27 C
Sidoarjo
Sunday, April 26, 2026
spot_img

Tiga Daerah di Jatim Jadi Prioritas PSN Giant Sea Wall Pantura Jawa


Pemprov, Bhirawa
Tiga daerah pantai utara Jawa di Jawa Timur akan menjadi bagian dari Proyek Nasional tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSW). Tiga daerah tersebut adalah Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mempercepat kajian dan pembangunan GSW sebagai upaya mengatasi abrasi dan banjir rob.

Percepatan GSW ini disampaikan langsung Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa, Didit Herdiawan Ashaf, usai bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Jumat (24/4).

Dikatakan Didit, pemerintah tengah memprioritaskan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih serta tanggul laut (giant sea wall) sebagai bagian dari program strategis nasional.

Saat ini, kata Didit, proyek tersebut masih dalam tahap penelitian dan asesmen teknis. Rencananya proyek tersebut akan mulai dikejarkan setelah program Kampung Nelayan Merah Putih yang digagas oleh Presiden selesai.

“Giant sea wall sedang dilaksanakan penelitian dan assessment. Rencananya akan dibangun di tengah laut sekitar 4 hingga 6 kilometer dari bibir pantai,” ujarnya.

Menurut Didit, pembangunan tanggul laut menjadi bagian dari program prioritas nasional (PSN) yang berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur pesisir lainnya. Ia menegaskan, pelaksanaan proyek akan dimulai setelah seluruh kajian rampung.

“Pelaksanaan akan dilakukan setelah seluruh kajian selesai, karena ada dua program yang harus berjalan bersamaan, yakni program yakni groundbreaking program dan groundbreaking infrastruktur yang harus berjalan bersama-sama,” jelasnya.

Berita Terkait :  Minta Pemprov Percepat Digitalisasi Aset untuk Tingkatkan PAD

Ia menegaskan, keberadaan tanggul laut raksasa tersebut diharapkan memberikan manfaat besar bagi masyarakat pesisir, khususnya dalam melindungi wilayah dari dampak abrasi dan ancaman banjir rob.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada kesempatan yang sama menyatakan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang mendukung percepatan pembangunan Giant Sea Wall (GSW) Jawa Timur yang semula 20 tahun menjadi 15 tahun. Menurutnya hal ini menjadi krusial karena eskalasi risiko pesisir yang semakin cepat.

“Diperlukan intervensi infrastruktur berskala besar yang terintegrasi dengan kebijakan lingkungan dan sosial,” kata Gubernur Khofifah.

Gubernur Khofifah menyampaikan fokus pembangunan GSW di Jawa Timur berada pada tiga kawasan strategis Pantura Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Gresik.

Ketiga wilayah ini merupakan zona kritis pesisir utara Jawa Timur yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap penurunan muka tanah, banjir rob, serta tekanan aktivitas ekonomi dan industri pesisir.

Secara kelembagaan, Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Tuban, Lamongan, dan Gresik menjadi bagian dari Dewan Pengelola Pantura Jawa, sebagaimana diatur dalam Perpres No. 77 Tahun 2025 Pasal 6.

Posisi ini memberikan peran strategis bagi Jawa Timur karena memberikan ruang intervensi langsung daerah dalam pengambilan keputusan nasional khususnya sinkronisasi pusat-daerah dalam implementasi PSN.

“Jawa Timur sebagai aktor kunci dalam pengelolaan Pantura Jawa,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, Muhammad Isa Anshori, menyebut proyek GSW dibangun pemerintah untuk mengurangi abrasi dan banjir rob di wilayah Pantura. Di luar Jawa Timur, misalnya di Semarang yang sering mengalami banjir di kawasan pesisirnya.

Berita Terkait :  Amankan Produksi Pupuk Nasional Petrokimia Teken Hoa Bersama PC Ketapang II LTD Suplai Gas

“Wilayah itu yang nantinya jadi prioritas pertama,” kata Isa.

Sementara untuk di wilayah Jatim, proyek GSW akan dibangun di wilayah yang berpotensi mengalami kasus serupa. Seperti di Kabupaten Tuban, Lamongan, dan Gresik.

Ia menegaskan bahwa konsep giant sea wall tidak sepenuhnya berupa bangunan fisik seperti tanggul beton.

“Konsepnya tidak semuanya dinding penahan. Ada juga yang memanfaatkan ekosistem alami seperti mangrove untuk menjaga keseimbangan lingkungan pesisir,” ujarnya.

Ia menjelaskan, struktur tanggul nantinya dirancang dengan kedalaman antara 8 hingga 15 meter, menyesuaikan kondisi lapangan. Detail teknis proyek masih dalam tahap finalisasi, termasuk panjang dan titik pembangunan.

Program giant sea wall ini telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan target penyelesaian dipercepat dari 20 tahun menjadi 15 tahun.

Meski demikian, pemerintah masih mematangkan perencanaan sebelum melakukan sosialisasi luas kepada masyarakat, khususnya nelayan di wilayah terdampak.

“Sekarang masih tahap finalisasi program. Nantinya akan disampaikan kepada pemerintah daerah, termasuk gubernur di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” pungkasnya. [ina.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!