Kota Batu, Bhirawa – Kota Batu merupakan daerah yang memilìki kekuatan pertanian, kuliner lokal, UMKM kreatif, inovasi pangan, pariwisata, dan budaya masyarakat. Semua potensi ini siap dipadukan di Kota Batu sehingga bisa menjadi kota gastronomi yang menghubungkan agro, kreativitas, budaya, dan ekonomi berkelanjutan. Karena itu daerah yang berstatus Kota Wisata ini optimis bisa menjadi Kota Kreatif Indonesia.
Untuk merealisasikan tujuan tersebut, Wali Kota Nurochman mengajak seluruh unsur di kota ini untuk memberikan dukungan. Dengan kolaborasi yang saling terhubung diharapkan dapat membangun ekosistem agro, budaya, dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
“Kita mendorong keterlibatan dan kolaborasi seluruh unsur heksahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, hingga masyarakat luas agar Kota Batu masuk dalam ekosistem Kota Kreatif Nasional,” ujar Cak Nur, panggilan akrab Nurochman saat dikonfirmasi, Minggu (12/7).
Optimisme Kota Batu untuk menjadi Kota Kreatif Indonesia itu bukan tanpa alasan. Karena Kota Apel ini memiliki modal besar untuk berkembang sebagai kota kreatif. Selain dikenal sebagai sentra pertanian hortikultura, kota ini juga memiliki kekuatan di sektor pariwisata, kuliner, dan seni budaya.
Bahkan, di kota ini juga memiliki banyak industri kreatif berbasis UMKM, serta inovasi produk olahan hasil pertanian yang terus berkembang. Dan potensi besar ini jika mendapat dukungan besar dari komunitas kreatif, pelaku usaha muda, pekerja kreatif, akademisi, serta masyarakat yang aktif maka melahirkan berbagai inovasi dan kreativitas.
Diketahui, Kota Batu saat ini tengah mengikuti Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I). Penilaian ini merupakan bagian dari langkah langkah kota ini untuk bisa menuju Kota Kreatif Indonesia.
“Ayo semua ambil bagian dengan mengisi borang survei PMK3I. Partisipasi ini terbuka untuk pelaku UMKM, petani, pelaku ekonomi kreatif, seniman, akademisi, dan komunitas lain yang ada di Kota Batu,”ajak Cak Nur.
Partisipasi publik tersebut menjadi salah satu tahapan penting untuk memperkuat posisi Kota Batu menuju predikat Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) Indonesia. Hal ini sekaligus mempertegas identitas Kota Batu sebagai kawasan Agrokreatif.
Cak Nur menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam proses penilaian. Sebab data yang diisi melalui borang survei PMK3I 2026 akan menjadi dasar pemerintah dalam memotret kondisi riil ekonomi kreatif di Kota Batu.
Program yang digagas oleh Kementerian Ekonomi Kreatif itu tidak sekadar menjadi ajang penilaian. Lebih dari itu, PMK3I menjadi instrumen untuk memetakan kekuatan, peluang, hingga tantangan yang dimiliki sebuah daerah dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif secara berkelanjutan.
Setiap isian survei memiliki arti penting. Karena apa yang ada dalam survei akan menjadi pijakan dalam menyusun arah kebijakan pengembangan ekonomi kreatif daerah. Mulai dari sektor unggulan, kebutuhan pelaku usaha kreatif, hingga peluang kolaborasi lintas sektor dapat dipetakan melalui data tersebut. [nas.kt]


