Kota Malang, Bhirawa
Kabar baik bagi masyarakat Kota Malang menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Di tengah kekhawatiran lonjakan harga kebutuhan pokok, sejumlah komoditas pangan utama seperti telur dan daging ayam ras justru mencatatkan deflasi alias penurunan harga yang cukup signifikan. Kondisi ini sekaligus menjadi benteng utama dalam meredam laju inflasi daerah sepanjang bulan Mei 2026.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), tekanan inflasi yang sempat membayangi Kota Malang berhasil diredam oleh andil deflasi telur ayam ras sebesar -0,06 persen, diikuti daging ayam ras sebesar -0,04 persen. Selain itu, komoditas penyeimbang lainnya yang ikut mengalami penurunan harga adalah emas perhiasan (-0,04%), bawang putih (-0,02%), serta tarif ojek online (-0,02%).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi menjelaskan bahwa penurunan harga telur dan daging ayam ini dipicu oleh melimpahnya pasokan dari para produsen dan peternak yang masuk ke pasar tradisional. Sementara untuk komoditas bawang putih, penurunan harga terbantu oleh realisasi impor yang mulai lancar sejak April lalu. Adapun untuk sektor jasa, penurunan tarif ojek online roda dua didorong oleh maraknya program promosi dan diskon aplikasi yang bersifat lokal dan sementara.
“Sinergi kebijakan yang kuat dalam menjaga pasokan membuat level inflasi Kota Malang pada Mei 2026 tetap jinak di angka 0,18 persen (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi kita berada di angka 3,10 persen. Angka ini terbilang impresif karena berada di bawah rata-rata inflasi tahunan Provinsi Jawa Timur yang mencapai 3,49 persen,” ungkap Indra Kuspriyadi, Rabu (3/6).
Meski tren deflasi pada sejumlah bahan pangan pokok cukup kuat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang tetap mewaspadai beberapa komoditas yang masih mencatatkan inflasi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara umum memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,06 persen, yang utamanya dipicu oleh kenaikan harga cabai merah (0,04%) dan minyak goreng (0,03%).
Indra memaparkan, kenaikan harga cabai merah murni dipicu oleh terbatasnya pasokan akibat faktor cuaca ekstrem di daerah penghasil. Sementara minyak goreng merangkak naik karena lonjakan permintaan masyarakat jelang Idul Adha, yang dibarengi naiknya biaya kemasan akibat dampak lanjutan dari kenaikan harga minyak mentah (crude oil) dunia. Menariknya, komoditas non-pangan seperti telepon seluler juga ikut menyumbang inflasi (0,03%) imbas tingginya biaya logistik dan gangguan rantai pasok mikrochip global.
Menyikapi dinamika harga tersebut, KPwBI Malang bersama TPID Kota Malang memastikan tidak akan kendor dalam mengawal stabilitas harga hingga hari raya nanti. Sinergi kebijakan akan terus diperkuat melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) serta optimalisasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).
Langkah konkret pun telah berjalan intensif, mulai dari pemantauan harga pangan harian, keikutsertaan dalam Rakornas mingguan bersama Kementerian Perdagangan, hingga sidak distributor pada 25 Mei lalu guna mengantisipasi praktik penimbunan barang. Bahkan, untuk mengamankan pasokan jangka panjang, Perumda Tunas juga telah menjajaki potensi Kerja Sama Antardaerah (KAD) dengan Kelompok Tani Harapan Mulya Kabupaten Malang guna mengamankan pasokan bawang merah. Melalui langkah terukur ini, stabilitas harga pangan di Kota Malang optimis tetap kokoh berada di rentang sasaran target jangka panjang 2,5. [mut.hel]


