28.8 C
Sidoarjo
Sunday, October 25, 2026
spot_img

Menyaksikan Fajar dari Utara

Oleh:
Rio Febriannur Rachman
Dosen Universitas Negeri Surabaya

Ahad malam, 18 Oktober 2026, sekelompok orang tampak berdiskusi tentang Thales dari Miletus, filsuf Yunani kuno yang kerap disebut sebagai induknya induk filsafat Barat. Mereka membicarakan pemikiran seorang tokoh yang hidup ribuan tahun silam, mencoba memahami bagaimana manusia mulai mempertanyakan alam semesta dan mencari penjelasan melalui akal pikiran.

Angin yang semilir. Hawa malam dingin musim kemarau. Bau lembab yang cukup segar. Makin membuat suasana menyenangkan, ditambah suguhan kopi di meja depan mereka yang lesehan.

Pertemuan itu berlangsung di Dapsulur, Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Forum ini digagas komunitas Cendekia, yang didirikan dua peminat budaya lokal: Bambang Subahri dan Jalaludin. Tidak ada mimbar atau ceramah panjang yang menempatkan seseorang sebagai pemilik kebenaran. Bambang hanya memantik obrolan. Selanjutnya, sekadar orang-orang yang berkumpul, menyampaikan pendapat, mendengarkan, dan mencoba memahami gagasan yang mungkin sebelumnya terasa asing.

Sekilas, pertemuan semacam ini terlihat sederhana. Mereka hanya ingin menghadirkan ruang perjumpaan, tempat orang bisa belajar bersama tanpa harus merasa lebih pintar daripada yang lain. Malam itu, Thales menjadi bahan percakapan. Namun, yang sedang mereka upayakan sesungguhnya jauh lebih luas, yakni, menumbuhkan kebiasaan berpikir, berdialog, dan bergerak bersama.

Ranuyoso, juga Klakah, merupakan dua kecamatan di bagian utara Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki kehidupan sosial yang khas, dengan masyarakat yang menjalani keseharian dalam beragam latar belakang dan pengalaman. Dalam percakapan sehari-hari, wilayah utara Lumajang terkadang dilekatkan dengan citra masyarakat yang keras. Namun, seperti halnya tempat lain, kehidupan di kawasan ini tentu tidak dapat dissaksikan melalui satu gambaran saja.

Berita Terkait :  Pastikan Kondisi Aman dan Kondusif, Karutan Situbondo Sidak Blok Hunian WBP

Perjumpaan di ahad malam hanya satu di antara banyak kegiatan komunitas Cendekia. Tahun 2025-2026, mereka meneliti tentang khazanah lokal “Pencak Sholat”. Penelitian itu didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui program Indonesiana. Tahun 2026-2027, mereka Kembali meraih dukungan Kementerian tersebut melalui gagasan revitalisasi artefak Batu Gilis.

Intinya, aktifitas diskusi filsafat (yang juga diselingi nonton film bersama di hari-hri selanjutnya) ini ingin menyediakan ruang bagi masyarakat dan generasi muda di sekitar tempat tinggal mereka. Tentu, ada harapan agar kebiasaan baik juga bisa turut tersebar di kawasan lain. Namun, itu mimpi yang sedang dikejar. Setidaknya, mereka ingin memulai dari sesuatu yang dekat dan memungkinkan untuk dilakukan bersama.

Perubahan sosial sering kali dibayangkan sebagai sesuatu yang besar. Ia harus memiliki program yang jelas, dukungan banyak orang, sumber daya yang memadai, dan hasil yang bisa segera diukur. Padahal, kehidupan masyarakat tidak selalu bergerak mengikuti rancangan-rancangan semacam itu. Ada kalanya perubahan justru berawal dari sesuatu yang tampak remeh: percakapan, pertemuan kecil, atau kebiasaan berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dianggap penting.

Diskusi filsafat dan menonton film bersama mungkin tidak serta-merta menyelesaikan persoalan sosial di Ranuyoso dan Klakah. Namun, keduanya dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan berpikir, mendengarkan, dan memahami pengalaman orang lain. Dari ruang-ruang semacam itu, orang berkesempatan mengenali perbedaan tanpa harus menjadikannya alasan untuk saling menjauh. Percakapan juga dapat membuka jalan bagi kesadaran tentang persoalan bersama yang membutuhkan tindakan lebih konkret.

Berita Terkait :  DPRD Jatim Soroti Serapan Anggaran Lemah, Desak Evaluasi OPD

Kegiatan semacam ini tidak boleh berhenti sebagai kesibukan yang menyenangkan bagi segelintir orang. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga keberlanjutannya, memperluas keterlibatan masyarakat, dan perlahan-lahan menghubungkan gagasan dengan kebutuhan nyata di lingkungan sekitar. Perubahan tidak cukup hanya dibicarakan; pada waktunya, ia perlu diwujudkan dalam tindakan.

Langkah-langkah kecil tetap layak dihargai, terutama ketika dilakukan tanpa pretensi untuk merasa paling tahu atau paling benar. Masyarakat bukan ruang kosong yang menunggu seseorang datang membawa pencerahan. Di dalamnya telah tumbuh pengalaman, pengetahuan, dan kearifan yang dapat menjadi sumber bagi perubahan itu sendiri. Fajar memang tidak pernah datang sekaligus: ia menyingkap pelan-pelan dari belahan langit yang relatif. Ia hadir perlahan, mula-mula sebagai cahaya tipis di cakrawala, sebelum akhirnya menerangi sekelilingnya. Demikian pula harapan dari utara Lumajang.

———– *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!