Surabaya, Bhirawa
Tren konsumsi masyarakat Jawa Timur mulai menunjukkan penguatan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Bank Indonesia mencatat penjualan eceran pada Februari 2026 tumbuh 4,2 persen secara bulanan (month to month/MtM), berbalik dari kontraksi pada Januari.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengungkapkan peningkatan ini didorong momentum musiman seperti Imlek, cuti bersama, hingga awal Ramadan yang mendorong belanja masyarakat.
“Mayoritas kelompok komoditas mengalami kenaikan, terutama suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga, sandang, serta makanan dan minuman,” terangnya, Rabu (22/4).
Secara tahunan (year on year/YoY), kinerja ritel di Surabaya juga menguat dengan pertumbuhan 13,2 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 10,9 persen.
Lonjakan ini terutama ditopang sektor suku cadang dan aksesori yang tumbuh signifikan, serta kelompok makanan dan minuman.
Sementara itu, memasuki Maret 2026, tren positif diperkirakan berlanjut. BI Jatim memproyeksikan penjualan eceran tumbuh 8,4 persen (MtM), seiring meningkatnya permintaan selama Ramadan dan Idulfitri serta distribusi barang yang lebih lancar.
Adapun kinerja tahunan juga diperkirakan meningkat, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 tumbuh 13,6 persen. Pendorong utamanya berasal dari sektor sandang, bahan bakar kendaraan, makanan dan minuman, serta peralatan informasi dan komunikasi.
Namun demikian, BI mengingatkan potensi tekanan dari sisi eksternal. Ketidakpastian global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, berisiko mendorong kenaikan harga energi yang dapat berdampak pada daya beli masyarakat.
“Jika harga energi meningkat, maka harga komoditas terkait bisa ikut terdorong dan berpengaruh terhadap konsumsi,” jelas Ibrahim.
Meski ada tantangan, penguatan konsumsi domestik menjelang hari besar keagamaan diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dalam jangka pendek. [riq.kt]


