Gresik, Bhirawa – Melalui forum diskusi bertema penyiapan dan perlindungan tenaga kerja lokal, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Gresik mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan guna menyusun peta jalan pengembangan sumber daya manusia. Tujuannya agar tenaga kerja asal daerah mampu bersaing dan turut merasakan manfaat langsung dari pesatnya pertumbuhan industri di wilayah ini.
Kegiatan yang dikemas dalam suasana santai namun berisi bertajuk “Ngopi dan Opini” ini menghadirkan unsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi, lembaga pendidikan, hingga serikat pekerja. Fokus utamanya adalah menyelaraskan kualitas lulusan dari SMK, perguruan tinggi, hingga lembaga pendidikan berbasis pesantren agar sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Kepala Disnaker Kabupaten Gresik, Zainul Arifin, menjelaskan bahwa meskipun Gresik memiliki potensi besar sebagai kawasan industri, perkembangannya saat ini lebih banyak bergerak ke arah padat modal dan teknologi, bukan lagi menyerap banyak tenaga kerja secara besar‑besaran.
“Perusahaan kini lebih banyak memanfaatkan teknologi canggih dibandingkan menambah jumlah karyawan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pencari kerja kita,” ujarnya.
Di sisi lain, tingginya Upah Minimum Kabupaten Gresik yang mencapai sekitar Rp5 juta justru menjadi daya tarik bagi pencari kerja dari luar daerah. Agar warga lokal tetap mendapatkan prioritas, pemerintah daerah meluncurkan aplikasi Gresik Kerja. Melalui platform ini, warga ber‑KTP Gresik dapat mencari peluang sekaligus ditemukan oleh perusahaan sesuai keahlian yang dimiliki.
“Kami pastikan warga lokal memiliki akses lebih baik, sekaligus kami berikan pembekalan kemampuan agar siap ditempatkan di dunia kerja,” tambahnya.
Perwakilan PT BKMS selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE, Yudi Darjanto, menyatakan kebutuhan tenaga kerja di kawasan tersebut terus bertambah meliputi sektor mineral, konstruksi, pelabuhan, hingga teknologi tinggi. Peluang tetap terbuka luas bagi warga Gresik, asalkan memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Namun diakui masih ada kesenjangan antara kualitas lulusan pendidikan dengan apa yang dibutuhkan industri.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik, Khoirul Anam, menilai sistem pendidikan saat ini masih tertinggal sekitar sepuluh tahun dibandingkan perkembangan industri global, termasuk dalam hal keterampilan praktis dan sikap kerja lulusan. “Diperlukan pembaruan kurikulum yang relevan agar kita tidak tertinggal jauh,” imbuhnya. [kim.kt]


