27.8 C
Sidoarjo
Sunday, October 25, 2026
spot_img

Dari Pesantren ke Tokyo, Array Arasy Firdaus Kemal Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang Prestasi

Tidak semua mimpi besar berawal dari ruang belajar yang lengkap dengan fasilitas digital. Sebagian justru tumbuh dari kesederhanaan, ketekunan, doa orang tua, dan keberanian untuk mencoba.

Oleh :
Achmad Basir, Kab Bojonegoro

Kisah itu tergambar dalam perjalanan Array Arasy Firdaus Kemal, siswa kelas XI jurusan Mekatronika SMK Muhammadiyah 7 (SMK Mutu) Gondanglegi, Kabupaten Malang, yang berhasil terpilih sebagai salah satu dari enam delegasi resmi Indonesia dalam program Tokyo Experience Metropolitan Board of Education (TMBoE) 2026 di Jepang.

Bagi Array, kesempatan menginjakkan kaki di Tokyo bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Ada harapan besar yang ingin ia bawa: menyerap ilmu, memperluas wawasan, mengasah keterampilan vokasi, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti meraih cita-cita.

Siswa asal Bojonegoro yang kini tinggal di Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) Gondanglegi itu menjalani kesehariannya dengan disiplin sebagai seorang pelajar sekaligus santri. Di tengah aktivitas belajar dan kehidupan pesantren, ia menyiapkan diri untuk menghadapi seleksi program internasional yang menuntut kemampuan akademik, kecakapan berkomunikasi, serta kesiapan mental.

Salah satu kunci yang dipegang Array adalah menjaga ketenangan. Baginya, menghadapi seleksi bukan hanya soal seberapa banyak persiapan yang dilakukan, tetapi juga bagaimana mengendalikan diri ketika berhadapan dengan tekanan dan tuntutan yang tidak biasa.

Menyiapkan Langkah dari Kamar Sederhana. Kesempatan itu datang pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Begitu memperoleh informasi mengenai seleksi program pertukaran pelajar tersebut, Array segera menghubungi kedua orang tuanya, Muhammad Zamroni dan Shinta Dewi Sukowati. Ia menyadari bahwa persiapan yang diperlukan tidak sedikit, terutama untuk memenuhi persyaratan administrasi dan kemampuan bahasa Inggris.

Dukungan keluarga menjadi salah satu modal penting dalam perjalanannya. Orang tua membantu menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, termasuk mencarikan bimbingan belajar dan tes TOEFL daring. Dalam seleksi tersebut, Array harus memenuhi standar nilai minimal TOEFL 500 agar dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.

Berita Terkait :  Topping Off Gedung Gus Dur RSU Muslimat NU Ponorogo, Gubernur Khofifah Harap Bisa Berkontribusi Turunkan AKI-AKB

Setelah menjalani tes bahasa Inggris, perjuangannya belum selesai. Ia masih harus membuat video perkenalan diri sekaligus memaparkan tema yang dipilih, seluruhnya menggunakan bahasa Inggris.

Proses perekaman video itu membutuhkan persiapan khusus. Kamera dan mikrofon harus aktif, perekaman dilakukan melalui Zoom, sementara kondisi ruangan harus benar-benar tenang. Tidak boleh ada suara orang lain yang masuk, sehingga kamar perlu dikunci demi menjaga konsentrasi dan kualitas rekaman.

“Setelah mengikuti tes TOEFL, saya membuat video untuk perkenalan diri dan penjelasan tema yang saya ambil dengan menggunakan bahasa Inggris secara penuh. Saya harus on-camera, on-microphone, dan menggunakan Zoom. Kamar juga harus kedap suara, tidak boleh ada suara orang lain sedikit pun, serta harus dikunci,” jelas Array.

Di balik proses yang tampak sederhana itu, tersimpan latihan keberanian untuk berbicara dalam bahasa asing, menyampaikan gagasan secara terstruktur, dan tampil percaya diri di depan kamera. Semua dilakukan demi satu tujuan: mendapatkan kesempatan belajar di lingkungan pendidikan internasional.

Kondisi kesehariannya di pesantren yang tidak selalu memungkinkan akses gawai setiap saat juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, Array tidak menjadikannya alasan untuk menyerah. Ia berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan seleksi, memanfaatkan kesempatan yang tersedia, dan tetap fokus pada target yang ingin dicapai.

Kabar Kelulusan yang Membawa Kebanggaan. Perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Pada Senin, 12 Oktober 2026, pengumuman kelulusan final diumumkan secara terbuka melalui akun Instagram resmi Direktorat SMK. Nama Array tercantum sebagai salah satu dari enam delegasi Indonesia yang terpilih mengikuti program TMBoE 2026 di Jepang.

Kabar tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga dan lingkungan sekolah. Di balik keberhasilan seorang siswa, ada proses pendampingan, dukungan, dan keyakinan yang tumbuh bersama.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah Resmikan Revitalisasi Kawasan Kumuh Bendomungal

Doa Orang Tua, Bekal Melangkah Lebih Jauh.Kebahagiaan atas kelulusan Array turut dirasakan kedua orang tuanya. Muhammad Zamroni mengungkapkan rasa bangga sekaligus haru ketika mengetahui putranya berhasil melewati seleksi. Bagi keluarga, kesempatan tersebut merupakan hasil dari usaha yang patut disyukuri dan dijaga dengan tanggung jawab.

Setelah mengetahui Array terpilih, Zamroni bersama istrinya semakin memperkuat doa agar seluruh rangkaian persiapan hingga keberangkatan berjalan lancar. Mereka berharap putranya tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga mampu mengambil pelajaran berharga dari setiap kesempatan yang didapatkan.

“Sebagai orang tua, kami bangga Array lolos seleksi ini. Terima kasih kepada SMK Mutu Gondanglegi yang sudah memberikan ilmu, pendampingan, dan informasi seleksi ini. Kami juga selalu memberikan motivasi kepada Array untuk mencari banyak teman dan membangun jejaring yang luas demi kesuksesan masa depannya,” tutur Zamroni.

Pesan tersebut menjadi bekal penting bagi Array. Ilmu, menurut keluarganya, tidak hanya diperoleh dari buku dan ruang kelas. Pengalaman bertemu orang baru, memahami perbedaan budaya, serta membangun hubungan baik dengan orang lain juga merupakan bagian dari proses pendewasaan.

Harapan itu pula yang akan dibawa Array selama mengikuti kegiatan di Jepang. Ia diharapkan mampu menjaga sikap, memanfaatkan waktu dengan baik, dan pulang membawa pengalaman yang dapat dibagikan kepada teman-temannya di sekolah maupun di pesantren.

Tokyo dan Mimpi Besar Seorang Siswa Vokasi. Sesuai jadwal yang direncanakan, program TMBoE 2026 akan berlangsung pada 5-12 Desember 2026. Selama kurang lebih satu minggu, para peserta dijadwalkan mengenal sistem pendidikan modern di Tokyo, mengembangkan kompetensi vokasi berbasis teknologi industri, serta mengeksplorasi kehidupan masyarakat setempat.

Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan Dewan Pendidikan Metropolitan Tokyo yang difasilitasi oleh TEPRO. Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan memperoleh pengalaman belajar lintas budaya sekaligus memperluas perspektif mengenai perkembangan pendidikan dan teknologi.

Berita Terkait :  Perkuat Kapasitas Kepala Desa Kabupaten Madiun, Dorong Digitalisasi Layanan Publik

Bagi Array yang mendalami bidang Mekatronika, kesempatan belajar di Jepang terasa begitu istimewa. Negara tersebut dikenal luas melalui perkembangan teknologi dan industrinya. Berada langsung di lingkungan pendidikan Tokyo menjadi peluang untuk melihat bagaimana pengetahuan dan keterampilan vokasi dipelajari serta diterapkan dalam kehidupan nyata.

Namun, tujuan Array tidak berhenti pada urusan teknologi. Ia juga ingin mengenal budaya masyarakat Jepang, belajar berinteraksi dengan penduduk lokal, dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada teman-teman dari lingkungan internasional.

“Alhamdulillah, menjadi bagian dari delegasi SMK Mutu dan Indonesia adalah kebanggaan besar bagi saya. Selama di Tokyo nanti, saya bertekad memaksimalkan kesempatan ini untuk menyerap ilmu, melatih keterampilan vokasi baru, merasakan langsung sistem edukasi di sana, serta mengenalkan budaya luhur Indonesia guna memperluas jejaring persahabatan global,” ungkapnya penuh optimisme.

Bagi Array, terpilih sebagai delegasi bukanlah garis akhir dari perjuangan. Justru, itulah awal dari perjalanan yang lebih luas. Ia akan membawa identitas sebagai pelajar vokasi, santri, dan generasi muda Indonesia yang memiliki kesempatan untuk belajar dari dunia sekaligus memperkenalkan bangsanya kepada dunia.

Dari Bojonegoro, melalui keseharian di pesantren dan bangku Mekatronika SMK Mutu Gondanglegi, langkah Array kini mengarah ke Tokyo. Sebuah perjalanan yang mengingatkan bahwa kesempatan besar tidak selalu datang kepada mereka yang memiliki fasilitas paling lengkap, melainkan juga kepada mereka yang mau berusaha, menjaga ketenangan, berani mencoba, dan tidak berjalan sendirian.

Sebab, terkadang, jalan menuju panggung internasional bermula dari langkah kecil: menghubungi orang tua, mempersiapkan dokumen, belajar bahasa Inggris, lalu memberanikan diri berbicara di depan kamera. Dari langkah-langkah itulah mimpi perlahan menemukan jalannya. [bas.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!