Pasuruan, Bhirawa
Di bawah langit Kota Pasuruan yang beranjak senja, sebuah babak baru bagi kesetaraan umat resmi tertulis. Langkah kaki para Sahabat Tuli yang berkumpul di Gedung Gradika Bhakti Praja, Sabtu (18/4), bukan sekadar menghadiri seremoni biasa.
Sore itu menjadi saksi bisu atas ikhtiar panjang merawat nyala iman melalui peresmian Rumah Qur’an Sahabat Tuli (RQST) Al Izzah. Peresmian ini menjadi penegas keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi hamba untuk bercengkerama dengan kalam Ilahi.
Pemkot Pasuruan, di bawah kepemimpinan Wali Kota Adi Wibowo, menunjukkan keberpihakan nyata dalam membangun fondasi kota yang inklusif atau sebuah kota yang memuliakan seluruh warganya tanpa terkecuali.
Wali Kota Pasuruan, yang akrab disapa Mas Adi, dalam sambutannya tak mampu menyembunyikan rasa haru sekaligus bangga.
Baginya, berdirinya RQST Al Izzah adalah buah dari pohon kesabaran yang ditanam selama bertahun-tahun. Perjuangan menghadirkan wadah literasi Al-Qur’an bagi kelompok disabilitas bukanlah perkara mudah, melainkan jalan terjal yang membutuhkan keteguhan hati.
“Terima kasih atas perjuangannya. Ini tidak mudah, memerlukan komitmen dan konsistensi yang luar biasa,” papar Mas Adi di hadapan para hadirin.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas dukungan yang mengalir, termasuk pendistribusian sekitar 2.000 mushaf Juz ‘Amma khusus bagi Sahabat Tuli dari tingkat Jawa Timur. Kehadiran fasilitas itu diharapkan menjadi oase bagi dahaga spiritual para penyandang disabilitas rungu yang tergabung dalam Perkumpulan Tunarungu Indonesia (Pertakin) di Kota Pasuruan.
Nostalgia perjuangan sempat terbersit dalam ingatan Mas Adi. Ia mengenang masa-masa awal di mana proses belajar mengajar Al-Qur’an bagi Sahabat Tuli dilakukan dengan segala keterbatasan.
Mulai dari sudut-sudut Musala di rumah dinas Wakil Wali Kota hingga memanfaatkan Pendopo Surga Surgi. Meski fasilitas kala itu jauh dari kata ideal, semangat para Sahabat Tuli untuk mengeja petunjuk langit tidak pernah surut. Kini, dengan adanya rumah Qur’an yang representatif, keterbatasan tempat bukan lagi menjadi aral melintang.
“Ini adalah semangat baru. Selama ini mungkin masih banyak keterbatasan fasilitas, namun hari ini kita buktikan komitmen kita untuk menghadirkan pembangunan yang inklusif,” kata Mas Adi.
Bagi Pemkot Pasuruan, pembangunan infrastruktur fisik harus berjalan beriringan dengan pembangunan jiwa. RQST Al Izzah diproyeksikan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat peradaban kecil tempat nilai-nilai Al-Qur’an diamalkan.
Mas Adi berharap, tempat itu akan memancarkan keberkahan yang meluas bagi seluruh masyarakat kota. Inklusivitas yang diusung bukan sekadar slogan politik, melainkan upaya menyediakan sarana dan prasarana yang setara bagi setiap warga negara untuk bertumbuh.
“Teruslah belajar dan memberikan manfaat bagi semua. Kita ingin Kota Pasuruan menjadi kota yang benar-benar inklusif, tanpa ada yang merasa ditinggalkan,” jelas Mas Adi menutup arahannya dengan optimisme tinggi. [hil.wwn]


