Kota Mojokerto, Bhirawa – Kota Mojokerto kini telah menjadi tujuan kunjungan warga dari berbagai daerah. Hampir setiap minggu selalu ada gelaran acara yang melibatkan masyarakat, baik berskala regional maupun nasional. Salah satunya momen Pengajian Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang menghadirkan Ustadz Zaki Mirza beserta Grup Selawat, digelar di GOR dan Seni Majapahit Kota Mojokerto, Rabu (26/8/2026) malam.
Sejak sore hari, pengunjung pria maupun wanita yang berbusana serba putih sudah berdatangan. Mereka datang tidak hanya dari Kota Mojokerto, tetapi juga dari daerah tetangga seperti Kabupaten Mojokerto hingga Jombang.
Salah satunya Rodiyah (51) yang datang bersama rombongan beranggotakan lima orang dari Kecamatan Puri. Ia mengaku senang bisa hadir di Kota Mojokerto, selain ingin mendengarkan tausiyah secara langsung, juga sekaligus berkesempatan menikmati kuliner gado-gado yang terkenal di Jalan Mojopahit.
“Makanya sejak jam 17.00 kami sudah tiba di Mojokerto, kulineran lanjut sholat Maghrib dan Isya di Masjid Alun-alun lalu menuju GOR dan Seni ini,” jelas Rodiyah.
Suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan pun mewarnai ruangan GOR dan Seni Majapahit. Ribuan pengunjung berbusana putih memadati lokasi dan menggemakan selawat Nabi secara bersamaan mengikuti panduan dari tim selawat.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan masyarakat dalam suasana kekeluargaan dan kebersamaan. Kekompakan warga dinilai menjadi modal penting bagi keberlangsungan pembangunan di Kota Mojokerto.
“Alhamdulillah warga Kota Mojokerto kompak duduk rukun. Ini adalah sebuah modal agar seluruh program dan pembangunan bisa berjalan dengan baik dan lancar ke depannya,” kata Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota.
Dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, Ning Ita mengajak masyarakat untuk menghadirkan semangat keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani sifat-sifat beliau, kehidupan masyarakat diyakini akan semakin damai dan terhindar dari gesekan maupun perselisihan.
“Kalau umat muslimnya Kota Mojokerto senantiasa meneladani sifat-sifat Rasulullah, maka tidak akan ada lagi yang namanya gesekan, tidak akan ada lagi yang namanya gontok-gontokan. Pasti semuanya akan adem ayem, pasti semuanya akan damai,” tuturnya.
Ning Ita menegaskan bahwa kerukunan tersebut menjadi kekuatan Kota Mojokerto yang masyarakatnya plural dengan beragam agama, suku, dan etnis. Kondisi inilah yang membuat Kota Mojokerto telah dinobatkan sebagai Kota Harmoni oleh Kementerian Agama.
“Berbagai suku dan etnis hidup berdampingan di sini. Itulah kenapa sejak empat tahun yang lalu Kota Mojokerto dinobatkan oleh Kementerian Agama sebagai Kota Harmoni, karena masyarakatnya semuanya guyub rukun dan penuh toleransi,” jelasnya.

Sementara itu, dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Ning Ita mengajak masyarakat untuk senantiasa mensyukuri kemerdekaan yang telah dinikmati bangsa Indonesia selama 81 tahun. Di tengah rasa syukur tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap saudara-saudara di berbagai daerah yang sedang menghadapi musibah.
Ning Ita mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama mendoakan masyarakat yang terdampak bencana di NTT, Kalimantan, dan Sulawesi agar diberikan kesabaran, ketabahan, serta keselamatan. Ia juga memohon doa seluruh masyarakat agar Kota Mojokerto senantiasa mendapatkan rahmat dan perlindungan Allah SWT.
“Saya berharap doa panjenengan semua di peringatan Maulidun Rasul ini agar Kota Mojokerto juga senantiasa diberikan rahmat oleh Allah, sehingga menjadi kota yang damai, aman, dan sejahtera bagi seluruh warganya,” imbuhnya.
Ning Ita kemudian mengajak masyarakat untuk terus memperbanyak membaca selawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ia berharap tausiyah yang disampaikan Ustadz Zaki Mirza dapat menjadi tambahan ilmu sekaligus siraman rohani yang membawa kedamaian bagi seluruh masyarakat Kota Mojokerto.
Ustadz Zaki Mirza dalam tausiyahnya mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan secara lebih luas. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebatas bebas dari penjajahan atau diteriakkan melalui kata-kata, tetapi juga harus diwujudkan dalam kebebasan pikiran dan hati dari berbagai penyakit.
“Merdeka itu bukan hanya menyemakkan merdeka lewat kata-kata, tidak. Merdeka itu adalah memerdekakan pikiran kita dari suuzon, buruk sangka, over thinking, sering mikir jelek sama orang lain,” ungkap Zaki Mirza.
Kemerdekaan sejati juga berarti membebaskan hati dari dendam, iri, dengki, dan berbagai penyakit hati lainnya.
“Merdeka itu maknanya adalah memerdekakan hati kita dari penyakit hati, dendam, kesumat, iri, dengki, susah lihat orang lain senang, senang lihat orang lain susah,” tegasnya. [min.kt]



