29 C
Sidoarjo
Wednesday, April 22, 2026
spot_img

Potensi Kopi Kabupaten Malang Dorong Inovasi Ekonomi Kreatif Berbasis Lingkungan

Kab Malang, Bhirawa

Selama ini wilayah Malang Selatan, Kabupaten Malang dikenal luas sebagai destinasi wisata alam. Namun dibalik itu, wilayah ini juga menyimpan potensi besar di sektor pertanian dan perkebunan, khususnya komoditas kopi yang telah berkembang sejak masa kolonial Belanda.

Salah satu yang menonjol adalah kopi “Amstirdam”, yang namanya diambil dari gabungan empat kecamatan di Malang Selatan, yakni Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit. Kopi dari kawasan ini didominasi jenis robusta, meski juga menghasilkan arabika, dan telah dikenal hingga pasar Eropa.

Selain Amstirdam, sejumlah sentra kopi unggulan lainnya turut memperkuat posisi Kabupaten Malang sebagai daerah penghasil kopi berkualitas. Di antaranya berada di lereng Gunung Kawi, tepatnya di Kecamatan Wonosari yang dikelola oleh Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, serta di lereng Gunung Arjuno, Kecamatan Karangploso. Dan tidak ketinggalan, kopi dari Desa Taji, Kecamatan Jabung dan kopi dari Desa Benjor, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, juga mulai mendapat perhatian. Beberapa kawasan perkebunan tersebut kini bahkan dikembangkan sebagai wisata agro yang menawarkan edukasi pengolahan kopi dari hulu hingga hilir.

Di tengah tingginya produksi kopi, muncul tantangan baru terkait pengelolaan limbah kulit kopi. Selama ini, limbah tersebut kerap dianggap tidak bernilai dan hanya berakhir sebagai sisa produksi. Padahal, dengan pendekatan inovatif, limbah ini berpotensi menjadi bahan bernilai ekonomi tinggi.

Berita Terkait :  Juli, Inflasi Provinsi Jawa Timur Y on Y Sebesar 2,13 Persen

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang, Rabu (22/4), kepada wartawan mengatakan, pihaknya siap berkolaborasi dengan petani kopi dalam mendorong sektor ekonomi kreatif berbasis keberlanjutan lingkungan. Salah satu inisiatif yang mulai berkembang adalah pemanfaatan limbah kulit kopi oleh komunitas kreatif seperti Agrilo.

Melalui program inovatif, limbah kulit kopi diolah menjadi material alternatif menyerupai kulit sintetis atau vegan leather. Material ini kemudian dimanfaatkan untuk berbagai produk kriya, seperti dompet, tas, hingga aksesori fesyen.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi solusi ramah lingkungan dengan nilai jual tinggi. Bukan sekadar produksi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia katakan, nantinya melalui berbagai kegiatan, masyarakat kita ajak terlibat langsung dalam proses pengolahan limbah tersebut. Dengan pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran sekaligus keterampilan masyarakat dalam mengelola sumber daya secara berkelanjutan. Sehingga dengan sinergi antara sektor perkebunan dan ekonomi kreatif. “Kabupaten Malang berpeluang tidak hanya mempertahankan reputasinya sebagai penghasil kopi unggulan, tetapi juga menjadi pionir dalam inovasi ramah lingkungan berbasis potensi lokal,” terangnya. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!