27 C
Sidoarjo
Tuesday, August 18, 2026
spot_img

Harjakasi Ke-208: Refleksi Sejarah Panjang dari Besuki, Panarukan hingga Situbondo

Situbondo, Bhirawa. – Suasana penuh syukur dan kegembiraan mewarnai peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) yang ke-208, Sabtu (15/8).

Dalam acara perayaan tersebut, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bersyukur atas pembangunan yang telah dicapai dan menikmati suasana kampung halaman tercinta.

    Acara peringatan ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) beserta istri, yang tampil anggun dan berwibawa mengenakan ragam pakaian adat Nusantara. Keberagaman pakaian adat ini menjadi cerminan persatuan di tengah keharmonisan masyarakat Situbondo.

    Dalam sambutannya, Bupati Situbondo, Mas Rio menyoroti sejarah panjang pembentukan kabupaten ini. Mas Rio mengingatkan kembali bahwa tonggak awal berdirinya kabupaten ini dimulai pada 15 Agustus 1818.

    Pada masa penjajahan Belanda tersebut, wilayah ini awalnya bernama Kabupaten Besuki. Sosok pertama yang dipercaya memimpin sebagai Bupati Besuki adalah Bambang Sutiknyo, yang merupakan keponakan dari Raja Sumenep, Pakunataningrat.

    “Tahun 1858, Besuki berubah nama menjadi Kabupaten Panarukan. Hal ini diiringi dengan perpindahan istana atau pendopo kabupaten dari Besuki ke pendopo yang ada di belakang kita saat ini,” ungkap Mas Rio.

    Nama Kabupaten Panarukan bertahan sangat lama, yakni sekitar 120 tahun, sebelum akhirnya pada tahun 1972 diubah menjadi Kabupaten Situbondo pada masa pemerintahan Bupati Tahir.

    Mendorong Literasi Sejarah Lokal
    Bupati menyadari bahwa nama “Panarukan” memiliki gaung sejarah yang jauh lebih besar di kancah nasional dibandingkan nama Situbondo saat ini.

    Berita Terkait :  Polda Jatim Sinergi Bersama Media Melalui Support Balai Wartawan Baru

    Hal ini dikarenakan nama Panarukan tercatat dalam buku-buku sejarah nasional, terutama terkait sejarah proyek Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan.

    Bupati Mas Rio bersama Forkopimda memeriahkan kirab Ancak Agung, salah satu rangkaian Harjakasi ke-208, Sabtu sore (15/8). sawawi/bhirawa Situbondo, Bhirawa. – Suasana penuh syukur dan kegembiraan mewarnai peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) yang ke-208, Sabtu (15/8).

    Mas Rio menceritakan pengalaman pribadinya saat berada di luar daerah, seperti Jakarta. “Ketika disebutkan nama Situbondo, orang sering kali geleng-geleng dan harus membuka Google untuk mencari tahu lokasinya. Tetapi begitu saya sebut Situbondo adalah Panarukan, orang tersebut langsung tahu,” jelasnya.

    Untuk melestarikan sejarah besar tersebut, Bupati secara khusus mengundang pegiat literasi Situbondo. Beliau mendorong seorang penulis lokal, Mbak Saniya, untuk menggali chemistry sejarah dan menulis sebuah novel tentang Jalan Raya Anyer-Panarukan.

    “Harapannya, dalam satu hingga tiga tahun ke depan, karya sastra tersebut dapat lahir dan memperkaya literasi sejarah bagi generasi muda Situbondo,” ungkap Mas Rio. [adv.awi]

    Berita Terkait

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    spot_img

    Follow Harian Bhirawa

    0FansLike
    0FollowersFollow
    0FollowersFollow

    Berita Terbaru

    error: Content is protected !!