28.1 C
Sidoarjo
Sunday, September 13, 2026
spot_img

Politainment, antara Pencitraan atau Pergeseran Budaya?

Oleh :
Siti Khodijah
Penulis adalah dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember

Pernahkah anda mendengar istilah politainment? Politainment merupakan singkatan dari kata politik dan entertainment. Politainment ini merupakan budaya popular, karena merupakan restyling dari sebuah politik yang dipermak menjadi entertainment. Seiring dengan canggihnya dunia digital, semakin pula menggeser citra politik yg dulu dikenal sebagai sesuatu yang kaku dan formal, sekarang politik berubah menjadi entertain, yaitu sesuatu yang menghibur. Hal ini dilakukan supaya politik yg kaku bisa diterima semua kalangan. Politik yang dulu hanya dinikmati oleh kalangan orang dewasa, sekarang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Disitulah politainment bekerja.

Menurut pakar, politainment merupakan bentuk politik yang dikemas secara santai agar bisa dinikmati dan diterima oleh semua kalangan, terutama kaum muda yaitu Gen Z. Banyak acara yang sebenarnya politik tapi dikemas secara santai dan nyaman, seperti acara podcast. Hal itu dilakukan oleh seorang politisi agar terkesan sederhana dan dekat dengan rakyat. Mereka juga bisa santai dan enak diajak komunikasi. Pun, dari panggung entertain, sekarang marak sekali para selebritis terjun ke dunia politik Dimana mereka memasuki parlemen, cabinet, bahkan lingkaran terdekat istana. Selebritas kini bukan lagi sekadar pendulang suara musiman menjelang pemilu, melainkan aktor yang sekaligus menggenggam modal popularitas, modal ekonomi, dan akses politik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan Prabowo dalam mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan presiden kemarin yaitu karena mereka memakai entertainmen sebagai panggung politik. Misalnya dengan menciptakan sebuah lagu yang viral dan disertai dengan jogetnya yang khas anak muda, mereka berhasil mencuri perhatian banyak generasi, terutama Gen Z. Selain dengan cara penyajiannya melalui joget-joget dan lagu, politik saat ini juga dikemas dengan cara bikin atau datang di podcast-podcast. Hal ini tidak lain yaitu untuk membranding dirinya bahwa sebenarnya mereka sama dengan orang biasa yang tidak ada sekat. Mereka juga bisa guyon, lebih manusiawi, dan reflektif, sehingga mereka terlihat seperti sedang dekat dengan rakyat. Pembawaan yang santai dan humoris, membuat banyak kalangan menikmati acara itu yang secara tidak langsung, mereka terhipnotis untuk menyukai sebuah sosok yang sering muncul dilayar dengan pembawaan yang Santai itu. Penonton tidak sadar bahwa mereka sedang dicekoki kampanye.

Berita Terkait :  Tersedia 57.152.609 Kilogram Persediaan Beras di Gudang Bulog Banjarkemantren

Namun di balik segala kilau panggung politik yang menghibur ini, terdapat pertanyaan signifikan yang perlu diangkat: apakah politainment hanya berfungsi sebagai sarana untuk membangun citra demi menarik pemilih, atau sebenarnya merupakan indikasi adanya perubahan budaya politik menuju bentuk yang lebih demokratis? Di satu sisi, metode ini berhasil menghilangkan batasan eksklusif di dunia politik yang selama ini terkesan terbatas dan elitis. Politik kini tidak hanya menjadi domain para akademisi, pejabat, atau pengamat yang serius, melainkan juga milik generasi muda yang lebih familiar dengan konten santai di platform media sosial. Dalam hal ini, politainment dapat dipahami sebagai wujud penyesuaian politik terhadap perubahan zaman-sebuah tuntutan di era di mana perhatian publik menjadi aset yang paling berharga.

Namun, di sisi lain, terdapat ancaman yang mengintai: ketika politik disajikan terlalu menghibur, esensi dari hal tersebut dapat tersisih oleh tampilan luar. Publik mungkin mengingat tarian dan lagu-lagu dari kampanye, tetapi mengabaikan rekam jejak, visi, ataupun program yang diusung. Politik yang seharusnya menjadi tempat berdebat tentang ide-ide, berubah menjadi arena persaingan popularitas dan angka suka. Dalam kondisi ini, politainment bukan sekadar taktik komunikasi, melainkan dapat bertransformasi menjadi ilusi demokrasi-dimana masyarakat merasa terhubung dengan pemimpin mereka, padahal yang mereka kenal hanyalah sosok yang telah diseleksi dengan cermat oleh tim media. Maka dari itu politik pencitraan telah menjadi industry tersendiri.

Berita Terkait :  Tingkatkan Fasilitas Olahraga Masyarakat, Pemkot Batu Revitalisasi Dua GOR

Perubahan budaya yang terjadi membawa sifat paradoks. Di satu sisi, generasi muda semakin sadar akan politik karena isu-isu yang berat disajikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. Namun di sisi lain, mungkin muncul kebiasaan baru yang dangkal: generasi yang menilai pemimpin berdasarkan gaya bicara di podcast, bukannya pada kebijakan yang dihasilkan. Oleh karena itu, tantangan utama dari fenomena politainment bukanlah menolaknya, tetapi memastikan bahwa hiburan tidak mengalahkan nalar. Masyarakat, terutama Gen Z, perlu didorong untuk tetap berpikir kritis-menikmati spectacle politik, tetapi tetap mengingat untuk mengaudit janji-janji di balik layar. Karena demokrasi yang sehat tidak hanya melibatkan siapa yang paling menarik perhatian, tetapi juga siapa yang paling bertanggung jawab setelah sorotan lampu padam.

Dan pada akhirnya, perkawinan antara dunia politik dan dunia hiburan adalah cerminan dari demokrasi yang sedang mencari bentuknya. Ia bisa menjadi jalan partisipasi yang lebih inklusif, tetapi juga bisa menjadi alat pembodohan massa yang terpesona pada permukaan. Ketika politik menjadi hiburan, demokrasi bisa kehilangan esensinya. Hiburan memang menarik perhatian, tetapi jika dibiarkan menjadi pusat segalanya, ia bisa merusak fondasi demokrasi itu sendiri. Yang dibutuhkan bukanlah penolakan buta terhadap hiburan dalam politik, melainkan kewaspadaan kritis. Publik perlu belajar membedakan antara politisi yang genuinely memahami persoalan dengan selebritas yang sekadar meminjam panggung. Partai politik perlu serius melakukan kaderisasi, bukan sekadar mengandalkan figur yang sedang populer atau kekuatan finansial, karena ketergantungan semacam itu pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi partai itu sendiri. Sebab, demokrasi yang sehat tidak dibangun di atas popularitas sesaat, melainkan di atas kejujuran dan kompetensi-dua hal yang hanya bisa lahir dari kaderisasi yang sungguh-sungguh. Lagi pula, demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang paling menghibur, melainkan demokrasi yang paling jujur. Dan kejujuran, sayangnya, jarang menjadi tontonan prime time.

Berita Terkait :  Pacific Caesar Surabaya Target Lolos Playoff IBL

————– *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!