29.3 C
Sidoarjo
Wednesday, November 4, 2026
spot_img

Sinergi Lintas Negara Wujudkan Sekolah Hijau di Pasuruan


Pasuruan, Bhirawa – Pemkab Pasuruan, meresmikan dua sekolah dasar negeri di Kecamatan Purwosari sebagai proyek percontohan (pilot project) sekolah hijau berkelanjutan, Rabu (4/11). Langkah itu menjadi pijakan penting dalam menghadirkan model pendidikan berbasis lingkungan hidup melalui kemitraan lintas negara yang memadukan revitalisasi infrastruktur fisik dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Dua lembaga pendidikan yang menjadi percontohan tersebut adalah SDN Purwosari 2 dan SDN Purwosari 3. Peresmian tersebut menandai rampungnya rangkaian pembenahan fisik serta pendampingan intensif yang berlangsung selama enam bulan, sejak Mei hingga Oktober 2026.

Inisiatif bertajuk Program Sekolah Lestari itu digagas oleh Yayasan Blue SEED Indonesia bersama lembaga kesejahteraan anak asal Korea Selatan, ChorogUsan for Children, dengan dukungan pendanaan penuh dari KT&G Social Welfare Foundation.

Pelaksanaannya dilakukan melalui sinergi ketat dengan Pemkab Pasuruan, khususnya Dinas Pendidikan. Wakil Bupati (Wabub) Pasuruan, HM Shobih Asrori menegaskan, intervensi pendidikan ekologis pada jenjang sekolah dasar merupakan langkah mendasar bagi pembentukan karakter generasi penerus.

Menurut dia, pembenahan fasilitas tidak boleh dipandang sebatas perbaikan bangunan fisik semata. “Revitalisasi tidak hanya diarahkan pada perbaikan fisik, tetapi juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga serta memanfaatkan fasilitas sekolah secara berkelanjutan,” ujar Gus Shobih sapaan akrabnya Wabub Pasuruan.

Rangkaian revitalisasi diawali dengan peletakan batu pertama di SDN Purwosari 3 pada 19 Mei 2026. Pekerjaan fisik mencakup renovasi gedung eksisting hingga pembangunan fasilitas pendukung baru yang ramah lingkungan dan inklusif.

Berita Terkait :  Reformasi BUMD Jatim Butuh Komando Khusus untuk Genjot PAD Provinsi

Sarana baru yang dibangun meliputi ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, unit kesehatan sekolah (UKS), perpustakaan, toilet serta sarana olahraga seperti lapangan basket dan futsal.

Selain itu, area sekolah dilengkapi dengan taman, ruang terbuka hijau (RTH), kebun edukasi hidroponik, pembenahan drainase, kantin hingga sistem pengelolaan sampah berbasis pengomposan.

Seluruh siswa di kedua sekolah juga menerima mebeler berupa meja dan kursi baru, perlengkapan sekolah, serta botol minum (tumbler) untuk membiasakan penekanan timbulan sampah plastik sekali pakai. Pengerjaan fisik mengacu pada prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk menjamin keamanan serta kenyamanan warga sekolah.

Manajer Program Sekolah Lestari Yuni Setyaningsih mengungkapkan, program dirancang mengacu pada empat pilar utama. Pertama, green cognitive (pengetahuan hijau) untuk memperkuat pemahaman kognitif siswa dan guru terkait isu ekologi. Kedua, green affective (sikap hijau) guna menumbuhkan kepedulian dan empati terhadap alam.

Pilar ketiga adalah green psychomotor (keterampilan hijau) yang melatih kemampuan praktis warga sekolah dalam menjaga lingkungan. Adapun pilar keempat, green environment (lingkungan hijau), diwujudkan melalui bentang fisik sekolah yang bersih, asri dan aman.

“Kolaborasi lintas pihak dan lintas negara inilah yang menjadi tumpuan keberhasilan program. Kami percaya SDN Purwosari 2 dan SDN Purwosari 3 akan menjadi pionir serta teladan penerapan sekolah hijau berkelanjutan,” urai Yuni.

Dampak program tidak berhenti di lingkungan kedua sekolah percontohan. Sejumlah kepala sekolah dan guru SD dari berbagai kawasan di Kabupaten Pasuruan turut dilibatkan dalam serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas (capacity building) yang digelar Blue SEED Indonesia.

Berita Terkait :  Fenomena Bendera One Piece di Momen Kemerdekaan, Sosiolog Beri Penjelasan

Materi pelatihan meliputi kepemimpinan sekolah adaptif, literasi lingkungan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sekolah ramah anak, kesiapsiagaan bencana, pengelolaan sampah Adiwiyata, hingga integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan prompt engineering bagi pendidik.

Sementara bagi siswa, diterapkan pendekatan fun learning untuk mengenalkan isu lingkungan secara menyenangkan.

Direktur Yayasan Blue SEED Indonesia Agus Jaenudin mengemukakan, penguatan kapasitas SDM menjadi kunci agar keberlanjutan program tetap terjaga setelah masa pendampingan usai. “Kami berfokus pada perubahan perilaku dan penguatan kapasitas guru agar Sekolah Lestari menjadi best practice yang dapat direplikasi di daerah lain,” jelas Agus.

Apresiasi senada disampaikan Ketua Dewan KT&G Social Welfare Foundation Min Youngjin. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung program sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui kemitraan strategis dengan pemerintah daerah. [hil.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!