31.1 C
Sidoarjo
Wednesday, June 24, 2026
spot_img

Ketahanan Fisik Jadi Penentu Lolos Ujian Berikutnya, Peserta Seleksi Pemagangan Jepang Berjuang Sejak Pagi di Lapangan Bogowonto

Pemprov, Bhirawa – Sejak pukul 06.00 Wib, 171 pemuda dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur sudah memadati Lapangan Bogowonto Surabaya, Rabu (24/6). Mereka datang membawa harapan yang sama, yakni memperoleh kesempatan untuk lolos dalam setiap ujian dalam Program Rekrut dan Seleksi Program Pemagangan ke Jepang yang difasilitasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Ketenagakerjaan RI dan IM Japan.

Bagi sebagian peserta, seleksi ini bukan sekadar ajang mengukur kemampuan fisik. Program yang setiap tahun difasilitasi Disnakertrans Jatim tersebut menjadi salah satu jalur strategis bagi pemuda untuk memperoleh pengalaman kerja internasional sekaligus meningkatkan kompetensi yang nantinya dapat dimanfaatkan saat kembali ke daerah asal.

Sejak pagi para peserta menjalani serangkaian tahapan seleksi mulai pemeriksaan kesehatan hingga tes ketahanan fisik berupa lari, push up, dan sit up. Beberapa peserta harus menghentikan perjuangannya lebih awal karena tidak memenuhi standar yang ditetapkan, sementara yang lain terus berusaha menyelesaikan setiap tahapan demi melangkah ke proses berikutnya.

Melalui program ini, Disnakertrans Jatim tidak hanya memfasilitasi penempatan pemuda Jawa Timur ke Jepang, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memiliki disiplin, etos kerja, serta keterampilan sesuai kebutuhan dunia industri global.

Ketua Asosiasi LPK Magang IM Japan Jawa Timur, Abdul Azis S.Ab., M.H., menjelaskan bahwa lembaga pelatihan kerja memiliki peran penting dalam menyiapkan peserta sebelum mengikuti seleksi yang diselenggarakan Disnakertrans Jatim dan Kementerian Ketenagakerjaan. Pembinaan yang diberikan tidak hanya berupa pembelajaran bahasa Jepang, tetapi juga latihan ketahanan fisik, matematika dasar, wawancara, serta pengenalan budaya dan etos kerja Jepang.

Menurutnya, kesiapan fisik menjadi salah satu faktor utama karena lingkungan kerja di Jepang memiliki standar disiplin dan produktivitas yang tinggi. Oleh karena itu, peserta dibiasakan dengan latihan fisik dan pembentukan karakter sejak berada di lembaga pelatihan.

“Yang kami bangun bukan hanya kemampuan kerja, tetapi juga kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Harapannya setelah selesai program, peserta tidak hanya memiliki pengalaman bekerja di luar negeri, tetapi juga mampu membuka usaha mandiri dan menciptakan lapangan kerja di daerahnya masing-masing,” ujar Abdul Azis.

Berita Terkait :  Karutan Kelas IIB Situbondo Ajak Ratusan WBP dan Pegawai Pererat Persatuan Kesatuan

Ia menambahkan, sinergi antara Disnakertrans Jatim, Kementerian Ketenagakerjaan, IM Japan, dan lembaga pelatihan kerja selama ini telah membuka peluang yang lebih luas bagi pemuda Jawa Timur untuk memperoleh pengalaman kerja internasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah.

Abdul Azis menilai program pemagangan Jepang memberikan manfaat besar bagi generasi muda. Selain memperoleh pengalaman kerja internasional, para peserta juga mendapatkan pendidikan karakter yang kuat, terutama dalam hal kejujuran, tanggung jawab, dan etos kerja yang menjadi ciri khas dunia industri Jepang.

“Harapan pemerintah sebenarnya bukan hanya mengirim peserta ke Jepang. Setelah selesai program, mereka diharapkan kembali ke Indonesia membawa pengalaman, keterampilan, dan modal untuk membuka usaha atau menciptakan lapangan kerja di daerahnya masing-masing,” katanya.

Seleksi ketahanan fisik yang dilaksanakan hari ini merupakan bagian dari rangkaian panjang proses rekrutmen. Setelah tahapan tersebut, peserta yang lolos masih harus mengikuti wawancara, pemeriksaan kesehatan lanjutan, pelatihan bahasa Jepang, hingga pendidikan dan pelatihan sebelum diberangkatkan ke Jepang.

Menurut Abdul Azis, dari lembaga yang dipimpinnya di Banyuwangi saja, lebih dari 600 peserta telah berhasil diberangkatkan melalui program pemagangan Jepang sejak tahun 2009. Bersama sejumlah lembaga pelatihan lain di berbagai daerah Jawa Timur, pihaknya terus mendorong agar program tersebut dapat berlanjut dan kuotanya semakin ditingkatkan.

Ia meyakini semakin banyak pemuda yang diberangkatkan ke Jepang, semakin besar pula dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat. Selain membantu menekan angka pengangguran terbuka, keberangkatan peserta juga berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi keluarga mereka.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari kalangan pendidikan. Ketua Bursa Kerja Khusus (BKK) SMKN 1 Udanawu Blitar, Irvan Hendra Vidiansyah, S.Kom, mengatakan pihak sekolah telah melakukan berbagai persiapan sejak siswa masih berada di bangku kelas XI. Melalui BKK, siswa diperkenalkan pada dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk peluang mengikuti program pemagangan ke Jepang.

Berita Terkait :  Bupati dan Wabup Madiun Bersama Staf Silaturahmi ke Bupati Sepuh di Solo

Menurut Irvan, antusiasme siswa untuk mengikuti program pemagangan luar negeri terus meningkat setiap tahun. Pada seleksi kali ini, sebanyak 15 siswa dari SMKN 1 Udanawu Blitar turut berpartisipasi. Meski sempat ada peserta yang mengalami gangguan kesehatan, seluruh siswa tetap berupaya mengikuti tahapan seleksi dengan maksimal.

Ia menilai program IM Japan sangat membantu lulusan SMK karena menawarkan kesempatan bekerja di luar negeri dengan biaya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan jalur lainnya. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kesiapan fisik harus dibangun jauh sebelum pelaksanaan seleksi.

“Kendala yang paling sering dihadapi peserta memang pada aspek fisik. Karena itu latihan harus dilakukan secara rutin dan tidak bisa dipersiapkan secara mendadak menjelang seleksi,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Feriawan, S.Pd., MT., Gr, dari BKK SMK Sore Tulungagung. Menurutnya, seleksi IM Japan memang dikenal ketat karena mengutamakan kualitas peserta yang akan diberangkatkan. Namun proses yang panjang tersebut justru menjadi jaminan bahwa peserta yang lolos benar-benar siap menghadapi kehidupan dan pekerjaan di Jepang.

Ia menjelaskan bahwa selain kemampuan fisik, peserta juga harus menguasai bahasa Jepang serta memiliki kedisiplinan tinggi. Hal itu penting karena lingkungan kerja di Jepang menuntut ketepatan waktu, tanggung jawab, dan konsistensi dalam bekerja.

Ditempat yang sama, Tim Seleksi Pusat Direktorat Bina Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Ditjen Binalavotas Kementerian Ketenagakerjaan, Isnan Rahardi, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung di Surabaya merupakan bagian dari rekrutmen Program Pemagangan Jepang hasil kerja sama pemerintah Indonesia dengan IM Japan yang pelaksanaannya didukung penuh oleh Disnakertrans Provinsi Jawa Timur.

Menurutnya, program yang telah berjalan sejak 1993 tersebut telah memberangkatkan lebih dari 50 ribu peserta melalui jalur pemerintah. Para peserta ditempatkan di berbagai sektor industri seperti manufaktur, pertanian, dan konstruksi selama tiga hingga lima tahun.

Berita Terkait :  Incàr Masuk Lima Besar Nasional Smart City, Pemkot Mojokerto Bangun Ekosistem Kota Cerdas

“Disnakertrans Jatim selama ini menjadi mitra penting dalam pelaksanaan seleksi di daerah. Melalui dukungan pemerintah daerah, semakin banyak generasi muda yang memperoleh akses mengikuti program pemagangan luar negeri secara resmi dan terstruktur,” ujarnya

“Tujuan akhirnya bukan hanya bekerja di Jepang. Mereka diharapkan pulang ke Indonesia dengan membawa keterampilan, pengalaman, etos kerja, dan kedisiplinan yang bisa ditularkan kepada masyarakat di lingkungan sekitarnya. Harapannya mereka juga mampu membuka lapangan kerja baru ketika kembali ke daerah asal,” imbuhnya.

Untuk menyiapkan peserta yang berkualitas, Kementerian Ketenagakerjaan bekerja sama dengan berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang bertugas melakukan pembinaan dan persiapan calon peserta sebelum mengikuti seleksi resmi.

Isnan menegaskan bahwa seleksi Program IM Japan dikenal lebih ketat dibandingkan jalur lainnya karena peserta yang diberangkatkan membawa nama bangsa dan negara. Karena itu, kesiapan fisik, mental, disiplin, dan kemampuan beradaptasi menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki.

“Jepang memiliki budaya kerja dan lingkungan yang berbeda dengan Indonesia. Kalau tidak dipersiapkan dengan baik, peserta akan kesulitan beradaptasi. Karena itu yang dicari adalah mereka yang benar-benar siap, baik secara fisik maupun mental,” ujarnya.

Bagi ratusan peserta yang sejak pagi berlari mengelilingi lapangan dan berjuang menyelesaikan setiap tahapan tes, seleksi ini bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Di balik setiap tetes keringat yang jatuh, tersimpan harapan untuk mengubah masa depan, membantu keluarga, serta memperoleh kesempatan belajar langsung dari salah satu negara dengan budaya kerja terbaik di dunia.

Seleksi yang berlangsung di Lapangan Bogowonto hari itu menjadi bukti bahwa jalan menuju Jepang memang tidak mudah. Namun bagi para peserta, tantangan tersebut justru menjadi langkah awal untuk mewujudkan mimpi meniti karier internasional sekaligus membawa manfaat bagi daerah dan masyarakat ketika mereka kembali ke tanah air.  [rac.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!