Jombang, Bhirawa – Petugas dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur (Jatim) mengevakuasi jobong kuno yang berada di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Senin (02/11/2026).
Jobong kuno itu kemudian dipindahkan ke area Candi Pandegong yang terletak sekitar satu kilometer ke arah barat dari lokasi penemuan jobong.
Pamong Budaya Ahli Pertama BPK Jatim, Indra Eka Widya Jaya di lokasi mengatakan, jobong kuno tersebut ditemukan warga setempat satu pekan yang lalu.
“Kemudian dari pihak warga sini itu melalui Juru Pelihara Situs Pandegong, Bapak Jayadi, itu kemudian berkoordinasi langsung ke kantor kami untuk melakukan penanganan terhadap temuan ini,” kata Indra.
“Nah penemuan ini merupakan sebuah artefak yang disebut jobong, ada yang menyebut perigi. Secara pendapat umum, jobong merupakan dinding dari kemungkinan sumur. Belakangan ini ada juga para ahli yang berpendapat bahwa jobong merupakan kalau sekarang mirip septic tank, namun perlu dikaji lagi,” papar Indra.
Indra menjelaskan, di lokasi, terdapat empat lapis jobong kuno. Di mana jobong selalu bertumpuk ketika ditemukan.
“Yang berhasil kami evakuasi ada tiga lapis, lapis terakhir kami tinggalkan karena memang sangat sukar sekali untuk diangkat. Jadi nanti langsung diurus, diratakan saja. Memang ini lokasinya akan dijadikan salah satu bangunan rumah warga,” ujar dia.
Sementara lanjut Indra, jobong yang lumayan utuh berada di bawah atau jobong lapisan keempat dengan ukuran tinggi dua kali lipat dari jobong lapisan ketiga yang memiliki tinggi 38 sentimeter.
Dia menyampaikan, untuk jobong lapisan pertama atau paling atas, ditemukan pada kedalaman sekitar satu meter dari permukaan tanah, namun kondisinya sudah hancur.
“Dua lapis pertama itu memang sudah hancur. Dan memang di dalam jobong ini ditemukan juga beberapa pecahan tembikar halus, juga ada ditemukan pecahan bata yang lumayan besar ukurannya,” beber Indra.
Dia menambahkan, pihaknya telah mencoba mengukur bata yang ada di Candi Pandegong dengan bata yang ditemukan di sekitar jobong kuno.
“Untuk dimensi batanya itu nyaris sama. Sehingga memungkinkan besar semasa, karena bentuk batanya, tebalnya mirip, kemudian panjangnya juga mirip,” jelasnya.
Untuk jobong kuno yang telah dievakuasi, akan dilakukan pembersihan, dan jika memungkinkan, juga akan dilakukan rekonstruksi.
“Untuk yang tidak bisa kami angkat, itu akan diuruk, diratakan dengan tanah, tapi kita berikan tanda,” ungkap Indra.
“Sehingga suatu saat kalau misalnya ada peneliti atau masyarakat tidak sengaja menggalinya, itu sudah da tanda bahwa kita pernah melakukan penanganan terhadap benda tersebut,” pungkasnya. [rif.kt]


