27.8 C
Sidoarjo
Thursday, July 2, 2026
spot_img

Piala Dunia dan Potret Kekinian

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Perhelatan Piala Dunia (World Cup) FIFA tahun 2026 yang berlangsung di tiga negara secarabersamaan yakniAmerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen mayor edisiinimencatatsejarahsebagaiturnamenpertama yang diselenggarakan di tiga negara sekaligus, serta yang terbesarkarenadiikuti oleh 48 tim yang peserta yang bertanding di 16 kota tuan rumah. Ajang yang berlangsung dari 11 Junihingga 20 Juli ini tengah menyita perhatian dan mengalihkan sejenak berbagai permasalahan global seperti konflik di timur tengah, kenaikan harga minyak dunia dan dollar Amerika serta problem dalam negeri seperti maraknya PHK, melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok dan seabrek masalah sosial lainnya. Minimal even Piala Dunia kali ini sebagai momentum untuk meredakan tensi sosial masyarakat yang kian meningkat. Gocekan Ronaldo, liukan Messi, kecepatan Mbappe dan kekuatan Erling Haaland menjadi daya tarik yang mampu menghipnotis penonton. Sepakbola memang memiliki kekuatan magic yang seakan menyihir jutaan penonton. Hasil rilis FIFA bahwa Piala Dunia kali ini mencatatkanrekorsebagaiedisidenganjumlahpenontonterbanyaksepanjangsejarahturnamen, dengan total mencapai3.605.357 penonton.

Harus diakui bahwa Piala Dunia memberikandampaksosialekonomi yang sangat masif, baiksecara global maupunlokal. Selain itu dapat terciptaembrio kebahagiaan dan persatuankolektif, menguatnyaidentitassosial, sertameningkatnyamotivasimasyarakatuntukberolahraga. Secaramakro, ajanginimendoronglonjakanekonomimelaluisektorpariwisata dan haksiar, sementarasecaramikro, gelaraninimenciptakanpeluangusahainstan, sepertipeningkatanomzetbagi UMKM, pedagang kaki lima, dan kafemelaluikegiatannontonbareng (nobar). Momen Piala Dunia bukan sekedar hiburan atau olahraga semata namun telah berkembang menjadi pusat episentrum kolaborasi antar komunitas, pegiat sosial, pelaku ekonomi (besar, menengah, kecil dan mikro) dan melupakan sejenak kepenatan pekerjaan atau aktivitas lainnya yang menuntut tekanan tinggi. Fenomena nontonbarengmisalnya, mampu menjadiruanginteraksisosial yang menyatukanberbagailapisanmasyarakattanpamemandanglatarbelakang. Inimenciptakaneuforiakomunal dan memberikannilaihiburan yang tinggi sekaligus upaya menggerakan geliat ekonomi masyarakat ditengah kondisi ekonomi yang dipandang tidak sedang baik-baik saja.

Berita Terkait :  Mushola Nurul Fatah Trowulan dapat Sentuhan Program Sedekah Prajurit Kodim 0815/Mojokerto

Kesehatan Mental
Dalam konteks kesehatan masyarakat terutama kesehatan mental bahwa Piala Dunia juga memiliki dampak (psikososial) yang bersifat positif dan negatif. Beberapa dampak positif adalah adaanya peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan. Penelitian menunjukkan bahwa menonton pertandingan olahraga besar dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan secara keseluruhan dan memberikan kebahagiaan jangka panjang. Terbentuknya ikatan sosial (kohesi) dimana menjadi pendukung tim sepak bola membantu mengatasi rasa kesepian dan menciptakan ruang untuk mengekspresikan identitas diri. Berbagi euforia dengan ribuan orang lainnya juga memperkuat rasa memiliki. Mereduksi tekanan hidup atau pelepas stres. Bagi banyak orang, sepak bola adalah media pelampiasan yang sehat untuk melepaskan beban pikiran dan kepenatan setelah rutinitas sehari-hari.

Selain dampak positif, juga memungkinkan memberi dampak negatif yang harus diantisipasi yakni adanya peningkatan stres dan kecemasan. Dalam prakteknya, acapkali otak penggemar seringkali memandang hasil pertandingan sebagai hal yang personal. Momen-momen krusial (seperti adu penalti atau kebobolan di menit akhir) memicu lonjakan adrenalin dan hormon stres (kortisol), yang dikenal dengan respons melawan atau lari (fight-or-flight). Selanjutnya dapat meningkatkan risiko gangguan suasana hati (moods) dimana kemenangan memicu euforia, namun kekalahan tim favorit dapat menimbulkan kekecewaan mendalam, frustrasi, hingga memicu gejala stres berkepanjangan, jika tidak dapat dikelola dengan baik (malkelola stres). Terakhir adalah terjadinya kelelahan fisik yang berdampak pada mental. Pada waktu pertandingan yang sering berlangsung hingga larut malam memicu kebiasaan begadang. Efek kurang tidur secara kumulatif berisiko menurunkan regulasi emosi, memicu gejala stres, hingga menurunkan konsentrasi dan gangguan imunitas tubuh.

Berita Terkait :  Masih Didiskusikan di TAPD, Bupati Tulungagung Pastikan Lakukan Efisiensi Anggaran Perdin

———— *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!