28.9 C
Sidoarjo
Wednesday, June 3, 2026
spot_img

Penurunan Harga Telur, Pemprov Koordinasikan Pengandalian Suplay and Demand


Pemprov, Bhirawa
Pemprov Jatim telahmelakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk kendalikan suplay and demand menjaga harga telur ayam ras di Jawa Timur,termasuk menangani supaly pakan ternak yang harganya justru melonjak.

Saat ini harga telur ayam ras di Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengalami tren penurunan. Di tingkat kandang peternak, harga berkisar Rp21.000-Rp23.000 per kilogram, sedangkan di pasar tradisional sekitar Rp25.000-Rp26.000 per kilogram.

Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Jatim, MHD Aftabuddin Rijaluzzaman, menjelaskan bahwa pada bulan Mei harga sebenarnya masih relatif stabil.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), rata-rata harga bulan Mei tercatat Rp25.500 per kg, dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp30.000/kg.

“Sedangkan harga di tingkat peternak Rp22.800/kg Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp26.500 per kg,” jelas Afta saat dikonfirmasi Bhirawa, Rabu (3/6/2026).

Menurut Afta, data Dinas Peternakan Provinsi Jatim menunjukkan terjadi surplus antara pasokan dan kebutuhan untuk rumah tangga maupun program pemerintah.

“Tercatat, Telur Ayam Ras Bulan Mei 2026 dengan angka ketersediaan mencapai 708.697,47 ton. Sedangkan untuk kebutuhan reguler sebesar 23.962,50 ton,” paparnya.

Untuk kebutuhan konsumsi masyarakat dan program pemerintah tercatat 2.452,67 ton. Kebutuhan pengiriman luar provinsi mencapai 9.188,08 ton. Dengan demikian tercatat surplus sebesar 673.094,22 ton.

“Adanya kelebihan stok daripada kebutuhan pasar disebabkan oleh populasi Day Old Chick (DOC) ayam petelur di peternak yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan di masa datang,” ungkap Afta.

Berita Terkait :  Beri Kenyamanan Investor, Pemkot Batu Siapkan Perda

Ditanya apakah penurunan harga telur disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat, Afta menegaskan tidak. Menurutnya, penurunan harga lebih disebabkan oleh over supply akibat ekspektasi produksi yang tidak sesuai dengan realitas kebutuhan pasar.

“Melimpahnya stok, ternyata tidak diimbangi dengan optimalisasi penyerapan pasar dalam dan luar provinsi,” terang Afta.

Kondisi pasokan yang berlimpah ini sangat mempengaruhi penurunan harga. Produksi telur di Jatim tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam provinsi, tetapi juga kebutuhan lebih dari 20 provinsi lain. Permintaan dari rumah tangga dan program pemerintah provinsi lain turut menentukan daya serap pasokan telur produksi Jawa Timur.

Untuk merespons persoalan ini, Pemprov Jatim melalui Dinas Peternakan Provinsi telah mengambil beberapa langkah konkret.

Salah satunya menjalin komunikasi dan kesepakatan dengan operator program prioritas pemerintah untuk menyerap produksi telur, antara lain koordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk program bantuan pangan dan Badan Gizi Nasional (BGN) agar menambahkan menu berbahan dasar telur sehingga dapat menyerap produksi telur.

“Untuk perbaikan di sektor hulu, mengoptimalkan kebijakan Kementan melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang menghimbau kepada peternak ayam ras petelur untuk dapat melakukan afkir dini pada kisaran umur 90 minggu, karena saat ini di lapangan afkir baru dilakukan setelah umur 110 minggu sehingga over produksi telur bisa diminimalisir,” urai Afta.

Berita Terkait :  Siapkan Rp2 Miliar untuk Program Koperasi Merah Putih, Direalisasikan di 356 Desa

Koordinasi dengan Kanwil Bulog Jawa Timur diharapkan dapat mempercepat distribusi jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Sampai 31 Mei 2026, distribusi jagung tercatat baru 16.910 ton dari total alokasi sesuai Kepmentan 59.023 ton per bulan. Percepatan distribusi diharapkan dapat mengurangi beban biaya pakan ayam ras petelur.

Soal program Makan Bergizi Gratis (MBG), Afta menjelaskan bahwa program-program pemenuhan gizi pemerintah sejauh ini sudah membantu menyerap produksi telur peternak ayam ras.

“Namun perlu optimalisasi koordinasi antara menu MBG yang berbagan dasar telur untuk memetakan kebutuhan dan rencana produksi telur. Hal ini mengingat bahwa telur merupakan sumber protein dengan harga yang terjangkau,” pungkas Afta menutup.

Sebelumnya di awal pekan ratusan peternak ayam petelur se-Blitar Raya menggelar aksi demonstrasi damai di depan Kantor Bupati Blitar, Kanigoro.

Mereka membagikan 1 juta butir telur (sekitar 62 ton) secara gratis kepada masyarakat sebagai bentuk protes akibat anjloknya harga telur yang berada di bawah biaya produksi. [aya.htn.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!