27.2 C
Sidoarjo
Saturday, October 10, 2026
spot_img

BPBD Jatim dan Siap Siaga Jatim Susun Pedoman Pesantren Tangguh Bencana

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto saat memaparkan materi

Pemprov, Bhirawa

Sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pondok pesantren, BPBD Jawa Timur bersama Siap Siaga Jatim menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pesantren Tangguh Bencana (Pestana). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Neo, Sidoarjo, Jumat (9/10/2026), ini menjadi bagian dari evaluasi atas peristiwa runtuhnya bangunan mushalla di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, setahun lalu.

FGD tersebut difokuskan pada penyusunan pedoman pelaksanaan program Pestana di Jawa Timur. Kegiatan dibuka oleh Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, serta dihadiri Kepala Biro Kesra Pemprov Jatim Agung Subagyo, Kabid Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kanwil Kemenag Jatim H. Imam Turmidi, dan perwakilan Siap Siaga Jatim.

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto berfoto dengan seluruh peserta FGD

Dalam sambutannya, Gatot Soebroto menyampaikan bahwa berbagai kejadian bencana yang menimpa pondok pesantren di Jawa Timur selama setahun terakhir menjadi pelajaran penting. Salah satunya adalah runtuhnya bangunan mushalla Ponpes Al-Khoziny, Buduran, pada 29 September tahun lalu yang mendorong perlunya penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren.

Berdasarkan data Kementerian Agama Jawa Timur, jumlah pondok pesantren di provinsi ini mencapai 7.430 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.930 pesantren berada di wilayah dengan potensi risiko bencana kategori tinggi.

“Berdasarkan data Kemenag Jatim per hari ini, jumlah pondok pesantren di Jatim sebanyak 7.430 pesantren. Setelah kita overlay dengan multi hazard bencana, tercatat sebanyak 5.930 pesantren berada di wilayah dengan potensi risiko tinggi,” ungkap Gatot.

Berita Terkait :  Wabup Lamongan Silaturrahim dengan OPD di Hari Pertama Kerja

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penyusunan pedoman pembentukan Pestana. Melalui pedoman itu, diharapkan upaya membangun pesantren yang tangguh dan siap menghadapi bencana dapat dilaksanakan secara terarah.

Dukungan terhadap inisiatif tersebut disampaikan Kabid Pendidikan PD Pontren Kanwil Kemenag Jatim, H. Imam Turmidi. Ia menilai program Pestana relevan dengan kondisi Jawa Timur yang memiliki banyak pondok pesantren di kawasan rawan bencana.

Imam menyebut, jumlah santri di Jawa Timur mencapai sekitar 660.437 orang. Besarnya jumlah santri tersebut menjadi perhatian tersendiri, terutama karena banyak pesantren berada di wilayah dengan potensi risiko bencana tinggi.

“Kalau jumlah santrinya sekitar 660.437 santri. Jumlah yang banyak ini tentu sangat kompleks sekali karena mayoritasnya berada di daerah rawan bencana sebagaimana data BPBD Jatim,” ujarnya.

Karena itu, Imam mengapresiasi langkah BPBD Jatim dalam merintis pembentukan Pestana. Ia berharap program tersebut dapat memperkuat kesiapsiagaan pesantren sekaligus meningkatkan perlindungan bagi para santri.

Ketua Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Hidayat, juga menilai pembentukan Pestana sebagai langkah penting. Menurutnya, program ini perlu didukung melalui pelatihan agar pesantren memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi potensi bencana.

“Saya kira, 80 persen pondok pesantren di Jawa Timur ini merupakan pesantren NU. Maka, perlu sekali dilakukan pelatihan agar pesantren semakin tangguh dan siaga terhadap bencana,” tuturnya.

Berita Terkait :  PTPN I Regional 5 Salurkan Bantuan TJSL untuk Dukung Jember Merdeka Stunting

FGD ini turut dihadiri perwakilan LPBI NU Jatim, Forum PRB Jatim, MDMC Muhammadiyah, SRPB Jatim, IGI Jatim, BPBD kabupaten/kota, serta sejumlah pondok pesantren. Peserta dari kalangan pesantren antara lain berasal dari Ponpes Langitan Tuban, Ponpes Amanatul Ummah, dan Ponpes At-Taroqi Sampang.

Adapun pemateri dalam kegiatan tersebut meliputi pejabat fungsional ahli madya BPBD Jatim Dadang Iqwandy, perwakilan Siap Siaga Jatim Iswar Abidin, serta Kepala Laboratorium Struktur ITS Surabaya, Aniendhita Rizki Amalia. Melalui diskusi ini, penyusunan pedoman Pestana diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan pondok pesantren di Jawa Timur. [rac. wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!