Pemprov Jatim, Bhirawa – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat langkah pembukaan akses pasar bagi produk desa dan industri kecil menengah (IKM) berorientasi ekspor melalui kegiatan Pembinaan Akses Pasar Bagi Desa Devisa/IKM Berorientasi Ekspor yang digelar hari ini di Surabaya, Kamis (27/8/2026).
Acara yang menghadirkan perwakilan Desa Devisa Kriya Giri Sejahtera (Gresik), inkubator bisnis dari Institut Teknologi Sepuluh November, serta perwakilan BNI Kanwil 06 Surabaya ini menargetkan peningkatan kapasitas usaha desa agar mampu menembus pasar luar negeri.
Lucky, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, mewakili Plt Kepala Dinas Dr. Iwan, S.Hut., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi provinsi untuk mendorong nilai tambah produk unggulan daerah dan memperluas jaringan pasar.
“Jawa Timur mencatat pertumbuhan ekonomi yang solid pada Triwulan II 2026, yakni 5,72 persen year-on-year, dan pertumbuhan kumulatif semester I 2026 sebesar 5,84 persen, tertinggi di Pulau Jawa. Sektor perdagangan memainkan peran kunci dalam pencapaian ini,” kata Lucky.
Menyorot kinerja ekspor nonmigas, Lucky menegaskan bahwa kontribusi sektor ini sangat besar bagi perekonomian Jawa Timur. “Pada Juni 2026, neraca perdagangan nonmigas menunjukkan surplus USD 223,84 juta, dengan ekspor nonmigas mencapai USD 2,51 miliar dan impor USD 2,29 miliar. Ekspor nonmigas menyumbang hampir 99 persen dari total ekspor provinsi,” ujar Lucky.
Ia menambahkan bahwa komoditas unggulan seperti tembaga, perhiasan/permata, lemak dan minyak hewan/nabati, kayu dan barang dari kayu, bahan kimia organik, serta produk perikanan menjadi andalan provinsi di pasar global.
Program Desa Devisa sebagai jembatan pasar, Lucky menjelaskan bahwa program Desa Devisa menjadi salah satu instrumen vital untuk memperkuat struktur ekonomi di tingkat desa.
“Sejak MoU antara Gubernur Jawa Timur dan LPEI pada 2022, hingga kini terdapat 313 Desa Devisa dengan ragam komoditas, mulai tenun ikat dan batik, hingga udang vaname, gula aren, jahe, kopi, serta kerajinan lokal seperti kendang jimbe dan gembol/akar jati. Program ini dirancang untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal dan membuka akses ke pasar ekspor,” katanya.
Kegiatan pembinaan hari ini menyoroti produk kerajinan tangan dari Desa Devisa Kriya Giri Sejahtera, Gresik. Lucky menegaskan pentingnya keterlibatan IKM lokal dalam setiap rangkaian pembinaan agar manfaatnya dapat terdistribusi lebih luas.
“Kami ingin pelaku usaha kerajinan tangan semakin siap memasuki pasar ekspor, bukan sekadar mengejar volume, tetapi juga kualitas, sertifikasi, dan daya saing produk,” ujarnya.
Sinergi pemerintah, lembaga pembiayaan, dan inkubator
Untuk mewujudkan target pasar global, Disperindag Jatim tidak bekerja sendiri. Lucky memaparkan sejumlah upaya kolaboratif yang sedang berjalan, antara lain kerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk memperkuat pembiayaan bagi Desa Devisa, serta program Coaching Program for New Exporter (CPNE) untuk meningkatkan kapabilitas eksportir baru.
“Dari sisi promosi, kami aktif berkoordinasi dengan perwakilan perdagangan di berbagai negara target untuk menyelenggarakan webinar peluang pasar, pitching produk, business matching, hingga misi dagang ke luar negeri. Partisipasi kami dalam pameran internasional juga dirancang untuk memperkenalkan produk unggulan Jawa Timur di pasar global,” kata Lucky.
Menyiapkan IKM menghadapi tantangan ekspor
Dalam sesi pembinaan, narasumber dan praktisi bisnis memberikan panduan praktis terkait kesiapan ekspor, pengemasan sesuai standar internasional, pemenuhan persyaratan mutu dan sertifikasi, strategi pemasaran digital, serta pengelolaan rantai pasok agar produk dapat dikirim tepat waktu dan kompetitif secara harga.
Perwakilan inkubator dari Institut Teknologi Sepuluh November turut berbagi pengalaman tentang pengembangan desain produk dan peningkatan kapabilitas pemasaran.
Lucky menekankan bahwa penguatan akses pasar harus diimbangi pembiayaan dan layanan bisnis yang memadai. “Kami mendorong perbankan dan lembaga keuangan untuk memberikan solusi pembiayaan yang sesuai dengan siklus produksi IKM desa, termasuk fasilitas trade finance dan pelatihan manajemen usaha,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Lucky mengajak semua pihak untuk memanfaatkan momentum pembinaan ini. “Mari manfaatkan kegiatan hari ini untuk meningkatkan wawasan, kompetensi, dan jaringan kemitraan. Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, akademisi, dan sektor swasta, saya yakin produk berkualitas dari desa-desa Jawa Timur bisa menembus pasar dunia. Jadikan Jawa Timur sebagai provinsi yang mengekspor produk unggulan dari desa untuk dunia,” cetus dia.
Acara ini diharapkan menjadi langkah lanjutan dalam rangkaian program pengembangan Desa Devisa yang tidak hanya meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi regional. Dengan dukungan kebijakan, pembiayaan, pelatihan, dan akses promosi, produk-produk lokal Jawa Timur diharapkan semakin siap mendunia. [aya.kt]



