28.1 C
Sidoarjo
Tuesday, August 11, 2026
spot_img

Pengamat Umsura Dorong Buku Pelajaran Bebas Bias dan Stereotipe


Surabaya, Bhirawa – Pengamat pendidikan dan kajian budaya Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) merespon rencana Presiden Prabowo Subianto meningkatkan kualitas buku pelajaran dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Pengamat pendidikan dan kajian budaya Umsura Radius Setiyawan mengatakan bahwa selama ini fokus mengkaji buku teks sekolah menilai, pemerintah juga perlu pastikan buku pelajaran terbebas dari bias dan stereotipe serta mampu merepresentasikan keberagaman masyarakat Indonesia secara adil, Senin (10/8).

“Perbaikian buku teks jangan cuman soal memperbaiki materi, kualitas cetakan, atau tampilan buku, tapi juga penting adalah memastikan buku tersebut bebas dari bias dan stereotipe,” katanya.

Lanjut Radius menjelaskan buku pelajaran tidak sekadar media untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswa, lebih dari itu buku teks membentuk cara pandang anak dalam memahami lingkungan sosial dan dunia di sekitarnya.

“Penelitian doktoralmengkaji ideologi gender dan ekologi dalam buku teks Kurikulum Merdeka dengan perspektif ekofeminisme, penelitian tersebut ditemukan masih adanya narasi yang bias gender dan kurang ramah terhadap lingkungan dalam buku teks SD,” jelasnya.

Radius mengukapkan suapaya evaluasi buku pelajaran memperhatikan aspek representasi, persoalan seperti stereotipe gender, ras, agama, daerah, kelas sosial, hingga relasi manusia dengan lingkungan perlu menjadi bagian dalam proses evaluasi.

“Indonesia ialah negara yang sangat beragam, jangan sampai buku pelajaran justru menyederhanakan keberagaman tersebut atau menghadirkan kelompok tertentu melalui stereotipe,” pungkasnya.

Berita Terkait :  Koramil 0815/15 Jatirejo Bentuk Karakter Siswa Lewat Pelatihan PBB dan Kedisiplinan

Radius menyapaikan rencana pemerintah membandingkan buku pelajaran Indonesia dengan buku dari sejumlah negara ASEAN perlu dilakukan secara hati-hati. “Kita boleh belajar dari Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, Vietnam atau negara ASEAN lainnya, tapi jangan sekadar mencari buku mana yang lebih bagus, harus melihat apa yang bisa dipelajari dan apa yang sesuai dengan konteks Indonesia,” tuturnya.

Selain representasi sosial, Radius berangapan perspektif ekologis perlu diperkuat pada buku pelajaran, siswa perlu diberikan pemahaman mengenai hubungan manusia dengan lingkungan serta dampak dari berbagai tindakan manusia terhadap alam.

“Anak-anak perlu belajar alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi, perlu memahami hubungan manusia dengan lingkungan dan konsekuensi dari tindakan manusia terhadap alam,” ujarnya.

Radius berharap penyusunan buku pelajaran baru melibatkan berbagai pihak, mulai akademisi, guru, peneliti, praktisi pendidikan hingga kelompok masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari objek representasi dalam buku teks.

“Kalau ingin memperbaiki buku teks, kita tidak cukup hanya bertanya apakah materinya benar. Kita juga perlu bertanya, nilai apa yang sedang kita tanamkan kepada anak melalui buku tersebut?” imbuhnya. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!