29 C
Sidoarjo
Sunday, April 19, 2026
spot_img

Setiap Hari, Empat Kubik Sampah Kotori Aliran Sungai Welang dan Gembong Kota Pasuruan

Kota Pasuruan, Bhirawa
Permasalahan sampah di aliran sungai masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar bagi Pemkot Pasuruan. Hingga kini kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem perairan lokal masih terus diuji, terutama saat musim penghujan tiba di mana volume sampah kerap mengalami lonjakan drastis.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pasuruan mencatat, dua sungai utama yakni Sungai Welang dan Sungai Gembong, masih menjadi titik tumpuan tumpukan sampah. Setiap harinya, personel kebersihan harus berjibaku mengangkat material sampah yang mengotori aliran air.

Kepala Dinas PUPR Kota Pasuruan, Gustap Purwoko, menyampaikan volume sampah yang diangkut petugas tergolong cukup tinggi. Dalam kondisi normal, rata-rata sampah yang berhasil dievakuasi mencapai empat meter kubik per hari. Namun, angka ini akan membengkak signifikan saat cuaca ekstrem melanda.

”Bila saat hujan atau banjir, volumenya tambah banyak dua kali lipat dari biasanya,” ujar Gustap Purwoko, Minggu (19/4).

Meski imbauan demi imbauan terus digulirkan, kenyataan di lapangan menunjukkan sampah masih kerap ditemukan mengambang di badan sungai. Untuk mengatasi hal ini, Dinas PUPR rutin menurunkan personel Sumber Daya Air (SDA) untuk melakukan pembersihan secara berkala.

Setiap harinya, petugas menggunakan tiga unit mobil pick up untuk mengangkut limbah itu menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Blandongan di Kecamatan Bugulkidul. Gustap merinci, jenis sampah yang ditemukan sangat beragam, mulai dari limbah domestik rumah tangga hingga material kayu.

Berita Terkait :  Scimago 2025 Riset dan Inovasi Unusa Melampaui Kampus Bergengsi

”Bila dirata-rata, ada sekitar empat kubik yang kami peroleh dari sejumlah sungai di wilayah kota. Sejauh ini, sampah rumah tangga masih mendominasi,” kata Gustap Purwoko.

Kondisi menjadi semakian memprihatinkan saat banjir melanda. Menurut Gustap, volume sampah yang terbawa arus bisa melonjak hingga delapan meter kubik. Pada momen ini, petugas harus bekerja ekstra keras dengan mengerahkan hingga delapan armada pick up untuk memindahkan sampah ke TPA.

Selain sampah plastik, tantangan utama petugas adalah keberadaan sampah kayu dan bambu (barongan) yang hanyut. Tumpukan material organik ini disinyalir menjadi penyebab utama terhambatnya aliran air yang memicu luapan sungai ke permukiman warga. Melalui upaya rutin ini, Pemkot Pasuruan berharap risiko banjir dapat diminimalisasi.

Kendati demikian, sinergi dan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan warga untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan lingkungan hidup di Kota Pasuruan.

”Setiap hari, petugas SDA rutin membersihkan sungai. Mereka terjun langsung mengambil sampah yang terbawa aliran demi memastikan air tetap mengalir lancar,” kata Gustap. [hil.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!