28.1 C
Sidoarjo
Sunday, September 13, 2026
spot_img

Peran Radio di Tengah Arus Informasi Mendewakan Algoritma

Setiap tanggal 11 September, kita memperingati Hari Radio Nasional. Momen ini bukan sekadar seremoni untuk mengenang kelahiran Radio Republik Indonesia (RRI) pada tahun 1945, melainkan sebuah alarm penting bagi kita semua untuk merenungkan kembali posisi media penyiaran ini di era digital. Di tengah kepungan media sosial yang mendewakan algoritma, radio hadir sebagai benteng pertahanan informasi yang bisa dipercaya.

Kita saat ini hidup dalam ekosistem digital yang sangat bising. Algoritma media sosial dirancang untuk memberi pengguna apa yang mereka “inginkan”, bukan apa yang mereka “butuhkan”. Akibatnya, terciptalah ruang gema (echo chamber) yang menyuburkan polarisasi, pembenaran sepihak, dan penyebaran hoaks yang masif. Informasi bergerak sangat cepat, namun sering kali mengabaikan akurasi demi mengejar klik dan viralitas. Masyarakat terjebak dalam pusaran konfirmasi bias yang mengaburkan kebenaran objektif.

Di sinilah radio menunjukkan jati diri dan keunggulannya. Berbeda dengan lini masa media sosial yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan penarik atensi, radio dikelola oleh manusia dan jurnalis profesional. Setiap informasi yang mengudara di radio telah melewati proses kurasi, verifikasi, dan penyuntingan yang ketat. Prinsip jurnalisme klasik-seperti check and recheck serta keberimbangan informasi-tetap menjadi standar emas yang tidak bisa ditawar. Radio tidak mengejar umpan klik (clickbait), melainkan menjaga kepercayaan pendengar. Selain aspek kepercayaan, radio memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh media berbasis layar, yaitu sentuhan kemanusiaan dan kehangatan. Suara seorang penyiar radio tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan peniru suara terbaik sekalipun. Ada kedekatan emosional, empati, dan interaksi nyata yang terbangun. Saat bencana alam terjadi atau situasi darurat melanda, radio terbukti menjadi media paling tangguh yang tetap mengudara ketika jaringan internet lumpuh. Radio memberikan kepastian di tengah kepanikan.

Berita Terkait :  Menjaga "Fitrah" di Luar Bulan Syawal

Melalui surat pembaca ini, saya ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali melirik dan mendengarkan radio. Mendukung radio lokal dan nasional berarti kita turut menjaga eksistensi jurnalisme yang sehat dan berintegritas. Bagi para pengelola stasiun radio, peringatan Hari Radio ini harus menjadi momentum untuk terus berinovasi tanpa kehilangan ruhnya sebagai penyedia informasi yang valid, edukatif, dan kredibel.

Mari kita jadikan radio sebagai penyeimbang di era disrupsi ini. Jangan biarkan kebenaran tunduk pada kendali algoritma. Selamat Hari Radio Nasional! Sekali di Udara, Tetap di Udara!

Rian Aditya
Warga Mulyorejo, Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!