Oleh:
Rachmat Caesar BS, Bhirawa
Sejak pukul 06.00 WIB, 171 pemuda dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur sudah memadati Lapangan Bogowonto Surabaya, Rabu (24/6).
Mereka datang membawa harapan yang sama, yakni memperoleh kesempatan lolos dalam Program Rekrut dan Seleksi Pemagangan ke Jepang yang difasilitasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Ketenagakerjaan RI dan IM Japan.
Bagi sebagian peserta, seleksi ini bukan sekadar ajang mengukur kemampuan fisik. Program yang setiap tahun difasilitasi Disnakertrans Jatim tersebut menjadi salah satu jalur strategis bagi pemuda untuk memperoleh pengalaman kerja internasional sekaligus meningkatkan kompetensi dan daya saing di dunia kerja.
Sejak pagi para peserta menjalani serangkaian tahapan seleksi mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga tes ketahanan fisik berupa lari, push up, dan sit up.
Beberapa peserta harus menghentikan perjuangannya lebih awal karena tidak memenuhi standar yang ditetapkan, sementara yang lain terus berusaha menyelesaikan setiap tahapan demi melangkah ke proses berikutnya.
Melalui program ini, Disnakertrans Jatim tidak hanya memfasilitasi penempatan peserta ke Jepang, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memiliki disiplin, etos kerja, serta keterampilan sesuai kebutuhan dunia industri global.
Melalui rekrutmen yang dilakukan secara berkala, pemerintah daerah berupaya memperluas akses pemuda Jawa Timur terhadap peluang pemagangan luar negeri yang legal dan terstruktur.
Ketua Asosiasi LPK Magang IM Japan Jawa Timur, Abdul Azis S.Ab., M.H., menjelaskan bahwa lembaga pelatihan kerja memiliki peran penting dalam menyiapkan peserta sebelum mengikuti seleksi yang diselenggarakan Disnakertrans Jatim dan Kementerian Ketenagakerjaan.
Pembinaan yang diberikan tidak hanya berupa pembelajaran bahasa Jepang, tetapi juga latihan ketahanan fisik, matematika dasar, wawancara, serta pengenalan budaya dan etos kerja Jepang.
Menurutnya, kesiapan fisik menjadi salah satu faktor utama karena lingkungan kerja di Jepang memiliki standar disiplin dan produktivitas yang tinggi. Oleh karena itu, peserta dibiasakan dengan latihan fisik dan pembentukan karakter sejak berada di lembaga pelatihan.
“Yang kami bangun bukan hanya kemampuan kerja, tetapi juga kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Harapannya setelah selesai program, peserta tidak hanya memiliki pengalaman bekerja di luar negeri, tetapi juga mampu membuka usaha mandiri dan menciptakan lapangan kerja di daerahnya masing-masing,” ujar Abdul Azis.
Seleksi ketahanan fisik yang dilaksanakan hari itu merupakan bagian dari rangkaian panjang proses rekrutmen. Setelah tahapan tersebut, peserta yang lolos masih harus mengikuti wawancara, pemeriksaan kesehatan lanjutan, pelatihan bahasa Jepang, hingga pendidikan dan pelatihan sebelum diberangkatkan ke Jepang.
Menurut Abdul Azis, dari lembaga yang dipimpinnya di Banyuwangi saja lebih dari 600 peserta telah berhasil diberangkatkan melalui program pemagangan Jepang sejak tahun 2009.
Ia meyakini semakin banyak pemuda yang mengikuti program tersebut, semakin besar pula dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat melalui peningkatan keterampilan, penyerapan tenaga kerja, dan kesejahteraan keluarga peserta.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari kalangan pendidikan. Ketua Bursa Kerja Khusus (BKK) SMKN 1 Udanawu Blitar, Irvan Hendra Vidiansyah, S.Kom., mengatakan pihak sekolah telah melakukan berbagai persiapan sejak siswa masih berada di bangku kelas XI.
Melalui BKK, siswa diperkenalkan pada dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk peluang mengikuti program pemagangan ke Jepang.
Menurut Irvan, antusiasme siswa untuk mengikuti program pemagangan luar negeri terus meningkat setiap tahun. Pada seleksi kali ini, sebanyak 15 siswa dari SMKN 1 Udanawu Blitar turut berpartisipasi. Meski sempat ada peserta yang mengalami gangguan kesehatan, seluruh siswa tetap berupaya mengikuti tahapan seleksi dengan maksimal.
Ia menilai program IM Japan sangat membantu lulusan SMK karena menawarkan kesempatan bekerja di luar negeri dengan biaya yang relatif terjangkau dibandingkan jalur lainnya. Namun kesiapan fisik tetap menjadi tantangan utama sehingga latihan harus dilakukan secara rutin sejak jauh hari sebelum seleksi.
“Kendala yang paling sering dihadapi peserta memang pada aspek fisik. Karena itu latihan harus dilakukan secara rutin dan tidak bisa dipersiapkan secara mendadak menjelang seleksi,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Feriawan, S.Pd., MT., Gr., dari BKK SMK Sore Tulungagung. Menurutnya, seleksi IM Japan memang dikenal ketat karena mengutamakan kualitas peserta yang akan diberangkatkan.
Namun proses yang panjang tersebut menjadi jaminan bahwa peserta yang lolos benar-benar siap menghadapi kehidupan dan pekerjaan di Jepang.
Ia menjelaskan bahwa selain kemampuan fisik, peserta juga harus menguasai bahasa Jepang serta memiliki kedisiplinan tinggi. Hal itu penting karena lingkungan kerja di Jepang menuntut ketepatan waktu, tanggung jawab, dan konsistensi dalam bekerja.
Di tempat yang sama, Tim Seleksi Pusat Direktorat Bina Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Ditjen Binalavotas Kementerian Ketenagakerjaan, Isnan Rahardi, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung di Surabaya merupakan bagian dari rekrutmen Program Pemagangan Jepang hasil kerja sama pemerintah Indonesia dengan IM Japan yang pelaksanaannya didukung Disnakertrans Provinsi Jawa Timur.
Menurutnya, program yang telah berjalan sejak 1993 tersebut telah memberangkatkan lebih dari 50 ribu peserta melalui jalur pemerintah. Para peserta ditempatkan di berbagai sektor industri seperti manufaktur, pertanian, dan konstruksi selama tiga hingga lima tahun.
Isnan menyebut Disnakertrans Jatim menjadi mitra penting dalam pelaksanaan seleksi di daerah. Untuk menyiapkan peserta yang berkualitas, Kementerian Ketenagakerjaan juga bekerja sama dengan berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang bertugas melakukan pembinaan dan persiapan calon peserta sebelum mengikuti seleksi resmi.
“Jepang memiliki budaya kerja dan lingkungan yang berbeda dengan Indonesia. Karena itu yang dicari adalah mereka yang benar-benar siap, baik secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Seleksi yang berlangsung di Lapangan Bogowonto hari itu menjadi bukti bahwa jalan menuju Jepang memang tidak mudah. Namun bagi para peserta, tantangan tersebut merupakan langkah awal untuk mewujudkan mimpi meniti karier internasional sekaligus membawa manfaat bagi daerah dan masyarakat ketika kembali ke tanah air. [rac.gat]


