27.8 C
Sidoarjo
Monday, July 13, 2026
spot_img

Kebutuhan Anak di Hari Pertama Sekolah

Oleh :
Jusrihamulyono A.HM
Instruktur PUSDIKLAT Pengembangan SDM UMM

Awal masuk sekolah selalu menghadirkan suasana yang khas seperti fenomena membeli seragam baru, buku baru, wajah-wajah penuh semangat, dan harapan baru bagi anak, orang tua, maupun guru. Pada momen inilah pendidikan kembali menemukan maknanya sebagai ruang untuk bertumbuh, belajar, dan memperbaiki diri.

Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengejar nilai, tetapi juga tempat menanamkan karakter, membangun rasa percaya diri, dan menumbuhkan cita-cita yang mungkin sempat redup selama masa liburan.

Tahun ajaran baru mengingatkan kita bahwa setiap anak memulai perjalanan yang berbeda, dengan kemampuan dan tantangan yang berbeda pula. Karena itu, yang paling dibutuhkan bukanlah tekanan untuk segera menjadi yang terbaik, melainkan dukungan agar mereka merasa aman, diterima, dan bersemangat menjalani proses belajar.

Jika sekolah mampu menghadirkan suasana yang ramah, guru memberi teladan yang menguatkan, dan orang tua hadir dengan doa serta pendampingan, maka hari pertama sekolah dapat menjadi awal yang baik bagi lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, dan penuh harapan.

Ruang Aman untuk Bertumbuh
Sering kali keberhasilan anak terlalu cepat diukur dari hasil ujian, ranking kelas, atau kemampuan mengikuti pelajaran pada minggu-minggu pertama. Padahal, sebelum berbicara tentang prestasi, anak terlebih dahulu membutuhkan rasa aman. Anak yang merasa diterima akan lebih mudah membuka diri, bertanya, dan berani mencoba hal baru.

Berita Terkait :  Babinsa Koramil 0830/20 Wonocolo Pastikan MBG di SD Taquma Surabaya Lancar

Sebaliknya, anak yang sejak awal merasa tertekan cenderung diam, takut salah, dan kehilangan semangat belajar.

Karena itu, sekolah perlu menjadi ruang yang ramah, bukan ruang yang menakutkan. Rasa aman tidak hanya lahir dari bangunan yang bersih atau fasilitas yang lengkap, tetapi juga dari sikap orang-orang di dalamnya. Sapaan guru yang hangat, teman yang saling menghargai, dan aturan yang ditegakkan secara adil akan membuat anak merasa bahwa sekolah adalah tempat yang nyaman untuk didatangi setiap hari.

Pada hari-hari pertama, guru dapat memulai dengan kegiatan sederhana yang membangun kedekatan, seperti saling mengenal, berbagi cerita liburan, atau permainan ringan yang mencairkan suasana. Langkah kecil semacam ini sering kali lebih bermakna daripada langsung membebani siswa dengan target akademik.

Selain itu, sekolah harus tegas terhadap perundungan, ejekan, dan diskriminasi. Tidak ada anak yang seharusnya merasa rendah diri hanya karena latar belakang, kemampuan, atau penampilannya berbeda. Pendidikan yang baik justru mengajarkan bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan patut dihargai. Ketika lingkungan sekolah aman secara fisik maupun emosional, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga. Dari rasa aman itulah lahir keberanian untuk belajar dan berkembang.

Menata Kembali Makna Pendidikan
Anak-anak datang ke sekolah dengan membawa mimpi, rasa ingin tahu, sekaligus kegelisahan. Tugas kita adalah memastikan bahwa sekolah menjadi tempat yang menenangkan, menguatkan, dan menghidupkan semangat mereka. Jika hal itu dapat diwujudkan, maka tahun ajaran baru bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan awal dari perjalanan pendidikan yang benar-benar bermakna.

Berita Terkait :  Kenaikan IPM Kota Batu Diikuti Menurunnya Jumlah Pengangguran

Lebih dari itu, tahun ajaran baru seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi cara kita memandang keberhasilan pendidikan. Sudah terlalu lama ukuran keberhasilan anak dipersempit pada nilai rapor, peringkat kelas, atau capaian akademik semata. Padahal, pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu membentuk anak menjadi pribadi yang berintegritas, memiliki empati, mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan tidak kehilangan rasa ingin tahu terhadap kehidupan. Nilai yang tinggi tentu patut diapresiasi, tetapi nilai kemanusiaan jauh lebih menentukan kualitas seseorang ketika kelak hidup bermasyarakat.

Oleh karena itu, setiap awal tahun ajaran hendaknya menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga, sebagaimana orang tua juga tidak dapat menyerahkan seluruh proses pendidikan kepada guru.

Kolaborasi yang saling menguatkan akan menciptakan lingkungan belajar yang sehat, sehingga anak merasa dihargai sebagai individu yang sedang bertumbuh, bukan sekadar objek yang dituntut untuk memenuhi berbagai target.

Pada akhirnya, yang akan paling lama diingat oleh seorang anak bukan hanya pelajaran yang diterimanya di kelas, melainkan bagaimana ia diperlakukan selama proses belajar. Anak akan mengingat guru yang membuatnya berani mencoba, teman yang menerimanya tanpa menghakimi, dan orang tua yang tetap memberikan kepercayaan ketika ia mengalami kegagalan.

Kenangan-kenangan sederhana itulah yang membentuk kepercayaan diri, karakter, dan semangat belajar sepanjang hayat. Karena itu, mari menjadikan tahun ajaran baru sebagai awal untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi, inklusif, dan penuh harapan, agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi terbaik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Berita Terkait :  Pj Sekda Bangga Perayaan Paskah Umat Kristiani di Situbondo Berjalan Aman

———— *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!