Pemkab Bondowoso, Bhirawa. – Pemkab Bondowoso memperkuat langkah revitalisasi sektor perkopian daerah melalui kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember dan International Labour Organization (ILO). Sinergi lintas sektor ini diarahkan untuk membangun kembali ekosistem kopi Bondowoso dari hulu hingga hilir sekaligus memperluas akses pembiayaan dan pasar internasional.
Kolaborasi itu dibahas dalam Rapat Kunjungan Kerja yang berlangsung di Peringgitan Pendopo Raden Bagus Assra, Bondowoso, Rabu (30/9). Pertemuan dipimpin Bupati Abdul Hamid Wahid, didampingi Wakil Bupati As’ad Yahya Safi’i, dan Sekretaris Daerah Fathur Rozi. Hadir juga jajaran Staf Ahli Bupati, Asisten Sekda, pimpinan perangkat daerah terkait, serta delegasi OJK Jember dan ILO.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menyusun roadmap dan aksi konkret pengembangan komoditas kopi Bondowoso secara terintegrasi. Pemerintah daerah menargetkan strategi pengembangan tersebut dituangkan dalam Grand Strategy Pengembangan Perkopian Bondowoso dengan visi jangka panjang hingga 2035.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid mengatakan, kolaborasi tersebut berawal dari komitmen OJK untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan produk lokal unggulan. Momentum itu kemudian dimanfaatkan Pemkab Bondowoso untuk kembali menggaungkan program Bondowoso Republik Kopi (BRK) Reborn.
”Beberapa waktu lalu telah disampaikan program Bondowoso Republik Kopi Reborn, dan OJK memberikan dukungan penuh serta berkomitmen untuk merajut dan menyambungkan gagasan ini kepada pihak-pihak strategis terkait,” ujarnya.
Menurut Bupati, keterlibatan ILO melalui program Promise to Impact Fase 3 menjadi bagian penting dalam penataan kebijakan strategis sektor perkopian di Bondowoso.
Pemkab Bondowoso mentargetkan revitalisasi tidak hanya menyentuh sektor produksi, tetapi mencakup seluruh mata rantai industri kopi. Mulai dari pemberdayaan petani, peningkatan kapasitas produksi, tata kelola pengolahan, akses pembiayaan, hingga perluasan jejaring pemasaran.
Pemerintah daerah juga menyatakan komitmennya menyiapkan regulasi yang mendukung investasi sekaligus melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan industri kopi.
Sementara, Kepala Kantor OJK Jember, Aris Budiman menjelaskan, OJK dalam program BRK Reborn berperan sebagai agregator sekaligus katalisator. Peran itu dilakukan dengan mengintegrasikan potensi lokal dan mempertemukan komunitas kopi, pelaku usaha, pemangku kepentingan, serta lembaga jasa keuangan.
Dalam ekosistem ini, OJK akan memfasilitasi keterhubungan pelaku usaha dan komunitas kopi dengan lembaga jasa keuangan, baik perbankan maupun nonbank. Selain pembiayaan modal kerja, OJK juga mendorong pemanfaatan instrumen asuransi pertanian untuk membantu memitigasi risiko iklim dan gagal panen yang dihadapi petani.
”Peran OJK dalam BRK Reborn adalah sebagai agregator sekaligus katalisator,” kata Aris.
Untuk memperkuat implementasi program, Pemkab Bondowoso akan berkolaborasi dengan OJK, ILO, serta sejumlah perangkat daerah, antara lain Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Diskoperindag, Disparbudpora, Diskominfo, dan Baperida.
Program pendampingan ILO direncanakan mulai berjalan pada November 2026, dengan kick-off resmi pada awal 2027. Pendampingan dirancang berlangsung selama empat tahun dan akan disertai evaluasi secara berkala. [san.fen]


