Gresik, Bhirawa – Sejumlah mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar demonstrasi penggunaan alat tanam benih jagung modern (corn seeder) kepada petani di Desa Gedangan, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Selasa (9/6/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang tengah dijalankan mahasiswa KKN regular 28 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya oleh sub kelompok 1.
Desa Gedangan dikenal sebagai salah satu sentra pertanian jagung di Kabupaten Gresik. Selama ini, mayoritas petani setempat masih menanam benih jagung secara manual menggunakan tugal atau ditanam dengan tangan satu per satu, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang tidak sedikit, terutama saat memasuki musim tanam serentak.
Cara tanam manual ini diwariskan turun-temurun dan dinilai petani sudah cukup efektif, meski proses penanaman kerap memakan waktu lebih dari sehari untuk satu petak lahan, dengan hasil jarak tanam yang tidak selalu seragam.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan alat tanam benih jagung yang dioperasikan dengan cara didorong di atas lahan. Alat ini bekerja dengan melubangi tanah, menjatuhkan benih dengan jarak yang telah diatur, sekaligus menutup kembali lubang tanam secara otomatis dalam satu gerakan. Petani yang hadir mencoba langsung alat tersebut secara bergantian di tempat demonstrasi berlangsung.
Tri Lodi Mayang Sari, mahasiswa yang menjadi pelaksana kegiatan, mengatakan pengenalan alat ini ditujukan untuk membantu petani menanam lebih cepat dan lebih rapi, tanpa mengubah kebiasaan bertani yang sudah ada.
“Kami tidak bermaksud mengubah total cara petani menanam. Tapi kami ingin memberikan cara yang efisien, dengan jarak tanam yang lebih rapi dan waktu yang lebih singkat. Hal itu langsung berpengaruh ke hasil panen dan memudahkan pekerjaan bapak dan ibu ,” kata Lodi.
Ia menambahkan, harapannya alat ini bisa terus dimanfaatkan petani secara berkelanjutan meskipun program pengabdian mahasiswa nantinya telah berakhir, sehingga manfaatnya tidak berhenti hanya selama masa kegiatan berlangsung.
Salsabila Ratu Kencana Syaharani S.Psi.,M.Psi., selaku DPL(Dosen Pembimbing Lapangan) KKN Reguler 28 mengatakan bahwa solusi teknologi tepat guna yang dihadirkan dari kolaborasi teman-teman berbagai jurusan bisa langsung di rasakan oleh petani desa gedangan.
“Alatnya memang sederhana, tapi kalau terus disempurnakan dan digunakan secara konsisten, ini bisa membantu petani menanam dengan lebih efisien sekaligus mengurangi beban fisik saat bekerja di lahan. Itulah yang kami harapkan dari kegiatan pengabdian ini, dampaknya harus benar-benar terasa langsung, bukan sekadar formalitas,” ujar Salsabila
Sejumlah petani yang hadir tampak antusias mencoba alat tersebut secara langsung. Beberapa di antaranya meminta untuk mendemonstrasikan ulang, dan juga maju untuk mencoba menggunakan alat tanam biji modern tersebut.
Ikhsan Sholeh, selaku perwakilan kelompok tani Desa Gedangan mengatakan kegiatan ini membawa inovasi dan dapat menjadikan contoh bagi petani di desa Gedangan.
“Petani memberikan pendapatnya bahwa alat tersebut masih perlu perbaikan pada tinggi alat, karena masih kurang panjang sehingga masih membuat pegal punggung karena membungkuk pada saat menggunakan alat tersebut.”ujar Ikhsan Sholeh.
Jarak tanam ideal untuk budi daya jagung umumnya berkisar 20 x 70 sentimeter atau disesuaikan dengan pola tanam jajar legowo, guna mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan memudahkan proses perawatan maupun pemanenan. Dengan adanya alat tanam ini, petani diharapkan dapat menanam lebih efisien dari segi waktu dan tenaga, tanpa harus meninggalkan praktik bertani yang selama ini sudah mereka kuasai. [why]
Reporter: Tri Lodi Mayang Sari, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi., sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Gedangan.


