Pemprov Jatim, Bhirawa – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menempatkan program Youth Creativepreneur Center (YC2) Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu strategi penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) di wilayahnya.
Program ini diharapkan tidak hanya memberi pelatihan, tetapi juga mendorong inkubasi, sertifikasi, serta akses pasar yang berkelanjutan bagi pelaku usaha muda.
“Fokus pengembangan kita yang pertama adalah peningkatan SDM, kemudian pemberdayaan UKM,” kata Yusuf Karim Ungsi SH MM, Wakil Ketua Kadin Jawa Timur Bidang UMKM & Pemberdayaan Daerah, saat diwawancarai Bhirawa disela acara Beranda Pop Up Market Local Heroes : Merdeka Creative Market Celebrating East Java’s Youth Creativepreneur yang diadakan di Galeri Batik dan Cinderamata Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Rabu (19/8/2026).
Menurut Yusuf, paket program yang diusung haruslah komprehensif, seperti, pelatihan, pendampingan, sertifikasi, hingga talent scouting untuk mengangkat startup muda agar bisa naik kelas.
Yusuf menjelaskan bahwa Kadin ingin memastikan rangkaian kegiatan tidak berhenti pada pelatihan semata. “Mulai dari pelatihan, terus pendampingan, sampai dengan sertifikasi. Dan yang terakhir adalah bagaimana teman-teman ini kita cari talent scouting kita cari yang bisa diangkat, di-upgrade naik kelas,” ujarnya.
Dengan pendekatan seperti ini, Kadin menargetkan peningkatan omzet dan penyerapan tenaga kerja oleh usaha-usaha kreatif muda. Lebih jauh ia menekankan perlunya jejaring dan akses pasar sebagai kelanjutan logis dari pembinaan.
“Jangan sampai stop sampai dengan setelah dilatih. Diberikan kesempatan untuk market fit atau market test, setelah itu follow up-nya seperti apa? Ini kan sudah masuk ke database kami, 25 yang terpilih. Nah ini setelah ini kita coba salurkan yang misalkan production host, atau nanti ada yang usahanya membutuhkan ini,” kata Yusuf.
Lebih lanjut, Yusuf juga menyoroti tantangan tumpang-tindih antar-program yang selama ini dijalankan oleh berbagai instansi. “Kegiatan seperti ini ada di dinas koperasi, di dinas pemuda dan olahraga, di dinas pariwisata, masing-masing jalan sendiri-sendiri. Nah ini pentingnya bagaimana melalui peran pemerintah kita mendorong untuk segera dibuatkan kelembagaannya,” ujarnya.
Ia mengusulkan pembentukan payung kelembagaan, misalnya melalui SK Gubernur, agar program-program serupa terintegrasi dan berkelanjutan.
Dengan kelembagaan itu, menurut Yusuf, pihak-pihak terkait, seperti, pemerintah daerah, Kadin, HIPMI, komunitas, hingga media dapat duduk bersama menyusun strategi pengembangan ekonomi kreatif yang terpadu. “Kalau kita ingin berdampak, kita harus bersatu. Gak bisa sendiri-sendiri,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa media memiliki peran penting untuk meningkatkan visibilitas program. “Teman-teman media juga bisa membantu untuk blow up ini sehingga yang kita harapkan itu tadi mereka bisa naik kelas,” ujarnya menambahkan.
Indikator naik kelas jelas bagi Kadin. Yaitu, peningkatan omzet, penambahan karyawan, dan kontribusi fiskal yang meningkat. “Naik kelasnya gimana? Ya omsetnya nambah, karyawannya bertambah, mereka bisa bayar pajak. Ekosistemnya jalan, perputarannya sehingga ekonomi, bukan dari hal itu kecil bisa berdampak,” ujar Yusuf.
Kadin melihat Youth Creativepreneur Center sebagai forum strategis yang layak didukung penuh, bahkan didampingi dalam jangka panjang. “Kami menganggap ini salah satu forum strategis yang harus didukung, didukung bahkan kalau perlu didampingi terus,” kata Yusuf.
Pendampingan lanjutan, termasuk penyambungan ke jaringan pasar dan host produksi, menjadi bagian penting agar lulusan program benar-benar memperoleh manfaat ekonomi nyata.
Sebagai langkah awal, Kadin sudah mencatat 25 peserta terpilih yang akan dimasukkan ke dalam database untuk tindak lanjut. Yusuf menyatakan komitmen untuk memaksimalkan jejaring yang dimiliki Kadin demi membuka peluang market test dan kolaborasi bisnis yang konkret bagi para peserta.
Yusuf menggarisbawahi perlunya strategi daerah yang selaras dengan kebijakan nasional dari Kementerian Ekonomi Kreatif. “Strategi nasionalnya kan sudah ada. Bagaimana mau mengembangkan teman-teman UKM ini bisa naik kelas, bisa menambah omset, bisa nambah karyawan, itu kan yang kita harapkan,” katanya.
Dalam praktiknya, Kadin ingin merancang langkah-langkah yang mengintegrasikan sumber daya lokal sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih luas.
Dengan visi menggabungkan pelatihan, sertifikasi, pendampingan, dan jejaring pemasaran, Kadin Jawa Timur berharap Youth Creativepreneur Center menjadi katalisator penciptaan wirausaha muda yang produktif dan mampu menyerap tenaga kerja.
Menurut Yusuf, kunci keberhasilan program adalah sinergi antar-pemangku kepentingan dan keberlanjutan dukungan pasca-pelatihan agar dampak ekonomi bisa terasa nyata di level daerah. [aya.kt]



