29 C
Sidoarjo
Monday, April 27, 2026
spot_img

Harga Plastik Melonjak Tajam, Pelaku UMKM di Kabupaten Malang Tertekan

Kabupaten Malang, Bhirawa

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Malang saat ini berada dalam tekanan berat akibat kenaikan harga kantong plastik yang sangat signifikan. Dampak kenaikan ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga merata di seluruh rantai distribusi, termasuk para pedagang grosir plastik.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga plastik meningkat hingga dua kali lipat, yang dipicu oleh gejolak pasar global, terutama akibat konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memengaruhi harga bahan baku plastik.

Nuraini Azizah, pelaku UMKM dari Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi di hampir semua jenis produk plastik. Sebagian besar hasil produksi usahanya mengandalkan plastik sebagai kemasan utama, sehingga kenaikan harga ini membuat kondisi usahanya semakin tertekan.

“Kalau saya naikkan harga jual produk, khawatir pelanggan akan beralih ke tempat lain. Tapi kalau tetap mempertahankan harga, keuntungan malah menyusut karena biaya bahan baku meningkat drastis,” ujarnya, Selasa (27/4).

Menurut Nuraini, selama ia menjalankan usahanya, belum pernah terjadi kenaikan harga plastik sebesar ini. Kenaikan ini tidak ditentukan oleh pedagang di tingkat lokal, melainkan langsung dipengaruhi oleh pabrik produsen karena harga bahan baku yang terus naik.

Akibatnya, banyak pelaku UMKM yang terpaksa mengurangi jumlah pembelian atau bahkan membatalkan pesanan karena tidak mampu menanggung biaya produksi yang semakin mahal. Fenomena pembatalan transaksi kini semakin sering terjadi, dan aktivitas jual beli terlihat jauh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan kesulitan di seluruh jalur distribusi.

Berita Terkait :  Kesadaran Karyawan SIG Semakin Meningkat, Serahkan Dana Zakat pada Baznas Tuban Senilai 2,25 Miliar

“Penjual bingung, pembeli juga bingung. Bahkan pabrik pun sekarang mengalami kesulitan, karena sistem pembayarannya harus secara tunai. Tanpa uang muka, pesanan tidak bisa diproses. Akibatnya, omzet penjualan di tingkat grosir menurun secara signifikan, dan daya beli masyarakat juga ikut menurun,” terangnya.

Oleh karena itu, Nuraini berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga, terutama untuk komoditas yang menjadi kebutuhan dasar pelaku UMKM.

“Kami berharap harga bisa kembali menurun. Kalau pun harus naik, jangan terlalu drastis seperti sekarang. Kondisi pasar saat ini sudah sangat sepi, dan tekanan terhadap ekonomi sektor akar rumput akan semakin besar jika tidak ada penanganan segera,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Hartono, seorang pedagang grosir plastik di Pasar Kepanjen, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini murni disebabkan oleh tingginya harga bahan baku.

“Harga plastik sangat bergantung pada harga minyak dunia dan nilai tukar dolar AS. Situasi perang di Timur Tengah memang memberikan dampak yang besar pada kondisi pasar saat ini,” ujarnya.

Secara umum, harga plastik mengalami kenaikan sekitar 50 persen, bahkan untuk beberapa jenis produk bisa mencapai 100 persen. Salah satu jenis yang paling terkena dampak adalah plastik jenis polipropilena atau kantong bening. Sebelumnya dijual dengan harga Rp30 ribu per kilogram, kini harganya mencapai Rp55 ribu per kilogram. Sementara itu, kemasan plastik jenis thinwall ukuran 500 mililiter yang semula dijual Rp25 ribu per slop, kini harganya melonjak menjadi Rp52 ribu per slop.

Berita Terkait :  Bupati Situbondo Dukung UMKM Jambu Merah di Bantaran Sungai Desa Jatisari

“Ini adalah kenaikan tertinggi yang pernah saya alami selama berkecimpung dalam bisnis ini,” pungkasnya. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru