagai campuran pakan.

“Dilihat dari nilai investasinya, rasio Social Return on Investment atau SROI mencapai 2,5. Artinya, setiap Rp1 yang diinvestasikan, memberikan manfaat sebesar Rp2,5 bagi masyarakat. Ini menjadi solusi yang efektif mengatasi masalah lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga,” tambahnya.

Salah satu penerima manfaat, Muhammad Ikhsan dari Kelompok Usaha Puyuh Andalas, menyampaikan rasa terima kasihnya. Menurutnya, program ini sangat membantu kelancaran usaha kelompoknya.

“Dulu sampah kelapa hanya dibuang atau dibakar, tapi sekarang bisa diolah jadi barang yang bernilai ekonomi. Manfaatnya sangat terasa dan langsung dirasakan oleh kami para peternak,” ungkapnya. [kim.kt]

Berita Terkait :  Jalankan Program CSR Terbaik, PGN Group Raih 13 Penghargaan Asian Impact Awards 2024

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!