Diikuti Lebih Seribu Peserta, Padukan Peringatan Kemerdekaan dengan Aksi Pemulihan Ekosistem dan pencegahan Kathutla
Pemprov, Bhirawa – Semangat kemerdekaan di Jawa Timur diisi dengan aksi nyata menjaga kelestarian lingkungan. Lebih dari 1.100 peserta mengikuti rangkaian Ekspedisi 81 Gunung Arjuno yang memadukan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan aksi pemulihan ekosistem dan pencegahan kebakaran hutan.
Puncak kegiatan ditandai dengan pengibaran bendera Merah Putih dan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di kawasan Pasar Dieng, Gunung Arjuno, Senin (17/8). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kampanye menjaga hutan melalui tema “Merawat Hutan, Mencegah Kebakaran, Menjaga Kehidupan, Menguatkan Indonesia”.
Ekspedisi 81 sebelumnya dilepas Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dari Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (15/8). Khofifah menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar ekspedisi pendakian, tetapi juga membawa pesan penting tentang kecintaan terhadap tanah air melalui pelestarian lingkungan.
“Dari Grahadi, kita tidak sekadar melepas rombongan pendaki. Kita menitipkan amanah Merah Putih untuk dibawa menuju Gunung Arjuno sekaligus mengirimkan pesan dari Jawa Timur kepada Indonesia bahwa mencintai tanah air berarti juga merawat bumi pertiwi,” ujar Khofifah saat pelepasan tim Ekspedisi.
Tahap pendakian dimulai pada, Minggu (16/8). Sebelum pemberangkatan para peserta mengikuti apel di kawasan Cangar, Minggu (16/8) pagi. Apel dipimpin Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi. Kegiatan ini sebagai konsolidasi akhir untuk memastikan kesiapan peserta, sekaligus meneguhkan disiplin keselamatan dan etika pendakian dengan prinsip zero fire, zero waste, dan zero vandalism.
Dalam rangkaian tersebut juga dilakukan penanaman simbolis bibit Ficus dan cemara gunung sebagai tanda dimulainya pemulihan ekosistem Gunung Arjuno.
Jumadi mengatakan, penanaman tersebut tidak berhenti sebagai simbol kegiatan, tetapi harus dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pemantauan secara berkelanjutan melalui kerja sama lintas pihak.
“Penanaman ini bukan sekadar penanda kegiatan, melainkan komitmen agar pemulihan dilanjutkan melalui pemeliharaan, pemantauan, dan kerja bersama lintas pihak,” katanya.
Upaya pencegahan kebakaran juga dilakukan dengan memasang papan imbauan di tiga titik strategis sepanjang jalur pendakian. Papan tersebut mengingatkan pendaki agar tidak membuat api unggun, tidak membuang puntung rokok, serta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api.
“Papan tersebut menjadi pengingat permanen bagi setiap pengunjung untuk tidak membuat api unggun, tidak membuang puntung rokok, serta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api,” ujar Jumadi.
Menurutnya, langkah pencegahan sangat penting karena penanganan kebakaran di kawasan pegunungan memiliki tantangan tersendiri akibat medan yang sulit dijangkau.
Tahun ini, Ekspedisi 81 melibatkan sekitar 500 peserta dan unsur pendukung dari 41 entitas yang mewakili sembilan unsur. Mereka berasal dari instansi pemerintah, TNI-Polri, pecinta alam dan Pramuka, pendaki perempuan, mahasiswa dan pelajar, relawan, lembaga swadaya masyarakat, media, hingga dunia usaha.
Peserta juga datang dari 16 provinsi, yakni Bali, Banten, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Utara.
“Kehadiran lintas daerah ini memperlihatkan Jawa Timur sebagai ruang temu nasional bagi gerakan konservasi, persaudaraan, dan patriotisme ekologis,” terang Jumadi.
Gunung Arjuno dengan ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut merupakan salah satu penyangga ekologi penting di Jawa Timur. Kawasan tersebut memiliki fungsi strategis dalam menjaga keanekaragaman hayati, tata air, tanah, serta menopang kehidupan masyarakat.
Jumadi mengatakan, menjaga Gunung Arjuno berarti turut menjaga daya dukung lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan air, pangan, dan mitigasi bencana di Jawa Timur.
Komitmen perlindungan kawasan juga diperkuat melalui dukungan Bank Jatim berupa satu unit kendaraan Hilux double cabin kepada UPT Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Kendaraan tersebut akan digunakan untuk mendukung patroli dan respons cepat pengendalian kebakaran hutan.
“Kendaraan ini akan mendukung patroli dan respons cepat pengendalian kebakaran hutan, sebagai wujud kolaborasi pemerintah daerah, BUMD, dunia usaha, TNI-Polri, perguruan tinggi, komunitas, media, dan relawan,” terang Jumadi.
Sementara itu, upacara kemerdekaan di Pasar Dieng sendiri dipimpin Brigadir Jenderal TNI Dr. Singgih Pambudi Arinto, M.M., M.Han., Kapok Sahli Kodam V/Brawijaya. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembentukan formasi angka 81, pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 81 meter menuju Puncak Arjuno, pembersihan jalur pendakian, serta aksi konservasi.
Semangat kemerdekaan juga dikibarkan secara serentak melalui upacara di lima puncak bukit dengan jalur pendakian pendek di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo, yakni Lincing, Watu Jengger, Semar, Pundak, dan Cendono. Sekitar 650 peserta mengikuti kegiatan di lima titik tersebut.
Dengan demikian, lebih dari 1.100 orang bergerak dalam satu semangat kebangsaan di berbagai penjuru kawasan Tahura Raden Soerjo.
Khofifah menegaskan, menjaga lingkungan merupakan bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan dan membangun kemakmuran bangsa.
“Kedaulatan bukan hanya tentang menjaga batas wilayah, tetapi juga kemampuan menjaga sumber air, keanekaragaman hayati, pangan, dan ruang hidup bangsa. Kemakmuran harus dibangun dengan memastikan ekonomi dan ekologi berjalan searah,” tegasnya.
Sebelumnya, saat melepas Ekspedisi 81, Khofifah berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan jejaring relawan lintas provinsi dan generasi yang tidak hanya memiliki jiwa Merah Putih, tetapi juga menjunjung etika ekologis.
Menurutnya, keberhasilan ekspedisi tidak semata-mata diukur dari keberhasilan mencapai puncak. Keselamatan peserta, kawasan yang tetap bebas api, tidak adanya sampah yang tertinggal, serta keberlanjutan pemulihan ekosistem menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan.
“Inilah semangat memayu hayuning bawana-merawat keharmonisan dan keselamatan dunia. Jogo alas, jogo sumber banyu, jogo urip. Menjaga hutan berarti menjaga sumber air dan menjaga kehidupan,” pungkasnya. [ina.gat*]


