27 C
Sidoarjo
Thursday, September 24, 2026
spot_img

Aksi Lawan Arus dan Menjamurnya Warung Liar Hantui Proyek Frontage Road Sidoarjo

Sidoarjo, Bhirawa. – Pembangunan jalan Frontage Road (FTR) Sidoarjo yang diproyeksikan menjadi solusi kemacetan rute Surabaya-Sidoarjo kini menghadapi tantangan serius. Meski proyek infrastruktur raksasa ini belum tuntas 100% dan belum diresmikan, jalur ini sudah ramai dimanfaatkan pengendara untuk melawan arus sehingga sangat membahayakan.

Sayangnya, pemanfaatan dini ini memicu pelanggaran lalu lintas yang membahayakan, ditambah menjamurnya bangunan liar di sepanjang jalan. Pantauan di lapangan menunjukkan puluhan warung semi permanen tumbuh subur di sisi barat jalan, membentang dari wilayah Kecamatan Waru hingga Kecamatan Buduran.

Titik keramaian bangunan liar ini paling banyak terlihat di kawasan Desa Sawotratap, Seruni, dan Tebel di Kecamatan Gedangan, serta Desa Waru di Kecamatan Waru. Ancaman Penyempitan Jalur dan Potensi Konflik Sosial Keberadaan warung-warung yang berdiri tepat di pinggir jalan ini mulai dikeluhkan pengguna jalan.

Ketika pembeli datang, kendaraan mereka diparkir langsung di bahu jalan, menyebabkan penyempitan jalur yang signifikan. Masyarakat khawatir, jika pembiaran ini terus berlanjut, jumlah warung akan semakin membengkak.

Hal ini dikhawatirkan memicu potensi konflik sosial dan perlawanan dari para pemilik warung saat penertiban dilakukan di masa mendatang. Padahal, jalan ini dibangun bertahun-tahun dengan biaya yang sangat besar demi memecahkan persoalan macet menahun di jalur utama Surabaya ke arah Kota Sidoarjo.

Satpol PP Pemkab Sidoarjo dilematis, menunggu peresmian resmi jalan ini, menanggapi masalah ini. Pihak Satpol mengakui belum mengambil tindakan pembongkaran karena alasan status jalan yang belum diresmikan.

Berita Terkait :  Prof Tuti Budirahayu: Efisiensi Anggaran Tak Boleh Menyentuh Aspek Strategis

Pihak berwenang khawatir aksi penertiban saat ini akan sia-sia. Tanpa adanya status operasional resmi, para pemilik warung diprediksi akan kembali mendirikan bangunan tak lama setelah dibongkar.

”Kalau warung warung ini kami bongkar, kemudian belum ada kapan peresmian jalan ini, kami yakin warung warung akan berdiri lagi,” komentar Sekretaris Satpol PP Sidoarjo, M Adziem SH, belum lama ini.

Pemerintah meyakini, para pemilik warung akan berpikir dua kali untuk mendirikan bangunan ilegal jika jalur ini sudah diresmikan secara total. Kini penyelesaian fisik jalan FTR masih menyisakan beberapa titik krusial.

Sebagai contoh, di wilayah Kecamatan Waru dekat perbatasan Surabaya masih terdapat persoalan lahan, sedangkan di wilayah Kecamatan Buduran mendekati Kota Sidoarjo tinggal menyisakan tahap-tahap akhir pembangunan jalan.

Selain masalah tata ruang, aspek keselamatan berkendara di FTR Sidoarjo saat ini juga berada dalam zona merah. Karena belum ada peresmian dan penjagaan ketat, banyak pengendara sepeda motor nekat melawan arus dari arah Selatan (Sidoarjo) menuju Utara (Surabaya).

Aksi nekat ini sangat membahayakan keselamatan jiwa. Pasalnya, mayoritas kendaraan dari arah Utara menuju Selatan melaju dengan kecepatan tinggi, memanfaatkan kelonggaran jalan baru yang belum tersekat sempurna. Saling silang kendaraan di jalur yang salah ini, sewaktu-waktu dapat memicu kecelakaan fatal jika tidak segera ditindak tegas.

Fakta itu benar, karena beberapa waktu lalu, di titik kawasan Desa Tebel Kecamatan Gedangan yang ramai karena disana ada Pasar Desa Tebel, sempat terjadi tabrakan banteng, antara pengendara dari utara ke selatan melawan pengendara motor yang melaju dari selatan ke arah utara, akibat insiden itu salah satu pengendara meninggal dunia. [kus.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!