Tuban, Bhirawa – Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban dan SMKN 3 Tuban untuk mengembangkan minyak kayu putih beserta produk turunannya di wilayah bekas tambang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Pabrik Tuban.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi dan Workshop Pengembangan Minyak Kayu Putih dan Produk Turunannya yang digelar di Balai Among Jagat, area Ecopark Kambangsemi, Kamis (22/10/2026) lalu.
Kegiatan ini menjadi wadah sinergi antara dunia industri, perguruan tinggi, dan pendidikan vokasi untuk mendorong inovasi, meningkatkan keterampilan, serta membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.
Senior Manager of Corporate Communication SIG Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, menjelaskan bahwa Ecopark Kambangsemi merupakan area lahan pascatambang tanah liat seluas 17 hektare yang telah dikembangkan menjadi pusat edukasi, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kawasan tersebut sebelumnya telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif, seperti budidaya ikan lele, ayam petelur, dan melon. Kini, SIG juga mengoptimalkan potensi tanaman kayu putih yang dinilai prospektif untuk dikembangkan di lahan reklamasi,” kata Dharna (02/11/2026).
Menurut Dharma, melalui kegiatan tersebut, SIG berupaya mengintegrasikan pemulihan lingkungan dengan kegiatan ekonomi produktif. Tanaman kayu putih tidak hanya dapat menghasilkan minyak atsiri, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi beragam produk turunan yang memiliki nilai tambah.
Pelatihan ini diikuti 100 siswa SMKN 3 Tuban dan dibagi dalam 10 kelompok. Setiap hari Senin dan Kamis sampai dengan 30 November nanti, secara bergantian peserta akan belajar secara intensif mengenai teknik penyulingan minyak kayu putih hingga pengolahannya menjadi produk turunan, seperti lilin aromaterapi, balsam dan produk perawatan tubuh lainnya.
“Kami berharap pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi para siswa untuk bersaing di dunia industri setelah lulus nanti,” ujar Dharma.
Sementara itu, Rektor Unirow Tuban, Prof. Dr. Warli M.Pd, menyambut positif kerjasama antara SIG, perguruan tinggi, dan sekolah vokasi tersebut.
Menurutnya, kemitraan ini merupakan bentuk implementasi peran perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia juga menilai pengembangan minyak kayu putih memiliki peluang besar apabila didukung riset, inovasi formulasi, serta strategi pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Selama ini, minyak kayu putih dan balsam cenderung identik dengan produk kesehatan konvensional. Melalui pendampingan akademisi, produk tersebut dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern agar mampu menjangkau konsumen dari berbagai kelompok usia, termasuk generasi muda.
Balsam atau minyak kayu putih identik dengan pemakaian untuk usia 50 tahun ke atas karena aromanya yang khas.
“Lewat riset dan pendampingan dari tim akademisi Unirow, kita ingin memunculkan inovasi produk turunan, seperti balsam beraroma parfum atau produk sejenis Freshcare dengan variasi aroma modern, sehingga diminati juga oleh generasi muda seperti anak-anak SMK,” ungkap Prof. Warli. (02/11/2026).
Menurutnya, sinergi antara dunia akademik dan industri juga membuka ruang bagi mahasiswa dan pelajar untuk terlibat dalam proses penelitian, pengembangan formulasi, pengujian produk, hingga inovasi yang berorientasi pada kebutuhan pasar.
Kerja sama Unirow dengan SIG sendiri telah terjalin dalam sejumlah kegiatan lingkungan, salah satunya konservasi keanekaragaman hayati. Program tersebut antara lain mencakup penangkaran rusa di area Edupark SIG, dengan populasi yang disebut berkembang dari empat ekor menjadi 36 ekor.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari SMKN 3 Tuban. Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMKN 3 Tuban, Jahidul Umam, menyambut baik kesempatan yang telah diberikan bagi siswa jurusan Teknik Kimia Industri dan Analisis Pengujian Laboratorium untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, keterlibatan siswa dalam workshop memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual karena mereka dapat menghubungkan materi pembelajaran di sekolah dengan proses pengolahan bahan alam dan pengembangan produk.
“Ini adalah kesempatan emas bagi anak-anak kami untuk belajar langsung dari para pakar dan praktisi industri. Kami mendorong para siswa untuk tidak sekadar menerima teori, tetapi aktif meneliti, menghasilkan produk nyata, hingga memublikasikan karya ilmiah,” jelas Jihadul.
Ke depan, SMKN 3 Tuban berharap cakupan kolaborasi dapat diperluas dengan melibatkan jurusan Teknik Mesin. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat mendukung pemahaman siswa mengenai pengoperasian, perawatan, dan pengembangan peralatan pengolahan minyak kayu putih.
“Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan melalui peningkatan keterampilan di bidang kimia dan pengujian laboratorium, tetapi juga melalui penguatan kompetensi teknis yang dibutuhkan dalam proses produksi,” pungkasnya. [hud.kt]


