Pemkab Probolinggo, Bhirawa. – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) tidak sekadar berorientasi pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga harus memperhatikan aspek sanitasi, keamanan, dan kesehatan lingkungan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat, khususnya warga miskin dan kelompok rentan, dapat menempati hunian yang benar-benar layak.
“Pemerintah terus menghadirkan hunian yang layak, sehat, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Bagaimana kondisi bangunannya, apakah sanitasinya memadai atau tidak, kita upayakan hal tersebut,” ujar Khofifah saat meninjau rumah penerima bantuan Rutilahu di Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Selasa (3/11).
Menurut Khofifah, rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar yang sangat menentukan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kelayakan hunian harus dilihat secara menyeluruh, mulai dari kekuatan bangunan, keamanan tempat tinggal, ketersediaan sanitasi, hingga kesehatan lingkungan.
Hunian yang layak, lanjutnya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga untuk tumbuh dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan sehat serta nyaman. “Tentu harapannya kebutuhan dasar masyarakat terkait rumah layak huni terutama untuk warga miskin di Jawa Timur dapat terpenuhi,” ungkapnya.
Dalam peninjauan tersebut, Khofifah didampingi Bupati Probolinggo Muhammad Haris dan perwakilan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Jatim. Ia menemui langsung Musripa (51), salah satu penerima bantuan renovasi yang selama ini tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan.
Musripa menceritakan, rumah yang ditempatinya bersama suami dan seorang anak penyandang disabilitas grahita mengalami kerusakan pada sejumlah bagian. Atap rumah jebol dan kamar mandi tidak layak digunakan. Sementara itu, suaminya sehari-hari bekerja sebagai tukang becak sehingga keterbatasan penghasilan membuat keluarga tersebut kesulitan memperbaiki rumah secara mandiri.
Mendengar kondisi tersebut, Khofifah bersama Musripa, Bupati Probolinggo, dan pihak BAZNAS melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya renovasi rumah. Musripa merupakan satu dari dua warga Kecamatan Kraksaan yang menerima bantuan Rutilahu masing-masing sebesar Rp25 juta. Penerima lainnya adalah Bahri, warga Kelurahan Sidopekso, Kecamatan Kraksaan. Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi BAZNAS Provinsi Jawa Timur sebesar Rp20 juta dan BAZNAS Kabupaten Probolinggo sebesar Rp5 juta untuk setiap penerima.
Khofifah menambahkan, perluasan program Rutilahu membutuhkan sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan BAZNAS. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan sehingga semakin banyak keluarga kurang mampu memperoleh hunian yang layak. “Penguatan dan perluasan Rutilahu harus membangun sinergi bersama BAZNAS. Kuncinya sinergi, sinergi, sinergi. Selain itu, ditargetkan sebelum Hari Raya Idulfitri,” jelasnya.
Ia juga berharap proses renovasi dapat diselesaikan sesuai target dengan tetap memperhatikan kualitas pembangunan. Dengan demikian, rumah yang diperbaiki tidak hanya terlihat lebih baik, tetapi benar-benar aman, sehat, dan nyaman untuk dihuni.
Sementara itu, Musripa mengaku sebelum menerima bantuan, sejumlah bagian rumah Musripa mengalami kerusakan. Atap rumah yang jebol dan kondisi kamar mandi yang tidak layak membuat hunian tersebut kurang memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarga. “Atap jebol dan kamar mandi tidak layak,” ungkap Musripa.
Karenanya ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan renovasi rumah yang diterimanya. Bantuan tersebut menjadi harapan baru bagi keluarganya untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak. “Saya bersama suami yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak. Kami mengucapkan terima kasih, bahagia dan bangga sudah dibantu bedah rumah sehingga bisa tinggal dengan layak,” pungkasnya.[ina,fir.ca]


