28.2 C
Sidoarjo
Sunday, September 6, 2026
spot_img

Pemkab Bondowoso Dorong Hilirisasi Komoditas Lokal

Wabup As’ad saat meninjau salah satu stand kopi saat penutupan Festival Kopi Nusantara dan Tembakau di Alun-alun RBA. Ihsan Kholil/Bhirawa

Festival Kopi Nusantara IX dan Tembakau 2026 Ditutup

Bondowoso, Bhirawa. – Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i, S.E., resmi menutup rangkaian Festival Kopi Nusantara IX dan Tembakau 2026 di Alun-Alun Raden Bagus Asra, Jumat (4/9) malam. Penutupan festival tahunan tersebut menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso untuk memperkuat komitmen mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah.

Langkah itu sekaligus diarahkan untuk membangkitkan kembali sektor perkebunan lokal agar memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi. Yang mana acara penutupan dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Staf Ahli Bupati, Asisten Sekda, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Seperti di antaranya Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag), Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Budparpora), Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, dan Kepala Dinas Perhubungan.

Pimpinan Cabang Bank Jatim Bondowoso Heru Widodo juga hadir sebagai salah satu pihak yang turut mendukung penyelenggaraan festival tersebut.

Wakil Bupati, As’ad Yahya Syafi’i mengapresiasi keberhasilan Festival Kopi Nusantara IX dan Tembakau 2026. Menurut dia, festival tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menyalurkan kreativitas dan menghadirkan kegiatan positif di ruang publik.

Berita Terkait :  Kenaikan UMP 6,5%, Pakar Ekonomi: Akan Berdampak pada Daya Beli Masyarakat

“Festival ini menjadi bukti kesiapan daerah untuk maju di tengah semarak pembangunan dan bangkitnya semangat anak-anak muda Bondowoso. Saat ini, para pemuda kita semakin kreatif meramaikan ruang publik dengan berbagai inovasi dan kegiatan yang positif,” ujarnya.

As’ad juga memberikan apresiasi kepada para peserta yang berhasil meraih juara dalam berbagai perlombaan selama festival berlangsung. Ia berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan membawa nama Bondowoso ke tingkat yang lebih luas.

“Kemenangan ini harus mendorong Anda sekalian untuk terus bekerja dan mengangkat nama Bondowoso di tingkat yang lebih luas,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, As’ad menyampaikan refleksi mengenai proses membangun komoditas lokal agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Ia menggunakan filosofi secangkir kopi untuk menggambarkan pentingnya proses, ketekunan, dan kerja keras dalam mencapai keberhasilan.

“Kopi pertama pagi ini. Hitam, pekat, dan pahit. Namun, jika kau olah dengan hati, ia menyajikan kenikmatan yang tiada tara,”terangnya.

Menurutnya, keberhasilan tidak dapat diperoleh secara instan. Pengembangan potensi daerah maupun potensi diri membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kerja keras yang dilakukan secara konsisten.

Filosofi tersebut dinilai sejalan dengan karakter kopi Arabika Ijen-Raung dan tembakau khas Bondowoso. Kedua komoditas itu menjadi bagian penting dari potensi perkebunan daerah yang dinilai memiliki peluang untuk memperluas pasar hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Berita Terkait :  Pasar Tradisional di Sidoarjo Sepi Pengunjung, Pembeli Pilih Belanja di Pasar Tumpah

Melalui Festival Kopi Nusantara IX dan Tembakau 2026, Pemkab Bondowoso berupaya memperkuat daya tarik komoditas lokal sekaligus memperluas akses pasarnya.

Pemerintah daerah berharap penguatan sektor perkebunan dapat memberikan dampak berantai atau multiplier effect bagi perekonomian daerah. Dampak tersebut antara lain peningkatan kesejahteraan petani, penguatan aktivitas ekonomi masyarakat, hingga peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menghadapi persaingan pasar global, Pemkab Bondowoso menilai diperlukan perubahan pola pikir dalam mengembangkan komoditas unggulan. Daerah tidak cukup hanya berperan sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga perlu mengembangkan industri pengolahan yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Kopi Bondowoso, misalnya, diharapkan tidak berhenti pada penjualan dalam bentuk biji mentah. Komoditas tersebut perlu dikembangkan menjadi beragam produk olahan dan inovatif sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi serta mampu memperkuat posisi Bondowoso di pasar nasional maupun internasional.

Dengan demikian, festival kopi dan tembakau tidak hanya menjadi ajang promosi dan hiburan masyarakat, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari strategi penguatan ekosistem komoditas unggulan Bondowoso dari hulu hingga hilir.

Pemkab Bondowoso menargetkan potensi kopi Arabika Ijen-Raung dan tembakau khas daerah dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani, pelaku usaha, masyarakat, dan perekonomian daerah. [san.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!