28.9 C
Sidoarjo
Wednesday, June 3, 2026
spot_img

Lompatan Besar Konservasi Nasional, TSI Prigen Berhasil Tangkar Harimau Sumatera yang Kian Langka


Pasuruan, Bhirawa
Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen di Kabupaten Pasuruan, berhasil mengembangbiakkan satwa endemik dilindungi, harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae).

Sebanyak empat ekor anak harimau lahir sekaligus dari satu masa kehamilan dari pasangan indukan Dini dan Praja.

Kelahiran kuartet bayi harimau di lembaga konservasi yang terletak di lereng Gunung Arjuno itu dinilai sebagai pencapaian langka. Secara biologis, jumlah kelahiran tersebut berada di atas rata-rata angka kelahiran harimau sumatera yang biasanya hanya berkisar dua ekor.

Dengan kelahiran ini, total populasi harimau sumatera di TSI Prigen kini menjadi delapan ekor. Populasi tersebut terdiri dari sepasang indukan produktif, dua ekor harimau remaja berusia lima tahun, serta empat bayi yang baru lahir. Adapun di lingkup Taman Safari Group, akumulasi populasi satwa predator puncak ini telah mencapai 24 ekor.

Pihak manajemen TSI Prigen menegaskan keempat bayi harimau tersebut tidak akan dijadikan sebagai bagian dari komoditas hiburan atau komersial bagi pengunjung.

Aktivitas interaksi komersial, seperti sesi foto bersama pengunjung, dilarang keras demi menjaga stabilitas psikologis satwa.

“Peran daripada harimau sumatera di TSI Prigen bukan untuk pengunjung. Jadi, diutamakan adalah untuk meningkatkan populasi secara regional dan secara global, tidak untuk commercial purposes,” ujar Dokter Hewan Senior TSI Prigen drh. Bongot Huaso Mulia saat memberikan keterangan resmi di area konservasi TSI Prigen, Rabu (3/6) sore.

Berita Terkait :  Kapolres Situbondo Beri Reward Anggota Berprestasi dan Kades Kilensari

Untuk mempertahankan sifat keliaran dan insting alaminya, tim medis dan kuratorial menerapkan metode perawatan alami (natural care). Induk harimau, Dini, dibiarkan merawat anak-anaknya secara mandiri tanpa campur tangan intensif manusia.

Langkah ini krusial untuk mengasah insting keibuan (maternal instinct) sang induk agar tetap optimal pada masa reproduksi mendatang.

Upaya pembiakan (breeding) satwa karnivora besar seperti harimau sumatera memiliki tingkat kesulitan dan risiko yang tinggi. Satwa ini dikenal sangat selektif dalam memilih pasangan. Proses penggabungan antara harimau jantan dan betina dalam satu ruang bahkan menyimpan risiko fatal.

“Harimau sumatera termasuk pada spesies yang sulit untuk breeding. Mereka selektif kepada pasangannya. Pada saat penggabungan juga ada risiko injury (cedera), risiko trauma, hingga risiko kematian,” imbuh Bongot.

Bongot menjelaskan, keberhasilan menembus batas kerawanan biologis ini ditopang oleh empat faktor utama. Yakni, kecakapan dan kejelian keeper (perawat satwa) dalam membaca perilaku satwa.

Lalu, pemahaman yang tepat mengenai indikator perkawinan. Kemudian, intervensi medis yang akurat serta

“Perawat satwa dituntut mengetahui kapan betinanya subur dan mau menerima jantan, nah itu krusial. Selain itu, tim kuratorial juga mempersiapkan kandang persalinan yang nyaman, tidak terganggu dan tidak adanya aktivitas-aktivitas yang tidak biasa,” imbuh Bongot. [hil.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!